Ini adalah salah satu dari sekian banyak surat, ungkapan dan persembahan anak-anak untuk mengucapkan dan mengekspresikan cintanya di momen Hari Guru Nasional sejak Jumat lalu.
Namun mungkin karena saya absen kemarin akibat asam lambung naik, dan tidak ada energi untuk berangkat kerja, hari ini masih ada dua orang anak yang datang ke ruangan untuk memberikan sebuah hadiah.
Hadiah istimewa yang ku yakin, ini pasti dibuat dengan sengaja untuk ibu gurunya.
“Selamat hari guru, Ibu. Terima kasih sudah mengajar dan menyayangi kami. Kami sayang Ibu. I love you Ibu.”
Surat kedua pun isinya sama. Ungkapan yang aku yakin ditulis dengan penuh cinta.
“Ibu, terima kasih sudah menjadi guru yang baik, dan cantik. Terima kasih juga telah menjadi kepala sekolah kami.”

Tanpa bisa berkata-kata lagi, tenggorokanku mendadak penuh sesak. Air mata hampir saja meluncur dari kedua kelopak mata. Isi suratnya penuh haru, kalau netizen sudah pasti bilang, “siapa yang naruh bawang di sini?”
Aku hanya bisa berterima kasih tanpa bisa menyampaikan pesan mendalam lebih lantang. Karena sekali lagi, sesak di tenggorokan dan dada ini malah membuat air mata semakin deras meluncur di kedua belah pipi. Biarlah seluruh perasaan dan ungkapan yang selama ini aku pendam tetap tersimpan di hati yang terdalam tanpa bisa kusampaikan.

Nak…
Ibu juga sangat mencintaimu dan semua teman-temanmu. Tanpa bisa digambarkan dengan kata-kata. Selama ini, sebisa mungkin ibu sudah berusaha dan berjuang dengan maksimal yang ibu bisa untuk mewujudkan sebuah lembaga yang terbaik untuk kalian tumbuh. Untuk kalian mendapatkan berbagai ilmu dan keterampilan hidup untuk bekal kalian kelak. Dari mulai membuat sistem terbaik, program belajar dan program unggulan yang disediakan untuk memompa semangat dan ghiroh kalian dalam beragama Islam. Ibu ingin kalian belajar tentang banyak hal yang akan mendewasakan kalian.
Namun, Nak…
Nyatanya tidak semua yang kita inginkan bisa kita genggam. Kita hanya bisa berencana, Allah lah yang Maha penentu keberhasilan kita. Ada banyak tantangan dan kemungkinan yang bisa terjadi dan di luar kendali kita. Krikil tajam yang memang tumbuh sebagai penghambat atau karena kita sendiri tergelincir jatuh sehingga kita terpaksa menghentikan perjuangan sementara sampai akhirnya kita bangkit kembali dan sembuh dari luka.
Nak… Ibu guru yang kau surati dan kau hadiahi hari ini pun nyatanya belum bisa menghadapi tantangan besar yang ada di depan mata.e Kekuatannya sangat dahsyat. Sedangkan sebagai manusia, ibu bisa apa? Selain sabar, solat, dan berserah diri. Bukankah memang hanya itu yang bisa dilakukan sebagai hamba-Nya?
Satu lagi yang akan kalian temui kelak, bahwa menjalankan syariat dan hidup sesuai ketentuan Allah zaman sekarang masih saja sering dipertanyakan. Karena hukum kebenaran manusia lebih “harus didengarkan” dibandingkan hukum yang Allah tetapkan. Karena mereka semua sama dan sepakat dengan kebenaran versi manusia, maka yang menggenggam kebenaran atas nama Tuhan harus menerima bahwa dirinya lah yang paling bersalah dalam sistem tatanan kehidupan bermasyarakat.
Nak, maafkan ibu, ibu hanya manusia biasa yang punya jalan hidup tidak selalu sempurna seperti kebanyakan orang. Orang-orang dengan hidup normal, aman damai di zona yang sama dengan orang yang lainnya. Maafkan ibu yang telah tumbuh dengan berjuta luka hingga tidak bisa hidup sempurna seperti yang dimiliki kebanyakan orang.
Namun satu yang selalu ibu yakini, bahwa Allah tidak akan pernah salah memilihkan pundak untuk memukul sebuah beban.
Nak, Ibu hanya manusia biasa yang juga punya salah dan dosa. Punya sesuatu yang harus ibu selamatkan dengan cara-cara yang ibu sanggupi tetapi tidak banyak orang sepakat. Karena memang mereka tidak tahu seberapa beratnya ibu berjuang untuk itu.
Lagian siapa yang mau paham dan siapa juga yang mau tahu. Ya kan? Tapi, ah, sudah lah. Semua akan baik-baik saja kok.
Benih yang baik akan tumbuh subur di tempat yang tepat. Ketika benih tidak bisa tumbuh dengan baik, di suatu tempat, bukan berati benihnya buruk atau bukan pula tanahnya jelek. Bisa jadi hanya karena tidak tepat saja. Seperti kaktus, ia tidak akan tumbuh dengan baik di tempat yang terlalu banyak air.
Lalu, apakah pot berair itu salah? Tentu saja tidak. Pot berair hanya tidak tetap dijadikan tempat kaktus tumbuh. Masih banyak tanaman lain yang akan lebih bisa tumbuh subur di sana. Teratai misal.
Nak, apapun yang terjadi, jangan lupa, bersyukurlah kepada Allah karena kalian ditakdirkan untuk hidup di dalam keluarga yang utuh, sempurna tanpa masalah yang berarti. Temukan pula tempat-tempat subur seperti di dalam keluargamu. Dimana orang-orang menerima potensi yang kalian miliki. Jika tidak, jangan pernah menyiksa diri. Lekas berpindah tempat lah. Kita berhak tumbuh baik di tempat yang tepat.
Nak…
Terima kasih sudah menerima ibu dengan penuh cinta dan ketulusan. Ibu merasa kaya dan lebih bersemangat memiliki cinta kalian.
Ibu titip. Jadilah kalian orang-orang yang berhati lembut. Yang memiliki hati nurani. Melihat sebuah masalah dari berbagai sisi. Gunakan mata, telinga dan hatimu sendiri untuk menilai baik dan buruknya seseorang. Jangan dengarkan dari orang lain. Karena orang lain tidak sama dengan kita. Apa yang dikatakan mereka selalu bercampur aduk dengan emosi dan kekesalan pribadinya.
Berpegang teguh lah pada Allah. Walau orang yang berpegang teguh pada ketentuan Allah itu bagaikan menggenggam bara api di telapak tangannya.
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa di zaman tersebut, orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api.
Lanjutkan perjuanganmu sebagai anak baik dan memegang agamamu, Nak.
Sekali lagi maafkan Ibu. Jika suatu hari kita akan berpisah dan tidak lagi berada dalam satu frame perjuangan. Ibu akan selalu mendoakan kalian.
Seluruh cinta ibu untuk kalian. Ibu mencintai kalian karena Allah. Semoga apa yang telah ibu perjuangkan di sini tercatat sebagai amal ibadah dan sedikit banyaknya memberikan manfaat untuk kelancaran kalian dalam mewujudkan cita-cita orangtua kalian yang ingin kalian jadi anak salih dan salehah.
Aamiin ya rabbal alamin.
