Ilustrasi gambar: Asal Mask/unsplash
Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anak. Tidak pula ada orang tua yang ingin menyakiti anaknya. Semua berangkat dari satu niat yang sama: sayang. Namun, tidak semua bentuk kasih sayang berbuah kebaikan. Kadang, justru karena terlalu sayang, orang tua terjebak pada cara mendidik yang keliru. Kita ingin anak bahagia hari ini, tetapi lupa menyiapkan mereka untuk hari esok.
Mendidik anak sejatinya bukan hanya tentang membuat mereka nyaman, melainkan membekali mereka agar kuat menghadapi hidup. Sebab dunia di luar rumah tidak selalu ramah, dan anak yang tidak dilatih sejak kecil akan mudah rapuh ketika dewasa.
Kasih Sayang yang Membuat Anak Kehilangan Disiplin
Ada orang tua yang enggan membangunkan anak untuk salat Subuh karena merasa kasihan mengganggu tidurnya. Apalagi saat libur sekolah, anak dibiarkan bangun siang dengan alasan “biar puas istirahat”.
Padahal, kebiasaan bangun pagi bukan semata soal rutinitas, tetapi latihan kedisiplinan. Anak yang dibiasakan bangun pagi untuk salat dan melakukan tugas-tugas ringan akan belajar bahwa hidup memiliki tanggung jawab, bahkan sejak dini.
Libur sekolah bukan berarti libur dari kebiasaan baik. Justru di sanalah karakter dibentuk: ketika tidak ada paksaan jadwal sekolah, tetapi anak tetap belajar mengatur waktu dan kewajiban.
Ketika Kasih Sayang Membuat Anak Tidak Berdaya
Bentuk lain dari kasih sayang yang keliru adalah menyuapi anak terus-menerus hingga mereka terbiasa tidak makan sendiri. Awalnya tampak sepele: agar cepat habis, agar tidak berantakan, agar tidak repot. Namun tanpa sadar, anak tumbuh dengan ketergantungan.
Ada anak yang sudah besar tetapi tidak tahu cara menyiapkan makanan. Bahkan sekadar menggoreng telur atau menyeduh minuman pun tidak bisa. Ketika kelak hidup mandiri atau berumah tangga, hal ini menjadi beban, baik bagi dirinya maupun orang lain.
Padahal makan sendiri bukan hanya soal kemandirian fisik, tetapi latihan tanggung jawab: mengambil makanan, menghabiskannya, dan membersihkan sisa-sisanya.
Anak yang Terlalu Dilayani Akan Takut Hidup
Ketika anak selalu dilayani dalam segala hal—dipakaikan baju, dibereskan tasnya, diselesaikan masalahnya—maka anak kehilangan kesempatan belajar. Ia tumbuh menjadi pribadi yang manja, mudah mengeluh, dan tidak tahan menghadapi kesulitan.
Sedikit lelah membuatnya menyerah. Sedikit masalah membuatnya menangis. Sedikit gagal membuatnya merasa dunia runtuh.
Bukan karena anak lemah, tetapi karena ia tidak pernah dilatih menjadi kuat.
Mendidik Bukan untuk Mengikat, Tapi Melepas
Seharusnya orang tua bukan memanjakan, melainkan menyiapkan. Karena sejatinya menumbuhkan anak adalah mempersiapkannya agar suatu hari mampu berdiri tanpa kita.
Anak bukan untuk selamanya berada dalam dekapan. Mereka akan pergi ke sekolah, bekerja, menikah, dan menjalani hidupnya sendiri. Jika sejak kecil tidak diajarkan mandiri, bagaimana mungkin mereka siap menghadapi dunia yang keras?
Menyuruh anak membereskan tempat tidur, mencuci piring sendiri, bangun pagi, atau makan tanpa disuapi mungkin terasa “tidak tega”. Tetapi justru di sanalah letak cinta yang sebenarnya: cinta yang melatih, bukan memanjakan; cinta yang menyiapkan, bukan melumpuhkan.
Penutup: Kasih Sayang yang Membangun
Menyayangi anak bukan berarti menghilangkan semua kesulitannya. Menyayangi anak adalah menemani mereka belajar menghadapi kesulitan.
Bukan berarti tidak boleh membantu, tetapi tahu kapan harus membiarkan mereka mencoba. Bukan berarti tidak boleh memanjakan sesekali, tetapi jangan menjadikannya kebiasaan.
Karena anak yang dibesarkan dengan disiplin dan kemandirian mungkin tidak selalu merasa nyaman hari ini, tetapi kelak ia akan berterima kasih:
telah disiapkan untuk hidup, bukan hanya disenangkan di rumah.
