Beberapa hari terakhir, aku merasa ada yang gak beres dalam diriku. Badan rasanya lemas, mual, susah makan. Tapi lebih dari itu, hatiku juga ikut berat. Aku ingin menangis, tapi tak tahu sebabnya. Sedih datang seperti tamu yang tak diundang diam-diam, tanpa alasan, lalu tinggal terlalu lama.
Aku tahu mungkin orang lain hanya akan melihatku sebagai mahasiswa biasa, yang hidupnya tampak baik-baik saja. Padahal, ada banyak hal yang sedang kusimpan sendiri. Tekanan dari kegiatan, pikiran yang gak berhenti berisik, dan rasa bingung yang terus mengendap tanpa solusi.
Kadang aku bingung sendiri. Aku tahu aku lelah, tapi juga merasa bersalah karena merasa lelah. Ada banyak hal yang harus diselesaikan, tapi niatku seperti kabur entah ke mana. Rasanya seperti berjalan dalam kabut, aku tahu aku bergerak, tapi aku tidak tahu ke arah mana.
Tekanan datang dari berbagai sisi. Kegiatan kampus, tanggung jawab yang tak bisa ditinggalkan, hingga tuntutan untuk terus produktif meskipun hati rasanya tidak sanggup. Semua itu membuat tubuhku menolak. Aku mual, bad mood, dan kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal sederhana seperti makan, mandi, bahkan bicara.
Dalam hati, aku sempat ingin menyerah. Tapi aku juga tahu, aku gak bisa benar-benar berhenti. Aku cuma butuh jeda. Butuh tempat untuk bernapas, jauh dari keramaian, dari tugas, dari ekspektasi.
Aku membayangkan diriku berada di tempat yang sepi. Di alam yang hijau, di bawah langit mendung, dengan suara angin yang pelan. Mungkin di pegunungan. Atau di tengah hutan kecil yang gak banyak orang tahu. Tempat di mana aku gak harus kuat, gak harus waras, dan gak harus berpura-pura baik-baik saja.
Aku belum sepenuhnya pulih. Bahkan, mungkin belum tahu kapan akan merasa lebih baik. Tapi hari ini, aku ingin belajar untuk mengakui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, dan itu tidak apa-apa.
Aku belajar untuk menerima bahwa merasa sedih tanpa alasan bukanlah kelemahan. Itu adalah tanda bahwa tubuh dan hatiku sedang minta didengar. Aku tidak harus selalu tahu jawabannya. Tidak harus selalu tegar. Aku hanya perlu jujur pada diriku sendiri, dan memberinya ruang untuk bernapas.
Dan mungkin, dari kejujuran kecil itulah, langkah-langkah baru bisa mulai tumbuh. Pelan-pelan.
Aku tahu, mungkin di luar sana ada yang juga sedang merasakan hal serupa. Merasa bingung, sedih, atau kehilangan arah tanpa tahu penyebab pastinya. Merasa ingin menyerah, tapi tetap mencoba bertahan meskipun dengan langkah yang sangat kecil.
Untuk kamu yang sedang berada di titik itu, aku Cuma mau bilang, gak apa-apa. Gak apa-apa kalau kamu gak semangat hari ini. Gak apa-apa kalau kamu butuh istirahat. Gak apaapa kalau kamu belum tahu harus bagaimana. Kita semua manusia dan menjadi manusia berarti memberi ruang pada diri sendiri untuk lelah, untuk merasa, dan untuk sembuh.
Pelan-pelan saja. Kamu gak harus sembuh hari ini. Yang penting, kamu masih di sini. Masih bernafas. Masih bertahan. Dan itu sudah cukup berarti.
