Membaca buku Masa Depan Budaya Daerah karya Ajip Rosidi (2016) terasa seperti menatap cermin besar yang memantulkan wajah bangsa kita dengan segala kerumitan dan luka yang tersembunyi. Ajip, seorang budayawan yang sepanjang hidupnya konsisten memperjuangkan eksistensi kebudayaan daerah, menulis dengan nada prihatin sekaligus penuh peringatan. Ia mengingatkan bahwa erosi budaya daerah di Indonesia bukanlah sekadar isu pinggiran, melainkan ancaman nyata terhadap identitas bangsa.
Ajip menyoroti bagaimana kebudayaan daerah perlahan terkikis oleh arus modernisasi, globalisasi, dan kebijakan negara yang sering kali tidak berpihak. Ironisnya, proses erosi ini berlangsung begitu halus dan perlahan, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa bahasa, kesenian, dan tradisi yang dulu hidup subur kini semakin jarang terdengar. Seperti air yang mengikis batu, budaya daerah kehilangan daya hidupnya sedikit demi sedikit, hingga suatu saat bisa lenyap tanpa jejak.
Pemerintah, menurut Ajip, tidak pernah memiliki strategi yang jelas dan berkesinambungan untuk melindungi kebudayaan daerah. Yang ada hanyalah usaha tambal sulam, proyek sesaat yang lebih sering berorientasi pada seremonial daripada substansi. Misalnya, festival budaya yang digelar setahun sekali, tetapi tidak diikuti dengan program pendidikan, dokumentasi, atau regenerasi seniman. Akibatnya, budaya daerah hanya diperlakukan sebagai tontonan, bukan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ajip mengajukan pertanyaan mendasar: apakah kita akan membiarkan kebudayaan daerah lenyap begitu saja dalam arus zaman? Pertanyaan ini bukan sekadar retoris, melainkan tantangan moral bagi setiap orang Indonesia. Sebab, hilangnya budaya daerah berarti hilangnya akar, hilangnya jati diri, dan pada akhirnya hilangnya kekayaan batin bangsa.
Dalam catatan membaca ini, saya menangkap pesan penting bahwa penyelamatan budaya daerah tidak bisa dilakukan setengah hati. Ada beberapa langkah yang bisa ditarik dari gagasan Ajip:
Pendidikan berbasis budaya daerah
Bahasa dan kesenian lokal harus masuk ke ruang kelas, bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bagian dari kurikulum inti.
Regenerasi seniman dan budayawan
Anak muda perlu diberi ruang untuk berkreasi dengan akar tradisi, sehingga budaya daerah tidak sekadar dipelajari, tetapi juga dihidupi.
Dokumentasi dan digitalisasi
Di era teknologi, pelestarian bisa dilakukan dengan merekam, menulis, dan menyebarkan karya budaya daerah melalui media digital agar mudah diakses lintas generasi.
Kebijakan yang berkelanjutan
Pemerintah harus berhenti melihat budaya sebagai proyek jangka pendek. Dibutuhkan kebijakan yang konsisten, dengan dana dan perhatian yang serius.
Ajip Rosidi menulis dengan nada getir, tetapi juga dengan harapan. Ia percaya bahwa budaya daerah masih bisa diselamatkan jika ada kesadaran kolektif. Kesadaran itu bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga masyarakat, akademisi, seniman, dan generasi muda.
Membaca buku ini membuat saya merasa seolah sedang diajak berdialog dengan seorang guru yang keras tetapi penuh kasih. Ajip tidak sekadar mengkritik, ia menggugah kita untuk bertindak. Budaya daerah bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber energi untuk masa depan. Jika kita mampu menjaganya, maka bangsa Indonesia akan tetap memiliki warna, kekayaan, dan keunikan yang tidak dimiliki bangsa lain.
Pada akhirnya, Masa Depan Budaya Daerah adalah alarm yang terus berdentang. Ia mengingatkan kita bahwa waktu tidak pernah berhenti, dan setiap detik yang kita biarkan tanpa usaha berarti satu langkah lebih dekat menuju hilangnya kebudayaan daerah. Pertanyaannya kini bukan lagi “apakah kita akan membiarkannya lenyap,” melainkan “apa yang akan kita lakukan hari ini untuk memastikan nyala api budaya tetap hidup.”
