Simbok tak pernah meminta anaknya menjadi langit. Ia tak pernah bermimpi anaknya tumbuh setinggi menara, disanjung banyak mata, dipuji banyak nama, atau dielu-elukan dunia seperti matahari yang disambut pagi. Simbok tak pernah menaruh cita-cita setinggi istana. Ia tak meminta anaknya menjadi orang besar yang namanya terpahat di dinding jabatan, tak meminta tangannya penuh emas, tak meminta rumahnya megah dengan pagar tinggi dan lampu yang tak pernah padam. Tidak. Cita-cita Simbok sederhana—sesederhana embun yang jatuh sebelum fajar, sesederhana asap dapur yang mengepul pelan dari tungku tanah, sesederhana doa yang lirih naik dari bibir renta menuju langit yang tak pernah tuli.
Simbok hanya ingin anaknya tumbuh menjadi manusia yang ketika bahagia tak lupa bersujud, yang ketika terluka tak lupa berdoa, yang ketika dunia menepuk pundaknya dengan pujian tak lupa bahwa segala yang tinggi pada akhirnya akan kembali menjadi tanah. Simbok hanya ingin, ke mana pun anaknya melangkah, hatinya tetap tahu arah pulang—bukan sekadar ke rumah dengan pintu kayu yang menua, melainkan kepada Tuhan yang tak pernah menutup pintu-Nya. Ia tak memohon anaknya kaya, hanya jangan miskin iman. Ia tak memohon anaknya masyhur, hanya jangan asing dari zikir. Ia tak memohon anaknya dipuji manusia, hanya jangan lupa bahwa hidup ini cuma sebentar singgah di antara azan dan jenazah.
Bagi Simbok, tak mengapa anaknya hidup biasa-biasa saja, asal hatinya luar biasa dekat dengan Tuhan. Tak mengapa anaknya pulang dengan peluh di dahi dan lelah di pundak, asal di bibirnya masih ada nama Allah yang tak gugur. Sebab Simbok tahu, dunia terlalu pandai meminjamkan silau. Ia membuat manusia lupa bahwa gemerlap tak selalu cahaya, bahwa ramai tak selalu damai, bahwa tepuk tangan tak selalu berarti bahagia. Dunia bisa membuat anak kecil yang dulu hafal doa sebelum tidur tumbuh menjadi dewasa yang lupa cara mengetuk langit. Dan Simbok takut akan itu. Bukan takut anaknya miskin, bukan takut anaknya kalah, bukan takut anaknya tak punya apa-apa. Simbok hanya takut anaknya punya segalanya, kecuali Tuhan di dalam dadanya.
Itulah cemas yang paling sunyi dalam dada Simbok—cemas yang tak bersuara, tetapi diam-diam menggenangi setiap sujudnya. Maka setiap malam, ketika rumah telah lelap dan angin menyisir celah jendela, Simbok menengadahkan tangan dengan doa yang sederhana, namun tak pernah kecil di hadapan langit. Ia tak meminta anaknya menjadi yang paling tinggi; ia hanya meminta agar Tuhan tak membiarkan hati anaknya rendah di hadapan-Nya. Ia tak meminta hidup anaknya lapang tanpa luka; ia hanya meminta agar setiap luka yang datang mampu membawa anaknya kembali kepada Tuhan. Jika kelak anak itu berjalan jauh, Simbok berdoa semoga ia tak pernah jauh dari Tuhannya. Jika kelak ia tersesat, semoga rindu kepada Tuhan menjadi jalan pulangnya. Jika kelak dunia membuatnya lupa, semoga Tuhan menegurnya dengan cara yang paling lembut.
Begitulah Simbok mencintai. Tak dengan tuntutan yang tinggi, tak dengan ambisi yang berisik. Cintanya sederhana, tetapi dalam seperti sumur tua yang tak pernah kering meski kemarau panjang. Simbok tak ingin anaknya menjadi siapa-siapa. Ia hanya ingin anaknya tetap menjadi hamba. Sebab di mata dunia, barangkali itu cita-cita kecil. Namun di mata langit, tak ada yang lebih besar daripada hati yang tak lupa kepada Tuhannya.
