Tulus menulis lagu berjudul Gajah, di tahun 2014. Tulus begitu dekat dengan Gajah, dan ia adalah salah satu selebriti yang mengkampanyekan kelestarian Gajah. Dari lagu Tulus berjudul Gajah itu, kita telah dibantu untuk mempelajari ketulusan hidup seekor Gajah.
Dulu saat pertama kali mendengarkan lagu berjudul Gajah yang dilantunkan oleh Tulus, penyanyi solo Indonesia. Rasanya dalam hati bertanya-tanya, apa sih maknanya? Lagu ini berkaitan dengan kehidupan seorang anak yang memiliki bentuk fisik berbeda dengan anak lain.
Seseorang yang lebih berisi, tegap, tambun, namun menggemaskan. Sayangnya, keunikan yang dimiliki oleh dirinya jadi bahan olokan oleh anak-anak lain. Dia dijuluki sebagai Gajah, karena tubuhnya yang tinggi besar.
Namun, sang anak melihat sisi positif dari olokan itu dan menjadikannya motivasi hidup. Gajah adalah mahluk Tuhan yang cerdas dan kuat, jadi ia ingin hidup bermental seperti Gajah. Dalam lirik lagunya, Tulus membalas penggambaran olokan itu dengan penuh kelembutan, dan semangat yang timbul secara perlahan.

Kau temanku, kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh, Gajah lain membantu
Tubuhmu di situasi rela jadi tamengku
Kecil kita tak tahu apa-apa
Wajar bila terlalu cepat marah
Kecil kita tak tahu apa-apa
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Sekarang, bagian dari penggalan video klip Tulus itu pelan-pelan menjadi kenyataan. Berbagai bencana di Sumatra membuat kita sadar, bahwa Gajah adalah hewan yang sangat baik, bahkan sepertinya mereka tercipta lebih baik daripada manusia. Bayangkan, rumah yang selama ini mereka tinggali, tempat berkumpul dengan keluarganya, juga tempat mencari makan tiba-tiba rusak.

Penampakan visual yang beredar di masyarakat sungguh menakutkan. Air datang menerjang rumah warga dan rusak dibuatnya, kayu yang terbawa air memperparah kerusakan di berbagai aspek. Setelah surut, lumpur yang tinggi dan telah kering, bercampur dengan tumpukan kayu bak benang kusut.

Dibalik bencana alam yang menimpa, ada oknum-oknum yang memperparah kejadian ini. Mereka yang memikirkan kepentingan semata, tanpa memikirkan ekositem dan mahluk yang hidup di sana. Dalam beberapa penggalan video, Gajah diperlihatkan sedang membantu manusia membereskan kayu yang bertumpuk.
Beruntung beberapa dari mereka ada yang masih hidup dan bertahan sampai sekarang. Bagaimana kalau ternyata kita benar-benar menyaksikan kepunahan mereka, apa jadinya jika anak cucu kita hanya melihat dari video dan penampakan visual hari ini. Gambar hewan berbelalai itu di Sumatra yang terlunta-lunta seusai bencana.
Mereka mungkin marah, sama seperti manusia yang kehilangan banyak hal, termasuk rumah. Mereka bahkan bisa jadi lebih dulu menyadari penyebab kerusakan besar ini. Tetapi hewan bertubuh besar tersebut memiliki mental yang tulus uraikan, mereka cerdas dan kuat, meski tertimpa musibah yang dahsyat.
Jelasnya, ini semua bukan hanya sekadar bencana alam. Ustaz Abdul Somad pernah menguraikan hal ini dalam ceramahnya dan menyatakan,
“Tuhan tidak pernah menurunkannya hujan bersama gelondongan kayu, Tuhan memberikan hujan untuk menumbuhkan kayu.”
Pernyataan itu juga bisa jadi jawaban, kalau banyak diantara kita yang memang benar-benar tidak peduli dengan alam. Tidak peduli dengan satwa, bahkan tidak peduli dengan manusia lainnya.
