Diantika Irma Ekawati atau dikenal dengan nama Diantika IE bukan hanya seorang kepala sekolah, penulis, dan trainer. Ia adalah sosok yang menjadikan kepenulisan sebagai jalan sunyi untuk berbagi cahaya. Dalam sebuah sesi diskusi santai dan saintifik, Diantika membagikan kisah perjalanannya menulis—bukan sebagai profesi semata, melainkan sebagai bentuk kontribusi dan amal jariyah yang menembus ruang dan waktu.
Ia memulai menulis sejak kecil, dari puisi-puisi sederhana yang terpajang di mading sekolah hingga artikel profesional dan novel yang menyentuh jiwa. Novel “Handaru” menjadi salah satu karya yang paling menggambarkan kedalaman empatinya. Cerita tentang seorang lelaki yang tersesat dalam pergaulan bebas lalu kembali ke jalan spiritual, ditulis dengan begitu jujur dan menyentuh, hingga pembaca mempertanyakan apakah penulisnya benar-benar perempuan. Diantika IE menulis dengan hati, dan itu terasa dalam setiap kalimatnya.
Baginya, menulis bukanlah bakat, melainkan pilihan. Ia menekankan pentingnya membangun mindset positif: bahwa menulis itu semudah berbicara. Dengan teknik seperti “writing”, “ATM” (Amati, Tiru, Modifikasi), dan “main keping”, ia mengajak siapa pun untuk mulai menulis tanpa takut salah. Jangan buru-buru mengedit, katanya. Tumpahkan dulu isi kepala, baru kemudian disunting. Prinsip ini ia terapkan dalam pelatihan-pelatihan yang ia berikan, bahkan kepada ibu rumah tangga dan pedagang yang ingin memasarkan produk lewat tulisan.
Hambatan menulis, menurutnya, bukan hal yang asing. Rasa malas, buntu ide, dan writer’s block adalah tantangan yang bisa diatasi dengan membaca, berbincang, atau sekadar berjalan-jalan. Ia percaya bahwa ide ada di mana-mana, dan penulis yang baik adalah mereka yang peka terhadap kehidupan sehari-hari.
Sebagai ketua umum Komunitas Penulis Kreatif Indonesia, Diantika membuktikan bahwa menulis bisa menjadi ruang inklusif. Komunitas ini terbuka untuk semua genre dan profesi—dari penulis novel, wartawan, hingga dokter dan tentara. Tujuannya bukan hanya melahirkan karya, tapi juga membentuk penulis yang kreatif dan produktif secara finansial. Ia sendiri pernah dibayar jutaan rupiah untuk enam halaman tulisan yang ia selesaikan dalam dua jam. Bagi Diantika, menulis adalah jalan rezeki sekaligus jalan dakwah.
Ia juga menekankan pentingnya jejak digital. Tulisan yang dipublikasikan di platform seperti Kompasiana atau media lainnya bisa memperkuat reputasi dan kepercayaan publik. Guru dan dosen, menurutnya, perlu menulis agar kompetensinya terlihat dan diakui. Menulis bukan hanya untuk didengar, tapi untuk diwariskan.
Yang paling menyentuh adalah pandangannya tentang menulis sebagai amal jariyah. Ia percaya bahwa ide yang dituliskan akan terus hidup, dibaca, dan menginspirasi, bahkan ketika penulisnya telah tiada. Dalam dunia yang penuh hoaks dan gosip, tulisan yang jernih dan mendidik adalah bentuk perlawanan yang elegan.
Diantika menulis dengan cahaya. Ia tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga menyalakan semangat. Dan dari kisahnya, kita belajar bahwa menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan ibadah yang bisa mengubah dunia—satu kata, satu kalimat, satu hati pada satu waktu.
