Entah sudah berapa kali, Wina melihat lengkung sabit rembulan di langit Majalaya. Wina bilang, lengkung itu mengingatkan dirinya pada lengkung senyum seseorang. Entah itu seseorang yang pernah dia suka tetapi hanya bertepuk sebelah tangan. Seseorang yang pernah singgah lalu pergi tanpa kabar. Bahkan lengkung senyum seseorang yang pernah tersenyum sangat manis kemudian menikam dari belakang tanpa ampun secara sadis.
Ah, rembulan di langit Majalaya memang tak akan pernah berubah. Ia tetap akan selalu indah meskipun beragam cerita yang dialami orang-orang yang ada di bawah cahayanya.
Seperti malam ini, Wina masih duduk di teras rumahnya. Sendirian. Hawa dingin tidak lagi dirasakannya. Baju lengan panjang tipis yang sudah kuyu membalut tubuhnya yang semakin kurus. Tangannya masih memegang majalah edisi lama. Matanya asik menelisik setiap kalimat yang ada di artikel majalah itu.
Menyenangkan juga membaca dalam bentuk buku begini. Berbeda dengan membaca di beranda media sosial ya, gumamnya.
Artikel soal tips menjaga hubungan agar tetap awet dibacanya sampai tuntas bahkan berulang-ulang. Semua cara sudah dilakukan. Namun entah kenapa setiap yang memutuskan untuk hidup bersama Wina selalu saja hengkang. Bukan hanya yang menjalani ikatan halal, bahkan baru sekadar perkenalan saja sudah pergi begitu saja.
Apa yang salah dengan diriku? Apakah aku terlalu naif dengan hubungan yang melibatkan rasa? Atau … Bisik Wina dalam hatinya.
Jika alasan mereka meninggalkan Wina adalah fisiknya, wina memang mengakui bahwa ia tidak secantik perempuan yang ada di luar sana. Namun lihatlah betapa Wina terampil dalam melakukan banyak hal. Ia adalah pembicara yang baik.
