Idul Adha adalah salah satu hari raya yang dianugerahkan kepada umat Islam. Hari Raya yang jatuh setiap tanggal 10 Zulhijah ini merupakan momen penting yang tidak hanya dirayakan dengan menyembelih hewan kurban baik itu sapi atau domba, tetapi juga menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan makna terdalam dari pengorbanan, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah SWT. Selain itu, Hari Raya Idul Adha juga bertepatan dengan kegiatan ibadah haji, ketika jutaan Umat Muslim sedunia berkumpul dalam semangat keimanan yang sama di Mekah Al Mukaromah, dan satu hari sebelumnya semua melakukan wukuf di Arofah sebagai salah satu rukun haji.
Sebagai seorang muslim, Hari Raya Idul Adha ini mengajak kita untuk meneladani keteguhan iman Nabi Ibrahim, kesabaran Nabi Ismail, dan keikhlasan Siti Hajar. Melalui tulisan singkat ini, mudah-mudahan kita khususnya penulis dapat semakin memperdalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. dan menghidupkan kembali nilai-nilai tauhid dalam kehidupan sehari-hari.
Ketaatan Mutlak kepada Allah SWT
Kisah Nabi Ibrahim yang melalui mimpi diperintahkan untuk mengorbankan putra tercintanya, Ismail, adalah ujian keimanan yang paling berat. Namun, dengan keyakinan penuh bahwa perintah Allah adalah yang terbaik dan merupakan ujian ketaatan dan kesetiaan kepada-Nya. Nabi Ibrahim dan Ismail kecil waktu itu menaatinya tanpa keraguan. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya:
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Peristiwa ini merupakan bagian penting dalam sejarah umat muslim di dunia dan menjadi dasar ikhwal dari ibadah kurban yang kita laksanakan setiap tahun. Waktu itu, Nabi Ibrahim, bersama Nabi Ismail yang masih belia telah sama-sama bersiap untuk menaati perintah yang Allah berikan melalui mimpi Nabi Ibrahim. Keduanya menaati tanpa setitik pun keraguan, selain berserah diri dan menyadari bahwa ini adalah bukti ketaatan kepada Sang Khalik.
Ketika Nabi Ibrahim hendak menggerakkan pedangnya, Allah menggantikan tubuh nabi Ismail dengan seekor domba putih yang besar, putih bersih tanpa cacat. Sesuai dengan firmannya:
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Sebagai seorang muslim tentu kita mengetahui cerita ini dari membaca dan mendengar dari guru ngaji, khatib, ataupun media lain. Nabi Ismail yang kala itu masih belia, sudah dengan taat, teguh, kukuh, dengan segala kesabarannya berpasrah diri terhadap ketentuan yang Allah berikan, menjadi kurban. Lalu sejauh mana ketaatan kita kepada Allah? Apakah kita masih sering mempertanyakan perintah-Nya atau mengutamakan hawa nafsu? Hari Raya Idul Adha mengingatkan kita bahwa keimanan yang sebenarnya terlihat ketika kita mendahulukan rida Allah di atas segalanya.
Makna Pengorbanan yang Hakiki
Setiap tahun pada Hari Raya Idul Adha tiba kita disibukkan dengan momen berkurban. Jauh-jauh hari sebelumnya, spanduk terpasang di hampir setiap masjid yang berdiri, menyerukan bahwa mereka menerima penitipan hewan kurban. Di pinggir-pinggir jalan bermunculan para pedagang hewan kurban dadakan, umumnya yang dijual adalah kambing atau domba. Hal ini menjadi sebuah ritual tahunan. Akan tetapi tent saja berkurban bukan sekadar ritual tahunan saja tetapi simbol kepasrahan dan kesediaan untuk “merelakan” sesuatu yang kita cintai demi Allah. Sebagaimana Nabi Ibrahim rela mengorbankan Nabi Ismail yang waktu itu masih belia, kita pun diajak untuk mengorbankan waktu, harta, dan ego demi ketaatan kepada-Nya.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi)
Lalu, apa yang sudah kita korbankan untuk mendekatkan diri kepada Allah? Apakah harta, waktu, atau kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkan?

Kesabaran dan Tawakal dalam Ujian
Selain kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Idul Adha juga mengingatkan kita pada perjuangan Siti Hajar yang berlari antara bukit Shafa dan Marwah mencari air untuk Nabi Ismail yang kala itu masih bayi. Perjuangannya adalah simbol kesabaran dan tawakal, yang akhirnya dibalas Allah dengan dikeluarkannya mata air zamzam dari tempat kaki Nabi Ismail menendang-nendang tanah ketika menangis.
Allah Swt. berfirman:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Dalam kehidupan modern, seringkali kita diuji dengan masalah ekonomi, kesehatan, atau hubungan sosial. Idul Adha mengajarkan bahwa setiap kesulitan akan memberikan hikmah, asalkan kita sabar, yakin akan pertolongan Allah dan menerimanya dengan lapang dada sebagai salah satu bukti berserah diri kepada Sang Khalik.
Solidaritas dan Gotong Royong dalam Menyambut Idul Adha
Perayaan Hari Raya Idul Adha selalu dibarengi dengan pemotongan hewan kurban. Hingga seringkali juga disebut dengan Idul Qurban. Hal ini tentu tidak bisa dilakukan sendiri. Di Indonesia biasanya prosesi ini sebagian besar diselenggarakan oleh masjid-masjid terdekat dengan kepanitiaan tersendiri. Panitia kurban sebagai bentukan dari Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat mulai memasang spanduk anjuran untuk berkurban, dan menginformasikan bahwa pada masjid tersebut menerima penitipan dan menyalurkan hewan kurban.
Hal ini tentu menjadi sebuah pelajaran yang hakiki juga bahwa seyogianya umat muslim itu satu. Bahwa secara lahiriah umat muslim adalah umat yang paling kuat ikatannya. Kita sering menyebutnya dengan ukhuwah Islamiah. Hal ini tentu dapat dilihat sejak dari dalam masjid ketika salat berjamaah ditunaikan, bukankah umat muslim itu selalu bersaf, berkumpul dalam kebaikan.
Ini pulalah yang terjadi ketika acara kurban diselenggarakan. Khususnya di tempat penulis tinggal, di luar kepanitiaan yang dibentuk oleh DKM, pada hari penyembelihan hewan kurban, warga masyarakat yang sedang luang waktunya tidak perlu lagi dikomando untuk membantu, akan tetapi berdatangan sendiri ke tempat penyembelihan dengan membawa peralatan masing-masing, membawa pisau, batu asahan, timbangan, tali tambang, bahkan makanan, minuman untuk dimakan bersama. Sungguh sebuah ikatan persaudaraan antar muslim yang sangat indah dan salah satu wujud dari beribadah kepada Allah Swt.
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw.
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR.Muslim)
Idul Adha juga mengajarkan pentingnya berbagi. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan warga sekitar untuk menguatkan tali persaudaraan. Rasulullah Saw. menekankan bahwa berkurban adalah bentuk kepedulian sosial.
“Makanlah, simpanlah, dan sedekahkanlah (daging kurban).” (HR. Bukhari-Muslim)
Dengan berkurban, kita diajak untuk peduli kepada tetangga yang mungkin saja tanpa sepengetahuan kita Ia kelaparan, peduli kepada saudara yang kesulitan, atau yatim piatu yang membutuhkan. Idul Adha adalah pengingat bahwa keimanan harus dibuktikan dengan aksi nyata. Bahwa Idul Adha adalah panggilan keimanan bagi setiap muslim yang mampu, agar mau dan “rela” mengorbankan sebagian hartanya untuk ikut berkurban.
Pada akhirnya, Idul Adha bukan hanya sebuah hari raya, tetapi titik balik untuk mengevaluasi keimanan dan momentum penyempurnaan iman. Saatnya kita mulai meneladani kembali ketulusan Nabi Ibrahim, kesabaran Nabi Ismail, dan kegigihan Siti Hajar. Dengan demikian, kurban kita tidak hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga “menyembelih” sifat tamak, egois, dan jauh dari Allah.
Semoga Idul Adha tahun ini membawa kita lebih dekat kepada-Nya dan menguatkan komitmen untuk hidup dalam ketaatan. Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H, semoga ibadah kita diterima Allah SWT.
