Simbok tak pernah pandai menangis di depan orang lain. Ia menyimpan dukanya seperti menyimpan jarum di lipatan sajadah—sunyi, tajam, dan diam-diam melukai dirinya sendiri. Setiap subuh, ketika langit masih setengah gelap dan azan belum sepenuhnya selesai menggema, Simbok sudah duduk di tepi ranjang tuanya, menyebut satu nama yang dulu ia panggil dengan penuh cinta, ketika tubuh kecil itu pertama kali belajar menyebut “Mbok.”
Nama itu adalah anaknya, darah yang pernah tumbuh dari darahnya sendiri, napas yang pernah ia jaga dengan cemas sepanjang malam, tubuh mungil yang dulu ia dekap dengan doa-doa yang basah oleh air mata tahajud.
Simbok masih ingat betul bagaimana pertama kali ia mengantarkan anak itu ke sekolah agama. Dengan seragam rapi, peci kecil, langkah mungil, dan mata yang bening seperti pagi, anak itu berjalan di sampingnya dengan wajah yang membuat hati Simbok penuh harapan.
Ia titipkan anak itu pada ilmu, pada ayat-ayat suci, pada adab dan akhlak, pada tangan guru-guru yang ia percaya akan menuntun anaknya mengenal Tuhan lebih dekat daripada dunia. Simbok tak pernah lelah. Ia menanak harapan di atas tungku kesabaran. Ia menjahit masa depan anaknya dengan benang ikhlas dan jarum pengorbanan.
Setiap lembar uang yang ia sisihkan bukan sekadar biaya sekolah, melainkan potongan hidupnya sendiri yang ia lipat diam-diam, agar kelak anak itu tumbuh menjadi lelaki yang tahu jalan pulang, menjadi manusia yang takut pada dosa, dan paham bahwa hidup bukan hanya tentang dunia yang gemerlap dan fana.
Namun hidup sering kali punya cara paling getir untuk menguji cinta Simbok. Anak itu tumbuh. Tubuhnya membesar, suaranya meninggi, langkahnya menjauh. Lalu pada suatu hari yang tak pernah siap diterima Simbok, ia mendengar kabar yang merobek dadanya lebih tajam dari pisau mana pun. Anaknya jatuh. Bukan jatuh dari tangga, bukan jatuh karena miskin, melainkan jatuh dari nilai-nilai yang selama ini ia tanamkan dengan seluruh hidupnya. Anak itu pandai mengucap ayat, tetapi lupa cara menjaga diri.
Pandai menghafal hukum Tuhan, tetapi abai pada batas-batas larangan. Lidahnya fasih menyebut halal dan haram, tetapi langkahnya justru akrab dengan jalan yang dilarang.
Betapa hancur hati Simbok ketika yang runtuh bukan rumahnya, melainkan iman anaknya. Betapa pedih luka Simbok ketika yang tercoreng bukan nama keluarganya, melainkan akhlak anak yang dulu ia banggakan dalam doa-doa panjang.
Namun Simbok tak marah. Tidak. Simbok selalu punya cara yang aneh untuk mencintai: hatinya hancur, tetapi mulutnya tetap menyebut nama anaknya dalam doa. Meski kecewa itu telah tumbuh seperti duri di setiap sujudnya, Simbok tetap menyebut nama itu dengan suara yang gemetar, memohon kepada Tuhan agar anaknya yang jauh didekatkan kembali, agar yang jatuh dibangkitkan lagi, agar yang gelap diberi cahaya, meski cahaya itu tak lagi datang dari tangannya.
Begitulah Simbok. Ia bisa remuk tanpa membenci. Ia bisa kecewa tanpa berhenti mencinta. Malam-malamnya kini lebih panjang. Ia tak lagi banyak bicara. Tatapannya sering kosong seperti rumah yang kehilangan suara penghuninya. Tetangga hanya tahu anaknya berubah, tetapi tak ada yang tahu bagaimana Simbok diam-diam mengubur kecewanya setiap selesai salat. Tak ada yang tahu betapa sering Simbok menatap pintu dengan harapan anak itu pulang—bukan sekadar membawa tubuh, melainkan juga hati yang pernah hilang.
Sebab bagi Simbok, kekecewaan terbesar bukan ketika anaknya miskin, bukan ketika anaknya gagal, bukan pula ketika anaknya tak membawa nama besar. Luka paling dalam bagi Simbok adalah ketika anak yang ia besarkan dengan doa justru tumbuh jauh dari Tuhan.
Sebab harta bisa dicari, jabatan bisa dikejar, nama baik bisa dipulihkan, tetapi hati yang berpaling dari cahaya adalah kehilangan yang paling sunyi. Dan Simbok tetap menunggu, dengan rambut yang perlahan memutih, dengan punggung yang mulai rapuh, dengan doa yang tak pernah putus. Ia tahu, barangkali dunia telah gagal membuat anaknya mengerti, tetapi barangkali luka akan mengajarinya pulang.
Dan jika kelak anak itu kembali dengan mata yang basah dan hati yang patah, Simbok akan tetap membuka pintu, seperti Tuhan yang tak pernah benar-benar menutup ampunan. Sebab begitulah Simbok. Ia adalah satu-satunya hati yang tetap memaafkan bahkan sebelum anaknya meminta maaf. Di dada Simbok, kecewa boleh tinggal, luka boleh menetap, tetapi cinta selalu memilih untuk tidak pergi.
