Pelaku mutilasi (sumber Tribun Jatim)
Tidak akan ada ketenangan dalam jalan yang salah dan penuh dosa. TAS (25 tahun) perempuan cantik harus mati dengan cara mengenaskan (mutilasi) di tangan lelaki yang selama ini (seharusnya) menjaga jiwa raganya.
TAS (25) ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tubuhnya terpotong hingga lebih dari 300 bagian. Potongan-potongan tubuh itu dibuang oleh pelaku di beberapa titik sekitar Pacet–Batu.
Sang pelaku, Alvi Maulana (24), yang merupakan pacar korban, mengaku nekat melakukan perbuatan keji itu karena sering terlibat cekcok. Dilansir dari detik.com, AM bahkan menggunakan pisau daging, gunting dahan dan alat pengasah untuk melancarkan aksinya.
Sungguh, membaca kronologinya saja sudah cukup membuat dada sesak.
Hubungan Tanpa Ikatan, Jalan yang Rawan
Korban dan pelaku ternyata berpacaran dan tinggal bersama di satu kos. Namun, hubungan itu tidak dilandasi ikatan pernikahan. Kebersamaan seperti ini memang kerap tampak manis di luar, tapi di baliknya ada lubang dosa yang dalam. Tidak ada ketenangan, sebab hubungan semacam ini rawan diliputi rasa cemburu, amarah, dan kecurigaan.
Di balik hubungan yang tidak diizinkan Tuhan selalu ada setan yang siap mengawal dan menggoda manusia untuk terus tersesat lebih dalam lagi.
TAS, sebagai korban pun kabarnya sempat menuntut perhatian ekonomi. Tuntutan itu sebenarnya wajar—karena ia sudah menyerahkan jiwa raganya seolah benar-benar sebagai istri dari pelaku. Akan tetapi tanpa adanya ikatan resmi, semua itu jadi bias belaka. Harapan TAS menguap begitu saja. Tidak ada hak dan kewajiban yang bisa dituntut. Singkatnya, mereka berada dalam ikatan yang rapuh sejak awal.
Bahaya Hubungan Toksik
Hubungan yang penuh dengan pertengkaran dan tuntutan dapat menjadi hubungan toksik yang membahayakan dan merusak mental. Salah satu pihak berperan sebagai kontrol, penuh manipulasi dan tekanan. Membuat siapapun yang ada di dalamnya menajadi tersiksa bahkan sangat emosional. Bagi yang mendapatkan tekanan, situasi ini menjadi situasa yang sangat sulit dan serba salah. Meskipun sudah tahu berbahaya, tetapi korban akan merasa sukar menentukan tindakan penyelamatan.
Mungkin, inilah yang dirasakan TAS, meski hatinya tersiksa ia memilih bertahan. Bisa jadi, TAS ada dalam dilema serupa: terjebak, serba salah, dan akhirnya pasrah. Mencoba bersuara, meminta hak tetapi malah dihabisi tanpa ampun.
Pesan Al-Qur’an dan Hadis tantang Zina
Allah SWT dengan tegas memperingatkan dalam Al-Qur’an tentang larangan zina.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Dipertegas dengan Hadis Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan,
“Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah, oleh karena itu Dia mengharamkan perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ayat dan hadis di atas menegaskan bahwa larangan agama bukan sekadar aturan kaku. Itu adalah perlindungan dan benteng yang akan menyelamatakan manusia, agar terhindar dari kesengsaraan seperti yang nyata-nyata terjadi dalam kasus yang terjadi di Mojokerto.
Pelajaran untuk Perempuan
Kisah ini seharusnya menjadi alarm keras, terutama bagi para perempuan:
- Lelaki yang benar-benar sayang tidak akan mengajakmu ke jalan yang salah. Kalau memang serius, ia akan datang menemui orang tua atau menunggu sampai siap melamar.
- Jangan pernah meremehkan tanda-tanda hubungan toksik. Kalau sudah sering bertengkar, ada kekerasan verbal atau fisik, apalagi sampai muncul ancaman, itu waktunya pergi. Tidak ada salahnya untuk bicara pada orang yang dipercaya bisa memuatmu aman.
- Ingatlah bahwa larangan mendekati zina bukan tanpa alasan. Hubungan yang tidak diridhoi Allah hanya akan semakin mudah dimasuki setan, membuat masalah kecil membesar jadi bencana.
Renungan untuk Kita Semua
Kasus mutilasi Mojokerto terlalu kejam dan tragis untuk hanya dijadikan konsumsi berita. Ini harus jadi bahan renungan. Kita sendiri tentu sudah bisa menilai, apakah ada hubungan yang dimulai dengan cara tidak sehat benar-benar berakhir bahagia? Kalau pun ada, bisa jadi mereka lebih dulu bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
Sayangi dirimu, jangan mau terjebak dalam lingkaran dosa. Lebih baik bersedih dan terluka karena perpisahan dari hubungan toksik, daripada harus kehilangan segalanya karena bertahan di hubungan yang salah. Apalagi sampai harus kehilangan nyawa.
Nauzdubillahi min dzalik
**Tulisan ini sudah tayang di kompasiana
