I. Anak Jalanan dari Besuki
Di bawah langit mendung Situbondo tahun 1920-an, hujan rintik membasahi jalanan kampung Besuki yang lengang. Di sudut pasar, seorang anak perempuan berambut kusut dan berwajah lugu menyanyikan lagu daerah dengan suara lembut namun bertenaga. Suaranya mengalun di antara debur ombak dan langkah kaki pejalan, memanggil perhatian siapa pun yang melintas. Itulah Misri, nama yang diberikan oleh kakek dan neneknya. Di kemudian hari, dunia akan mengenalnya sebagai Devi Dja.
Misri hidup dalam kesederhanaan yang keras. Ayah dan ibunya telah lama pergi, entah hilang atau meninggalkan karena kemiskinan. Ia diasuh oleh pasangan tua yang sabar namun pasrah pada nasib. Mereka berjualan kecil-kecilan sambil menggandeng Misri untuk mengamen agar dapur tetap mengepul. Tak ada sekolah, tak ada boneka, tapi ada lagu—dan lagu itulah yang menjadi pelariannya.

Di sela-sela waktu, Misri menari. Ia meniru gerak-gerik penari di pertunjukan rakyat atau upacara adat yang kadang digelar di alun-alun. Ia menggerakkan tangan dan kaki dengan irama yang tumbuh dari nalurinya sendiri. Musik mengalir dalam darahnya. Kakeknya yang dahulu pemain gamelan di desa, dengan sabar mengajarinya berbagai irama. Dari langgam Jawa hingga lagu-lagu Melayu yang sedang naik daun.
“Suaramu seperti suling bambu, Misri,” kata neneknya suatu sore. “Tapi jangan hanya bernyanyi untuk uang. Bernyanyilah untuk hidupmu.”
Kata-kata itu meresap ke dalam hati Misri seperti embun pagi. Ia ingin bernyanyi untuk hidup. Tapi hidup yang bagaimana? Di kampung yang bahkan tidak punya panggung, mimpi hanyalah khayalan kosong.
Suatu hari, saat matahari condong di ufuk barat dan pasar mulai lengang, Misri menyanyikan lagu “Kopi Soesoe”—lagu yang dipelajarinya dari seorang pedagang keliling asal Surabaya. Suaranya menyayat, bergetar, dan memikat. Seorang pria berpakaian rapi dan berkacamata hitam berdiri memperhatikan dari kejauhan. Pria itu bernama Willy Piedro, pemimpin grup sandiwara Dardanella yang tengah dalam perjalanan mencari bakat baru.
Piedro mendekat, lalu berkata, “Siapa namamu, anak gadis?”
“Misri, Pak,” jawabnya dengan gugup.
“Kalau kamu mau ikut aku, kamu tak akan lagi menyanyi di pasar. Kamu akan menyanyi di panggung. Di kota. Bahkan mungkin di luar negeri.”
Nenek Misri awalnya tak percaya. Tawaran itu seperti dongeng. Tapi ada sesuatu dalam mata Piedro yang meyakinkan. Ia bukan hanya mencari penari, ia mencari jiwa seni.
Malam itu, keluarga kecil itu berkemas. Dengan hanya selembar sarung, beberapa baju lusuh, dan sebuah cangkir yang biasa dipakai untuk meminta uang saat mengamen, Misri menaiki truk tua milik rombongan Dardanella. Ia menoleh ke belakang, memandang kampung kecilnya yang perlahan ditelan gelap. Hatinya berdebar. Tak ada yang pasti di depan. Tapi ada cahaya kecil yang menyala: harapan.
—
bersambung
