Berfoto Disela-sela Waktu Magang di Jepang (Sumber: Dokumen Pribadi/Annisa)
Dari Jagabaya ke Belanda, ada secarik kertas putih yang dilipat menjadi pesawat kecil berisi cita-cita meraih pendidikan tinggi, terbang bersama Annisa Islamiati. Seorang anak muda yang menginspirasi. Ia berasal dari Desa Jagabaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis.
Annisa seakan membuka mata kita, bahwa menjadi manusia berpendidikan tidak hanya harus bermasyarakat. Melainkan lebih dari itu, mereka harus berani membangun keinginan diri untuk berdaya, bermanfaat dan menjadi sesuatu di masyarakat itu sendiri. Annisa, adalah seorang perempuan yang lahir dari keluarga sederhana di sebuah desa bernama Jagabaya.

Banyak yang bisa dipelajari dari perjalanan hidup seorang Annisa Islamiati yang penuh perjuangan, tekad, dan inspirasi.
1. Bersungguh-sungguh Saat Sekolah
Annisa menamatkan Sekolah Dasar di SDN 1 Jagabaya, lalu melanjutkan Sekolah Menengah Pertama ke SMPN 1 Panawangan. Dan memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke SMK 13 Bandung. Annisa selanjutnya berkesempatan untuk berkuliah di Universitas Jenderal Soedirman.
Memiliki cita-cita dan mimpi yang besar sejak Sekolah Dasar, perlahan Annisa belajar mencari jati dirinya sejak menginjak bangku SMP. Saat bersekolah, ia bertekad belajar sekerasnya hingga berhasil menjadi anak berprestasi. Annisa membuktikannya dengan masuk kedalam daftar murid kelas unggulan sewaktu duduk di kelas 8.
2. Membangun Mimpi
Annisa rajin sekali membaca, sehingga mimpinya itu sendiri terinspirasi dan terbangun dari bacaan-bacaannya. Mimpi yang ia sedang bangun sekarang, awalnya muncul dari satu buku yang berjudul ‘Sang Pemimpi’ karya Andrea Hirata. Buku itu masih menjadi pemantik semangat Annisa untuk merajut harapan demi harapan.
Annisa selalu terpacu untuk membahagiakan orang tuanya, ia ingin membuktikan bahwa rasa bahagia itu bisa datang dari kesungguhan yang ia lakukan. Mengawalinya dengan melanjutkan bersekolah ke SMK 13 Bandung, dimana disana ia mengambil jurusan Analis Kimia. Menjadi seorang Analis Kimia, masih terdengar seperti hal kecil nan mustahil, juga sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh teman-teman sebaya di kampungnya.

3. Kegigihan
Semangat belajar dan pantang menyerah yang ia punya, membuat Annisa tidak bisa diremehkan di sekolahnya saat itu. Kehidupan dengan label siswa SMK, membuatnya merasakan tekanan yang tidak biasa. Bahkan, banyak pertanyaan di luar sana, “Setelah ini apa yang akan dilakukan? Untuk apa keahlianmu? Diterapkan di mana?”
Tapi, diri dan pikiran Annisa tidaklah sekecil itu. Baginya ini adalah jalan yang besar dan ia sangat berani membuktikan kalau langkahnya tidak salah. Annisa tidak pernah menggunakan waktunya dengan sia-sia saat sekolah, Ia menggunakan waktunya dengan ikut ekstrakurikuler.
Saat SMK dulu, Annisa sempat dinasihati oleh orang tuanya, diamanatkan, dan diberi penjelasan atas keterbatasan dukungan yang bisa orang tuanya berikan mengenai alokasi dana pendidikan yang mereka punya. Mengingat Annisa adalah anak sulung, lantas ayahnya memberitahu batasan-batasan yang sudah ada. Orang tua Nisa adalah seorang pedagang, dan sempat berujar,
“Teh, bapak cuma bisa sekolahin kamu sampai SMK, kalau teteh bisa cari beasiswa kuliah, Insyaallah untuk sehari-hari bapak usahakan selalu terpenuhi.”
Dari sana Nisa terpacu untuk mencari informasi beasiswa dari alumni, yang sudah kuliah di kampus bergengsi impian teman-temannya. Saat itu Annisa sama sekali tak memiliki standar kampus, karena menyadari, ia harus menyesuaikan dengan batas-batas yang orang tuanya utarakan. Akhirnya Annisa mencari informasi Bidikmisi, dan ternyata Annisa berjodoh dengan Universitas Jenderal Soedirman.

4. Tekad yang Kuat
Annisa berniat bersungguh-sungguh mengawali kuliah dengan menyibukkan diri sejak awal semester. Annisa memutuskan untuk menjalaninya dengan kesungguhan, menyibukkan diri dengan sesuatu yang dia sukai sambil membangun dirinya. Namun Annisa masih bisa menikmati hobinya dengan membaca buku, bepergian, dan menonton film.
Saat kuliah itu pula, Annisa merasakan bahwa pemilihan tempat berteman dan lingkungan belajar adalah cara terbaik untuk menginvestasikan diri. Terbukti setelah ia bergabung dengan teman-teman peneliti dan mengikuti banyak kompetisi internasional, ia merasakan hal itu sangat berdampak bagi dirinya.
Setelah melibatkan diri dalam banyak penelitian dan mengikuti program magang di Jepang, mengakibatkan kelulusan Annisa tertunda. Tapi Annisa, tak pernah merasa tertinggal. Justru ia perlahan menemukan jalan pembuka bagi cita-cita yang selama ini ia tekadkan, yakni menjadi peneliti.

Mengikuti kompetisi internasional, magang di Jepang, dan melakukan penelitian di Petrokimia Gresik, lantas belum membuat Annisa merasa puas. Di sana Annisa mencari relasi dan mencari banyak celah untuk mencari tujuan ke mana mimpinya harus diarahkan. Jalan-jalan kecil itu adalah pemantik semangat untuknya mencari banyak jalan yang semakin lebar, dan mencapai kehidupan yang ia mimpikan selama ini.
Ditengah penyusunan skripsi, Annisa berjumpa dengan salah satu teman yang diterima di LPDP. Salah satu teman menceritakan bahwa ada satu jalur bernama Afirmasi Prasejahtera di mana syaratnya adalah Kepala Keluarga peserta harus terdaftar sebagai penerima bantuan sosial. Annisa memang berangkat dari keluarga yang biasa saja, ia sungguh-sungguh mencari beasiswa dan ingin mewujudkan mimpinya.

5. Investasi Diri Adalah Terus Belajar
Namun saat itu, ada satu hal yang menarik bagi Annisa, yakni urusan standar kemampuan berbahasa. Jika lulus TOEFL (Test of English Foreign Language) dengan skor tertentu, maka seseorang akan berkesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Teman-teman Annisa banyak menyarankan untuk segera mengisi kesempatan ini karena keterampilan bahasa Inggris dan Jepang Annisa cukup bisa diperhitungkan. Saat itu skor TOEFL yang diraih oleh Annisa masuk dalam kriteria dan bisa ikut tes LPDP melanjutkan program S2 ke luar negeri.
Saat memberitakan ini kepada keluarganya, Annisa sempat disepelekan keluarga. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat Annisa untuk tetap bersekolah ke luar negeri. Lagi pun selagi dirinya semangat, dan orang tuanya mendukung, Annisa percaya bahwa Tuhan juga ada bersamanya.
Saat orang lain hanya bermimpi untuk berkuliah ke luar negeri, Annisa merasakan bahwa ia justru berada satu langkah lebih dekat. Annisa melihat bahwa melalui program Afirmasi Prasejahtera ini, Annisa bisa mewujudkan mimpinya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, ia akan menjalani perkuliahan dengan bersungguh-sungguh di Belanda, tepatnya ia akan menjalani perkuliahan di WUR (Wageningen University and Research), Universitas yang berfokus pada teknik, pertanian, dan ilmu lingkungan.

Kesempatan berkuliah di tempat yang banyak diimpikan oleh mahasiswa lain adalah sesuatu yang tak terbayar dengan apapun. Annisa menjalaninya dengan tekad, kemauan, rajin, dan konsisten menjalani sesuatu. Annisa menjalani S1 dengan beasiswa Bidikmisi, dan menjalani S2 melalui jalur Afirmasi Prasejahtera.
Annisa menganggap ini adalah salah satu cara ia menikmati Underpriviledged yang ia punya. Jika menurut orang lain ayahnya adalah penerima bansos di desa, justru label itulah yang ia bisa angkat untuk memberitahu dunia. Bahwa anak seorang pedagang bisa menjadi seseorang, yang orang lain lihat.
Annisa ingin membuktikan bahwa caranya berkuliah melalui program bantuan itu tidak salah. Ia ingin sekali menularkan semangat ini kepada anak daerah, untuk bisa memperoleh pendidikan dengan cara yang lebih mudah. Annisa juga ingin mengubah stigma di desa bahwa sukses dan berinvestasi bukan hanya memiliki harta.
Menurutnya, pendidikan adalah pencapaian dan investasi orang tua yang sangat berharga. Harta bagi Annisa adalah pendidikan dan proses berpendidikan yang selalu didukung oleh orang tuanya. Beruntung, orang tua Annisa punya harapan dan kemajuan berpikir yang sama, meski mereka sangat sederhana.
Orang tua Annisa percaya bahwa investasi terbaik mereka bukan pada berapa banyaknya harta. Tapi investasi sesungguhnya dari orang tua adalah anak hasil pendidikan dan tumbuh dengan kasih sayang. Annisa sejauh ini sangat merasakan dukungan yang ekstra dari orang tuanya.
Annisa sangat mempercayai bahwa investasi pendidikan adalah sesuatu yang sangat berharga dan tak ternilai.
