Ilustrasi: Andrew V/Unsplash
“Jangan menanam kamboja di halaman, punya saya saja ditebang. Hobi banget ya nanem pohon kuburan?” ucap seorang tetangga.
Nadanya sinis sekaligus terdengar lucu di telinga Yuna.
Kejadian seperti itu bukan satu dua kali dialami. Ini adalah tahun ketiga Ramadan Yuna di tempat tinggalnya yang baru. Sejak pindah ke tempat baru itu, banyak sekali hal yang begitu jauh berbeda dengan apa yang ditemukannya di tempat tinggal sebelumnya. Kata orang, apa yang dialami Yuna adalah semacam culture syok, sehingga dirinya memerlukan waktu yang begitu lama untuk benar-benar mencermati semuanya.
Perempuan yang berasal dari keluarga religius dan dibesarkan di lingkungan pondok pesantren itu harus tinggal di lingkungan yang notabene masih mengikuti tradisi budaya yang kental. Dimana agama dan tradisi dipahami begitu bias oleh orang-orang. Namun kini semua itu sudah tidak terlalu dipikirkan lagi. Perbedaan itu wajar, asalkan kita saling menerima dan memaklumi semua akan baik-baik saja bukan?
Yuna menjawab dengan santai, “tidak apa-apa. Saya suka sekali bunganya. Cantik kan?” tanpa merasa bersalah Yuna merapikan pot yang baru saja ditanami bunga tersebut. Menggeser pot-pot yang lain dan menatanya di teras rumahnya yang teduh. Tiga tahun sudah cukup membuat halaman Yuna dipenuhi dengan bunga-bunga yang cantik. Perempuan itu memeliharanya dengan telaten.
Tanpa ia sadari tetangganya masih berdiri tegak di sana, memandangi kelakukan Yuna yang asik menata bunga.
“Yuna, saya bilangin lagi ya, bunga itu bunga kuburan, nanti setannya masuk ke rumah lho!” ujar perempuan tua itu. Dasternya yang bercorak ramai warna-warni bikin kepala Yuna pusing melihatnya.
Yuna menghela napas panjang. Ia tidak sedang berminat memperpanjang masalah.
Sejenak ia menghentikan aktivitasnya, “Bu… gak apa-apa ya… kan ini rumah saya. Insyaallah aman kok kan akan apa-apa,” ucap Yuna sembari menghias bibirnya dengan senyum. Sebuah senyum yang tentu saja sedikit dipaksakan. Dikomentari orang yang sama setiap menanam bunga adalah hal yang cukup menyebalkan.
Sang tetangga berpangku tangan, menggeleng lalu pergi meninggalkan Yuna yang semakin asyik dengan bunga-bunganya.
Di tengah kesibukannya, Yuna tertawa sendiri, mengingat kejadian tadi. Ia pun teringat pada kejadian sebelumnya ketika suaminya membawa bibit beringin yang dibelinya dari penjual bunga. Yuna menanamnya di pekarangan. Lagi-lagi, sang tetangga mengomentari. Ia bilang bahwa dalam satu helai daun beringin itu dihinggapi setan. Makanya tanaman yang satu itu selalu tumbuh di kuburan.
“Yuna, jangan suka nanem sembarangan! Apa kamu tidak tahu kalau dalam satu helai daun beringin itu ada setannya?” tanya tetangga.
Yuna hanya menjawab, “og gitu… ya udah gak apa-apa, Bu. Kalau memang hinggap di daun beringin, berarti setannya gak akan masuk rumah ku kan?”
Tetangganya pun kaget mendengar jawaban Yuna. Keyakinannya tentang pohon kuburan yang penuh dengan syaitan pun seolah diinjak oleh perempuan muda yang baru saja pindah tempat tinggal.
Kadang hidup tidak selalu selaras dengan orang lain. Kepercayaan pun berbeda. Yang penting keyakinan tetap teguh kepada Allah maka tidak ada hal yang harus ditakuti. Jangan sampai ada sedikit pun syirik dan kepercayaan pada kekuatan selain kepada Allah.
Kajadian beringin dan kamboja, hanya soal sudut pandang. Yuna merenung. Pertanyaan besar hinggap di kepalanya. Lagian siapa sih yang pertama kali menanam beringin dan kamboja di kuburan? Jadinya gini kan? Pikinya.
Sejenak kemudian, ada ide jail di kepalanya.
“Lain kali aku akan menanam pohon hanjuang deh. Bias semua tanaman kuburan pindah ke rumah,” bisiknya.
