Wajit mak Tinah (dokpri)
Wajit sebagai makanan tradisional masih menjadi primadona, apalagi di tempat tinggal Mak Tinah. Wanita paruh baya itu masih setia menjadi pengrajin kue-kue tradisional. Di beberapa kesempatan, ia diminta membuat olahan tradisional untuk keperluan hajatan dan momen besar lainnya.
Beberapa hari menjelang lebaran, biasanya orang-orang sibuk membersihkan rumah, mempersiapkan makanan dan pakaian untuk hari raya. Selain karena dianjurkan untuk berpenampilan rapi dan bersih di hari raya nanti, orang-orang biasanya akan saling mengunjungi rumah kerabat. Tidak heran, di setiap rumah pasti ada makanan lebih saat hari raya, biasanya setiap keluarga punya penganan khas lebaran masing-masing di rumahnya.

Karena bersilaturahmi adalah salah satu alasan akan datangnya kerabat ke rumah. Hal ini embuat banyak ibu membeli dan membuat makanan serba banyak saat hari raya. Sebab, di hari itu juga kita akan saling mengunjungi dan membawa makanan sebagai oleh-oleh.
Mulai dari kue kering, kue basah, makanan ringan serba pedas, bolu, makanan manis dan asin yang dengan banyak ragamnya, dan lain sebagainya. Banyak ibu yang memutuskan untuk membuatnya sendiri di rumah. Meski menyita waktu, tapi membuat makanan sendiri dianggap lebih hemat daripada membeli.
Salah satu ibu pembuat penganan lebaran itu adalah Mak Tinah, ia adalah wanita lanjut usia yang masih semangat dan antusias ketika anak dan cucunya datang mengunjunginya. Ia terbiasa membuat makanan khas lebaran lebih banyak bagi anak, cucu, dan kerabatnya yang tinggal di kota. Namun, alih-alih membuat kue kering seperti nastar dan lidah kucing, Mak Tinah lebih suka menyajikan makanan tradisional untuk kedatangan anak-anak dan kerabatnya.
Ia kerap menyajikan rempeyek sebagai menu wajib, rengginang yang tersaji beberapa toples, dan makanan lain yang dibungkus plastik untuk dibawa ke kota nantinya. Wajit untuk bersantai dengan keluarga dan ditemani teh tawar, atau ulen yang biasa dipakai cocolan kentang. Ia biasa mengerjakannya sendiri dan mempersiapkannya sejak jauh hari.
Warga lain di sekitar rumah Mak Tinah masih banyak yang belum menguasai, dan bahkan tidak mahir membuat makanan tradisional model ini. Disamping pembuatan dan bahan yang terbilang rumit juga memakan waktu, olahan-olahan tradisional yang dibuat Mak Tinah memang harus dibarengi dengan kesabaran. Seperti olahan tradisional kue Wajit kali ini, yang menguras tenaga dan kesabaran, beberapa tetangga menghampirinya untuk bergantian mengaduk adonan yang harus di bolak balik agar matang merata dan tidak gosong.
Hari ini, Mak Tinah memberitahu kerabat dan tetangga, kalau dia akan membuat Kue Wajit Labu untuk lebaran tahun ini. Tetangga lantas berbondong-bondong membantu dan menyumbangkan tenaga mereka hari itu. Ada ibu yang membantu mengaduk adonan Wajit yang telah ia racik sebelumnya, lalu masuklah dua orang baru ke dapur yang bersiap memindahkan wajan besar dan panas itu ke tempat yang lebih luas.

Biasanya Mak Tinah mengerjakannya sendiri, tapi kali ini ia dibantu banyak tetangga karena berencana membuat lebih banyak, sengaja untuk dikirimkan kepada salah seorang kerabatnya. Meskipun tengah hari dan bekerja sambil puasa, tapi tak menyurutkan semangat ibu-ibu tetangga Mak Tinah untuk membantu mengaduk, membungkus, dan menjemurnya. Anak muda harus banyak belajar darinya untuk meneruskan kemampuan membuat makanan tradisional semacam ini.
Memang, hari ini orang-orang banyak yang membantu, namun hanya membantu mengaduk dan membungkus. Untuk rincian takaran bahan yang pas itu hanya Mak Tinah yang tahu, orang-orang takut salah katanya, sebab untuk bahan sebanyak itu tak ada yang berani menakar sembarangan.
Mak Tinah ini, dari tahun ke tahun selalu tahan konsisten denga kebiasaan membuat kue tradisionalnya, dan ia biasanya membungkus dan menggantungnya di suatu ruangan pada tempat khusus jauh-jauh hari, untuk oleh-oleh katanya. Sebagai anak di generasi selanjutnya, anak dan kerabatnya hanya menikmati ‘Wajit Mak Tinah’ yang lezat itu, tanpa berpikir mau membuatnya sendiri, dan berharap Mak Tinah selalu sehat. Padahal, untuk menjaga lestarinya, dibutuhkan regenerasi dan improvisasi kue tradisional ini, keragaman rasa misalnya.

Kita baiknya, meniru resep dan segera mencatatnya baik-baik, supaya resep wajit dan makanan tradisional lain tidak hilang. Mak Tinah sering membuat wajit, dan tetangganya hanya membantu sebisanya saja. Semoga Mak Tinah panjang umur dan bisa menularkan semangatnya dalam membuat kue tradisional.
