Saya termasuk orang yang menyukai berbagai jenis tanaman—mulai dari sayuran, pohon buah-buahan, hingga rumput dan bunga. Terlebih lagi bunga-bunga seperti Wijaya Kusuma yang mampu menghadirkan warna-warni indah atau aroma yang khas di pekarangan rumah.
Pagi ini, saat membuka jendela dan mencium wangi lembut yang begitu familiar. Ternyata, bunga wijaya kusuma di pekarangan sedang mekar. Jenis yang saya miliki bukanlah bunga berukuran besar yang saat mekar bisa selebar piring, melainkan jenis sedang. Meski begitu, keindahannya tetap memikat. Saya pun segera mengabadikan momen tersebut, karena bunga ini dikenal hanya mekar pada malam hari dan akan kembali menutup ketika siang tiba. Beruntung, pagi itu saya masih sempat menyaksikan sisa-sisa keindahannya.

Bicara tentang bunga yang satu ini, ini sering dikaitkan dengan berbagai mitos. Banyak yang percaya bahwa mekarnya bunga ini merupakan pertanda keberuntungan, rezeki, dan kemakmuran. Bahkan, dalam cerita-cerita Jawa, wijaya kusuma kerap dihubungkan dengan kejayaan para raja. Tak heran jika banyak orang tertarik menanamnya di rumah.
Namun, saya pribadi tidak terlalu mempercayai mitos tersebut. Saya menanam wijaya kusuma semata karena menyukai keindahan bunganya, terutama ketika mekar bersamaan dalam jumlah banyak. Selain itu, tanaman ini juga tergolong mudah dirawat. Cukup dengan menanam potongan daun atau batangnya, wijaya kusuma sudah bisa tumbuh dengan baik. Tanaman ini juga tahan panas dan memiliki karakter mirip kaktus, sehingga tidak memerlukan perawatan khusus.
Bagi saya, “keberuntungan” yang sesungguhnya justru terletak pada kesempatan melihat bunga ini mekar secara langsung. Momen itu begitu singkat dan langka.
Saya masih ingat pengalaman masa kecil bersama adik sepupu. Kami pernah menunggu mekarnya wijaya kusuma berukuran besar di halaman rumah. Malam itu kami duduk sambil mengobrol, menanti saat-saat bunga tersebut membuka kelopaknya. Karena terlalu lama menunggu dan merasa haus, kami sempat masuk ke rumah sebentar untuk mengambil minum. Namun, saat kembali ke halaman, kami terkejut—bunganya sudah mekar sempurna. Padahal kami hanya pergi sebentar. Dari situ saya menyadari betapa cepat dan misteriusnya proses mekarnya bunga ini.

Mungkin itulah sebabnya orang yang berhasil menyaksikan proses mekarnya dianggap “beruntung”. Momen tersebut memang tidak mudah didapatkan.
Kini, dengan kemajuan teknologi, orang-orang bisa menyaksikan proses mekarnya wijaya kusuma melalui rekaman kamera yang dipercepat (time-lapse). Keindahan yang dulu sulit disaksikan secara langsung kini bisa dinikmati kapan saja.
Pada akhirnya, percaya atau tidak terhadap mitos wijaya kusuma sebagai pembawa keberuntungan kembali pada masing-masing individu. Namun bagi saya, yang terpenting adalah tetap meyakini bahwa keberuntungan, rezeki, dan kejayaan berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bagi siapa pun yang menyukai wijaya kusuma, tanaman ini sangat layak untuk dicoba. Selain indah, perawatannya pun sederhana—sebuah pengingat bahwa keindahan kadang hadir dari hal-hal yang tidak rumit.
