Ibuku Terus Menangis

Ibuku terus menangisi
Sumber gambar, unspash/Sage Friedman

Seharian ini, ibuku terus menangis. Tangisan yang sebenarnya sudah sangat lama hilang dari pelupuk matanya. Aku menjadi takut. Trauma berat, karena dulu semenjak aku kecil, ibuku pernah mencoba membunuh dirinya sendiri dengan menghunuskan pisau dapur yang baru beberapa hari dibelinya dari supermarket.

Masih terbayang. Bilah pisau itu sangat mengkilap.

“Pisau ini tajam ya, Nak,” kata ibu seraya membelah-belah daging sapi untuk pertama kali.

Ibuku memang tidak suka daging sapi. Apalagi memasaknya. Ibuku alergi baunya sampai suka muntah-muntah jika sudah tidak kuat.

Kali itu, ibuku tampak biasa. Menggunakan masker tanpa muntah-muntah. Ia memotong daging merah itu dengan sangat tenang, tetapi tatapan matanya kulihat ganjil.

Read More

Ibuku menyuruhku untuk pergi main, ke rumah Dani teman sekelas di Sekolah Dasar.

“Kamu main saja sana, biarkan ibu selesaikan masakannya,” kata ibuku tanpa melihat wajahku.

Tanpa sengaja, aku menangkap bulir air mata di mata ibu. Namun akhirnya aku memilih untuk meninggalkan ibu. Mungkin ibu sedang ingin sendiri, semoga dengan memasak kesedihan ibu jadi sembuh, walaupun aku sangat ragu jika ibu benar-benar bisa menyelesaikan masakannya tanpa rasa mual yang hebat.

Satu jam lebih, aku main di rumah teman. Sudah saatnya solat asar. Waktunya pulang, mandi dan pergi ke masjid.

Namun alangkah kagetnya, ketika aku masuk ke rumah, rumah sagat sepi. Tidak kudengar suara-suara di dapur. Aku pun tidak menemukan ibuku lagi.

Aku memanggilnya, tidak ada jawaban. Lalu aku berjalan ke arah kamar mandi dan berniat mengambil handuk bersiap mandi.

Sayup-sayup terdengar suaranya sedu sedan. Kulihat ibuku sedang bersimpuh di lantai. Kepalanya menunduk, tubuhnya bersandar ke sisisan ranjang tempatnya tidur. Bahunya berguncang hebat.

Seketika napasku terasa mendadak berhenti, terhenyak, kaget bukan kepalang. Ketika kulihat sebilah pisau digenggam erat di tangan kanan siap menghunus ke arah perutnya.

“Ibu,” bisikku. Suaraku nyaris tidak terdengar. Aku tidak sanggup melihatnya.

Ibuku beringsut merapikan duduknya. Tangannya yang menggenggam pisau perlahan berubah posisi. Ibu meletakkan pisau di lantai dengan tangan gemetar.

Lalu, “kamu sudah pulang, Nak?”

Suaranya bergetar. Tangannya sibuk menyeka aliran air mata di pipinya. Aku tahu, ibu menahan sedih sekuat tenaga.

Aku coba mendekati ibuku. Perlahan menjauhkan pisau itu dengan susah payah dan perasaan takut yang tidak bisa kubayangkan. Saat itu, aku masih kelas satu SD.

Aku berhambur ke pelukan ibu. Memeluknya erat-erat. Tangisku pecah. Ibu pun menangis pilu. Bahunya kembali berguncang hebat.

Samar terdengar ibu mengatakan sesuatu di tengah isak tangisnya, “maafkan ibu, maafkan ibu…”

Aku yang tidak paham kenapa ibu terus menerus meminta maaf hanya bisa mengangguk, mengiyakan.

Kala itu, aku berpikir, ibu meminta maaf karena sudah main pisau, berbahaya.

Kini, tahun berlalu, aku sudah hampir lulus dari SMP. Di usiaku yang masih terbilang muda, keadaan telah membuatku mengerti sebelum waktu seharusnya. Aku melihat ibu menangis setiap hari. Beberapa kali melihat ia memainkan pisau, sampai pada akhirnya aku paham, ibu menangis karena bertengkar dengan ayah.

Ayah yang terlalu keras, memaksa ibu untuk berubah dari biasanya. Ayah tidak bisa menerima keadaan ibu yang belum bisa mengikuti cara ibadah ayah.

Ayah selalu marah besar jika ibu melakukan kesalahan. Tata cara ibadah yang sebenarnya baru ayah pelajari, dan ibu belum terbiasa melakukannya. Ayah akan sangat mudah mencaci maki ibu, seolah ibu adalah manusia paling bodoh yang bisa dibentak-bentak dan ditunjuk-tunjuk dengan telunjuk ayah saat marah.

Aku sendiri tidak terlalu paham. Mengapa ayah semarah itu. Aku yang saat itu belum mengerti soal ini ibadah secara benar, merasa bingung apa salah ibu, dan kenapa aya begitu marah.

Belum lagi, ayah mendadak tidak membolehkan ibu bekerja. Padahal waktu itu ibu bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Ayah juga tidak membolehkan ibu berfoto. Apalagi jika hasil fotonya ada laki-laki. Ayah tidak bisa terima alasan apapun yang dilontarkan ibu.

Jika ibu menjawab saat ayah sedang marah, maka ayah akan membentak ibu lebih keras, dan ibu bisa bisu berhari-hari.

Kejadian-kejadian itu terekam di kepalaku. Sampai saat ini aku kurang bisa akrab dengan ayahku sendiri. Sejak melihat ibu sering tersakiti aku merasa tidak punya simpati pada ayah. Walau aku tahu, ayah adalah ayah kandungku sendiri.

Sampai akhirnya ayah memutuskan untuk melepaskan ibuku. Ayah pergi malam hari meninggalkan kami. Ayah sempat memeluk erat ibu dan memeluk aku sambil berlinang air mata.

“Maafkan ayah, nitip ibu, jaga dia ya!” ucap ayah sebelum pamit.

Waktu itu aku tidak mengerti. Kenapa ayah menitipkan ibu padaku sementara ia pergi meninggalkan kami.

“Ayah pindah tempat tinggal biar lebih dekat dengan tempat kerjanya,” kata ibu ketika aku bertanya ayah kemana.

Aku tahu ibu sedang berbohong, dan aku berusaha untuk terlihat percaya agar ibu senang.

Susah payah, usaha ibu untuk membesarkanku tanpa ayah membuat ibuku menjadi perempuan yang keras. Kadang aku merasa kalau ibu telah terlalu keras pula padaku. Hanya satu yang aku tahu, sekesal apapun ibuku tidak pernah memarahiku dengan kata-kata kasar apalagi sampai main tangan. Ibu hanya memperlakukanku dengan keras, mengharuskanku disiplin, bangun lebih lagi, masak sendiri saat lapar, dan berusaha menyelesaikan tugas-tugasku sendiri tanpa terlalu banyak meminta bantuan.

Pernah aku merasa sedih, saat orang lain dimanjakan dengan kasih sayang dan perhatian di usia kecil, aku harus membantu ibu berjuang keras menaklukkan kejamnya hidup. Aku harus memaksa diri agar tidak merepotkan ibu.

Ya, ibuku yang berdiri, tersenyum, dan menjalani hari-hari saja sudah sangat berat. Aku tidak mau membebaninya lagi dengan rengekan dan sikap manjaku.

Terakhir aku melihat ibu menangis adalah ketika mendengar kabar bahwa ayah telah menikah dengan perempuan lain tepat lima bulan setelah proses perceraian selesai dari pengadilan.

Ibuku sangat terpukul. Beberapa hari ia tidak mau bicara. Bahkan makan pun enggan.

Aku yang masih kecil, hanya bisa melihat kepura-puraan ibu saat berusaha tegar dan tersenyum ketika menemani aku bermain lego atau bermain kartu uno.

Setelah ayah mengirimkan pesan yang berisi kabar bahwa ia sudah menikah lagi, lalu ibu mendapatkan foto pernikahan mereka dari tanteku, ibu kembali bisu berhari-hari.

Setelah perlahan sembuh, ibu tidak pernah terlihat menangis lagi. Sampai belakangan aku baru paham, mungkin itu yang namanya mati rasa. Ibuku sudah tidak lagi merasakan sakit. Karena hatinya sudah mati oleh rasa sakit yang bertubi-tubi.

Hari ini, delapan tahun kemudian, aku kembali melihat ibu menangis seharian. Aku terus mengawasi ibu tanpa berani bertanya, “ada apa?”

Yang aku takutkan, ibu sakit lagi. Main pisau lagi. Lalu terjadi hal-hal yang tidak pernah aku inginkan.

“Bu, apakah ibu mau berbagi cerita dengan aku?”

Akhirnya kalimat itu berhasil meluncur dari lisanku.

Ibu menggeleng, bibirnya tersenyum; dipaksakan.

“Ibu tidak apa-apa. Hanya sedang merasa sedih,” jawabnya.

Tanpa bisa aku menerka-nerka ibu kenapa, aku tidak berhenti berdoa. Semoga ibuku baik-baik saja dan mendapatkan yang terbaik dari Allah. Aku tidak sanggup lagi jika harus melihat penderita ibu yang aku saksikan bertahun lamanya.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada ibuku. Membuatnya sehat, baik raga maupun rasanya.

Dalam hati, aku bertekad. Sebagai lelaki, aku tidak ingin menyakiti hati perempuan. Terutama ibuku.

“Bu, jangan nangis lagi. Aku ingin melihat ibu bahagia,” batinku.

Bersambung ke part 2

 

 

 

 


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *