“Ada kiriman oleh-oleh dari Mbak Yuni.”
Suara suamiku memecah kantuk yang masih menggantung di pelupuk mata. Aku yang semula berbaring malas karena rasa lelah selepas mudik ke kampung halaman, perlahan bangkit. Di tangannya, sebuah kardus besar terbungkus rapi.
“Oleh-oleh?” ulangku, setengah tidak percaya.
Ia meletakkan kotak itu di atas meja. Saat kubuka, seketika mataku terbelalak. Aneka makanan memenuhi isi kotak itu—kaleng-kaleng biskuit berlapis warna emas, camilan khas kota, hingga botol sirup merah menyala yang tampak begitu mewah di mataku yang terbiasa sederhana.
“Memangnya Mbak Yuni sudah datang?” tanyaku cepat.
“Sudah,” jawab suamiku singkat. “Bersiaplah. Kita ke depan sebentar lagi.”
Aku mengangguk, meski dalam hati ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Antara kagum… dan sesuatu yang lain. Mbak Yuni adalah saudara sepupu, yang jika pulang kampung selalu membawa banyak barang bawaan. Meskipun bukan saudara langsung tetapi oleh-oleh yang kami dapat lebih dari cukup bahkan menurutku terlalu istimewa untuk didapatkan oleh seorang sepupu.
Hm, mungkin ia telah menganggap kami seperti saudara kandung, begitu pikirku.
Di rumah bapak, suasana terasa lebih ramai dari biasanya. Sebuah mobil mengilap terparkir di halaman—asing namun mencolok di antara kendaraan kampung yang sederhana.
Mbak Yuni berdiri di tengah kerumunan, tersenyum lebar. Tangannya sibuk membagikan oleh-oleh.
“Ini buat kamu… ini juga… jangan lupa dibagi ya,” katanya riang.
Aku mendekat, menyalaminya.
“Baru sampai, Mbak?” sapaku.
“Iya! Aduh, capek banget perjalanan, tapi senang bisa pulang,” jawabnya hangat.
Aku tersenyum, tapi diam-diam mataku tak berhenti memperhatikan. Tas-tas besar, kotak-kotak penuh isi, dan tawa yang mengalir ringan dari bibirnya—semuanya terasa seperti dunia yang jauh dari hidupku.
“Kamu bawa apa dari rumah?” tanya seseorang di sampingku.
Aku tersenyum tipis. “Ah… cuma datang saja.”
Jawabanku terdengar ringan, tapi entah kenapa terasa berat di dada.
Malam-malam berikutnya diisi dengan cerita.
“Aduh, kemarin itu kita ke pantai, seru banget!” ujar Mbak Yuni antusias.
“Iya, terus lanjut ke tempat wisata baru itu,” sambung suaminya.
“Sering jalan ya, Mbak…” kataku pelan.
“Iya dong, mumpung masih bisa dinikmati,” jawabnya sambil tertawa.
Aku ikut tersenyum. Mengangguk. Menyimak.
Namun di dalam hati, pertanyaan-pertanyaan kecil berdesakan.
Bagaimana ya rasanya hidup seperti itu? Dari mana datangnya kelonggaran seperti itu?
Aku menunduk, menyembunyikan pikiran yang mulai liar.
Hari ketiga. Sore itu, kakak iparku datang dengan wajah seperti menyimpan sesuatu.
“Tadi aku habis nganter Mbak Yuni,” katanya.
“Ke mana?” tanyaku.
“Ke koperasi desa.”
Aku mengernyit. “Ngapain?”
Ia mendekat, menurunkan suaranya.
“Pinjam uang.”
Aku terdiam.
“Katanya buat nutup utang selama lebaran… yang kemarin itu, lho… beli ini-itu, jalan ke sana-sini…”
Kalimatnya menggantung, tapi cukup untuk membuatku mengerti.
Seperti ada sesuatu yang runtuh pelan-pelan di dalam pikiranku.
Semua yang kulihat—kemewahan, keceriaan, kelimpahan—ternyata tidak sepenuhnya berdiri di atas tanah yang kokoh.
Ada beban di baliknya. Ada yang harus dibayar setelah semua itu usai.
Malamnya, aku duduk di samping suamiku.
“Aku baru tahu sesuatu,” kataku pelan, lalu kuceritakan semuanya.
Ia mendengarkan tanpa menyela. Hingga akhirnya, ia tersenyum kecil.
“Kamu jadi ingin seperti itu?” tanyanya.
Aku terdiam sejenak.
“Entahlah… tadi sempat merasa… kita ini kurang.”
Ia menggeleng pelan.
“Kurang menurut siapa?” katanya lembut. “Menurut orang lain… atau menurut hatimu sendiri?”
Aku tak langsung menjawab.
Ia melanjutkan, suaranya tenang namun dalam.
“Kalau kita memaksakan diri, mungkin kita bisa terlihat sama. Tapi setelah itu? Kita yang harus menanggungnya.”
Aku menatapnya.
“Bersilaturahmi itu bukan soal apa yang kita bawa,” lanjutnya. “Tapi apa yang kita rasakan. Kalau pulang membawa utang hanya demi terlihat mampu… apa itu benar-benar pulang?”
Aku menunduk.
Angin malam masuk perlahan dari jendela, membawa kesejukan yang anehnya terasa sampai ke dalam dada.
“Lebih baik kita sederhana,” katanya lagi, “tapi jujur. Tidak menyusahkan diri sendiri. Tidak berpura-pura.”
Aku menghela napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya sejak Mbak Yuni datang, hatiku terasa… lega.
Keesokan harinya, aku kembali menyalami Mbak Yuni.
Masih dengan senyum yang sama. Masih dengan kehangatan yang sama.
Namun kali ini, perasaanku berbeda. Aku tidak lagi melihat apa yang ia bawa. Aku melihat apa yang ia tanggung. Dan diam-diam, aku bersyukur.
Karena ternyata, kami memang pulang dengan cara yang berbeda. Mereka membawa banyak hal untuk dibagikan—sementara kami, hanya membawa diri yang apa adanya.
Namun justru di situlah aku menemukan sesuatu yang tak terlihat—ketenangan.
