“Tetangga adalah saudara terdekat.”
Kalimat itu selalu menempel di otak saya sejak kecil. Katanya meskipun tetangga adalah orang lain, tapi mereka adalah orang yang paling dekat. Bercengkrama dan kontak dengan kita di kehidupan sehari-hari.
Tetangga
Kehidupan yang lebih akrab dan erat melebihi kontak kita dengan saudara dan orang tua kita. Jika orang tua dan saudara tinggal di tempat jauh dari kita, tentunya tetangga adalah orang-orang yang menolong kita jika terjadi sesuatu. Namun, bagaimana jadinya jika tetangga yang seharusnya seirama dengan kita, justru menjadi beban untuk kehidupan kita?
Seakan-akan kita harus terus menjaga hatinya. Beberapa diantaranya ada orang yang meminta dimaklumi, atas sikap mereka yang mementingkan ego diri sendiri. Mereka tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.
Pemakluman
Contohnya sebuah kalimat yang sering dianggap sebagai pembelaan, tapi menurut saya hal ini adalah sebuah pengasingan diri dari lingkungan terdekat. Orang dipaksa untuk mengerti pada dirinya, tapi dirinya seringkali tidak bisa mengerti orang lain. “Saya seperti ini, suka hati saya berbuat apapun, orang lain harus ngerti dong, kan saya mah gini orangnya.”
Jika kalimat itu sering keluar dari mulut tetangga, kerabat, atau teman dekat. Saya merasa bahwa, justru mereka yang tidak bisa menjaga diri. Sebab dengan begitu, dia terus minta dimaklumi dan diakui.
Tanpa disadari, justru mereka yang kadang tidak bisa menerima sikap orang lain. Seperti tetangga yang bicaranya ceplas-ceplos, sering membicarakan keburukan tetangga lainnya, atau berbicara seenaknya. Terus minta dimaklumi, dengan dalih “Aku mah gini orangnya.”

Meminta orang kain memaklumi nada bicaranya yang tinggi, memaklumi mulutnya yang sering menyakiti dan membuat orang lain tidak nyaman. Sebenarnya hal itu tidak layak disebut sebagai pemakluman. Sehingga orang orang akhirnya kehilangan kepedulian, karena ia yang mudah marah, mudah tersinggung dan nerasa tersakiti.
Mencari Pengakuan
Mereka sebenarnya ingin mencari validasi atas perasaan mereka. Namun bagaimana cara lingkungan menjawabnya? Penulis banyak belajar melalui hal-hal sederhana di lingkungan terdekat.
Contohnya memahami karakter setiap orang di tempat tinggal. Jika dirasa negatif dan kurang pas untuk diri kita, baiknya kita cukup diam dan tidak banyak berkomentar, atas apa yang ia bicarakan. Kontak dengan orang seperti itu justru membutuhkan energi yang lebih, tampaknya jika energi itu dibuat untuk berdebat dan mendengarkan hal-hal kecil justru akan membuat tenaga kita terkuras habis dengan hal yang tidak penting.
Jika harus memilih, usahakan selalu abaikan mereka yang dianggap negatif. Jika memang kalimat atau sikap orang itu tidak sejalan dengan apa yang kita pikirkan, fokus saja hidup bertetangga, rukun dan damai. Ada kegiatan gotong royong terlibat, jika ada program iuran lingkungan segera tunaikan.
Kehidupan Kita Tanggung Jawab Kita
Karena kehidupan kita adalah tanggung jawab kita. Memilah dan memilih tetangga juga tanggung jawab kita. Jadi, jika kita terus-terusan mendengarkan kalimat-kalimat yang bukan faktanya, cepat atau lambat akan membuat kita jauh lebih stres dibuatnya.
Baiknya kita menarik diri dari lingkungan seperti itu. Yuk kita lebih bijak menjaga diri kita. Salah satunya dengan tidak mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak baik.
Menjaga perasaan tetangga, teman, dan kerabat kita bukan berarti mengutamakan perasaan orang lain sambil menyakiti diri sendiri. Tapi menjaga perasaan dan hati orang lain lebih baik daripada kita harus terus-terusan meminta maaf atas kesalahan yang dilontarkan oleh mulut kita. Mari kita sama-sama berempati untuk perdamaian yang lebih luas.
