Okky Mandasari
Okky Madasari, seorang penulis yang telah melahirkan karya-karya penting seperti Entrok, Maryam, Pasung Jiwa, Kerumunan Terakhir, dan kumpulan cerita pendek Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, menegaskan bahwa kegiatan membaca sesungguhnya adalah tindakan perlawanan. Melalui membaca, kita sedang melawan kebodohan, melawan doktrin, melawan hoaks, dan melawan informasi-informasi yang sesat. Kehadiran tulisan, dan khususnya sastra, berfungsi sebagai alat untuk memelihara kesadaran kritis di tengah masyarakat Indonesia, menjadikan aktivitas membaca itu sendiri sebagai sebuah perlawanan yang aktif.
Kecintaan Okky terhadap dunia tulis-menulis sudah terbit sejak dini, bahkan sebelum ia membayangkan dirinya akan menjadi seorang penulis fiksi. Momen penting terjadi ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu, ia bergabung dengan kegiatan ekstrakurikuler majalah dinding. Dalam wadah inilah, esai pertamanya, sebuah opini editorial (op-ed), diterbitkan. Tulisan itu berisikan kritik terhadap kebijakan sekolah yang mewajibkan semua siswa mengikuti tambahan pelajaran. Argumennya sederhana namun tajam: tidak semua siswa merasa membutuhkan pelajaran tambahan tersebut, sebab sebagian mungkin memiliki minat lain yang harus dikembangkan.
Opini yang ia tempelkan di majalah dinding itu kemudian dibaca oleh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Di titik inilah, Okky menyadari betul bahwa *tulisan memiliki kekuatan* yang mampu memicu respons dan perhatian dari otoritas. Sejak saat itu, ia memiliki hasrat kuat untuk berkarir di bidang penulisan.
Namun, jalan menuju fiksi tidaklah lurus. Imajinasi pekerjaan di masa depan pada saat itu belum seluas sekarang. Meskipun ia bercita-cita terlibat dalam kegiatan tulis-menulis, ide untuk menjadi penulis fiksi, apalagi sebagai sebuah profesi, masih sangat jauh dari bayangannya dan generasi sebayanya. Entrok kemudian menjadi pintu masuk pertamanya menuju kedalaman fiksi.
Relasi Okky dengan buku fiksi dibentuk oleh sebuah kebetulan dan keterpaksaan. Tumbuh besar di kota kecil, ia tidak menemukan toko buku atau perpustakaan yang layak; yang ada hanyalah tempat persewaan buku seadanya. Kenyataan ini menjadikannya harus membaca apa pun yang tersedia. Sebuah fakta menarik, ia bahkan sudah membaca buku-buku Mira W. yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, seperti Permainan Bulan Desember, saat ia masih di bangku Sekolah Dasar—buku yang mungkin belum layak untuk anak SD, tetapi terpaksa ia baca karena itulah yang ada di hadapannya.
Keterpaksaan ini kemudian mengantarkannya pada karya-karya lain. Namun, ketika keleluasaan memilih bacaan sudah ia miliki, ada satu karya yang sangat membekas dan menjadi titik balik, yaitu Para Priyayi karya Umar Kayam. Karya tersebut tidak hanya membuatnya jatuh cinta pada buku, tetapi juga menumbuhkan hasrat yang membara untuk menulis sebuah buku. Setelah membaca Para Priyayi, ia langsung merasa, “Aku harus menulis novel.”
Proses Okky dalam menulis novel bukanlah proses yang serba mudah atau instan. Ia menggambarkan prosesnya bukan sebagai seseorang yang menulis seperti orang kesurupan yang tiba-tiba selesai, melainkan sebagai bentuk kerja keras dan kerja intelektual. Dalam setiap fase penulisan, ia bergulat dengan tantangan dan rasa sakit yang sama, diibaratkan seperti orang naik gunung yang sudah lelah dan ingin turun. Namun, ia harus meyakinkan dirinya untuk terus maju, harus mencapai puncak, dan harus menyelesaikan karyanya. Proses ini dilakukan dengan sadar: ia secara sadar menuliskan cerita, mempertebal referensi, memperluas sudut pandang, dan mengoreksi diri jika ada hal yang tidak tepat.
Pada akhirnya, bagi Okky, cerita yang bagus memiliki tujuan utama yang sederhana: meyakinkan pembaca bahwa cerita yang ditulis itu benar-benar hidup. Inilah yang disebut “the power of fiction.” Meskipun pembaca tahu bahwa cerita itu adalah karangan, mereka rela dan secara sadar menghanyutkan diri dalam narasi tersebut. Keberhasilan seorang penulis fiksi terletak pada kemampuan menciptakan kedalaman pengalaman ini.
Melampaui pencapaian artistik, sastra memiliki peran besar dalam mendorong perubahan sosial. Sastra berdampak langsung dalam membangun kesadaran pembacanya. Perubahan itu bekerja secara perlahan, dalam jangka waktu yang lama, melalui pikiran dan kesadaran yang terus ditempa oleh literasi. Pembaca sastra yang telah memperoleh cara pandang baru dan kesadaran yang lebih luas inilah yang kemudian menjadi agen pendorong perubahan dalam masyarakat.
Pengalaman yang paling berkesan bagi Okky setelah 15 tahun berkarir adalah ketika ia bertemu dengan pembaca yang hidupnya berubah setelah membaca karyanya. Suatu hari, seorang pembaca mengaku bahwa sebelum membaca novel Maryam, ia adalah seorang yang anti pada perbedaan. Ia membenci mereka yang cara beribadahnya dianggap berbeda atau sesat, dan bahkan meyakini bahwa orang-orang seperti itu harus dimusnahkan dari Indonesia. Namun, setelah membaca novel tersebut, pikirannya berubah total. Bagi Okky, momen perubahan kesadaran pada diri pembaca ini adalah bukti nyata peran sastra.
Dedikasi Okky Madasari selama 15 tahun dalam dunia kepenulisan tidak lepas dari peran penting pembaca yang memberikan tempat bagi karya-karyanya. Saat ini, setelah menyelesaikan studi PhD, ia tengah menyelesaikan novel terbarunya, yang merupakan refleksi terkini dari situasi bangsa dan masyarakat hari ini. Meskipun harus berjuang melawan berbagai gangguan (distraction) dan memelihara fokus, ia berharap novel baru tersebut dapat hadir pada tahun 2026.
Sebagai penutup, Okky Mandasari kembali menegaskan pesan kuncinya: dengan membaca, kita sudah aktif melakukan sebuah kegiatan kritis dan perlawanan. Hanya dengan terus membaca, kita dapat memelihara kesadaran kritis di Indonesia. Sastra, melalui tangan seorang penulis yang gigih seperti Okky Madasari, bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan fondasi perlawanan intelektual yang lambat namun pasti dalam mengukir perubahan.
