Masjid Al-Ikhlas biasanya tegak dengan kewibawaan yang meluap di sepuluh hari pertama Ramadan. Kala itu, saf salat jamaah meluber hingga ke teras, sandal jepit berserakan bak lautan plastik, dan AC masjid seolah menyerah mendinginkan ratusan kepala yang bersujud. Namun, begitu kalender memasuki hari ke-15, sebuah fenomena gaib mulai terjadi. Fenomena yang oleh Pak Haji mulyono, sang ketua takmir, disebut sebagai “Seleksi Alamiah Iman”.
Sore itu, Pak Mulyono berdiri di tengah ruang utama masjid yang mendadak terasa sangat luas. Ia memegang penggaris kayu panjang, mencoba meluruskan lakban hijau penanda saf.
“Dul, coba kamu lihat. Ini saf pertama saja tidak penuh. Ke mana orang-orang?” tanya Pak Mulyono pada Abdul, marbot muda yang sedang sibuk membersihkan sarang laba-laba di pojok mimbar.
Abdul turun dari tangga lipat, menyeka keringatnya dengan handuk kecil. “Waduh Pak Haji, bukannya sudah hukum alam? Sepuluh hari pertama itu fase ‘Semangat Arisan’, sepuluh hari kedua fase ‘Semangat Diskon’, dan sepuluh hari terakhir fase ‘Mudik Duluan’.”
Pak Mulyono menghela napas panjang. “Tapi ini drastis sekali, Dul. Kemarin malam saja, saf perempuan sisa dua baris. Padahal biasanya sampai ke parkiran motor.”
“Tadi saya lewat pasar kaget di ujung jalan, Pak Haji,” lapor Abdul sambil nyengir. “Ibu-ibu yang biasanya di saf depan sekarang lagi i’tikaf di depan tumpukan sirup sama kue kaleng. Katanya mumpung promo buy one get one.”
Malam itu, saat waktu Isya tiba, suasana Masjid Al-Ikhlas terasa sunyi yang ganjil. Sang Imam, Ustaz Mansur, sudah berdiri di mihrab. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan kesiapan jamaah. Wajahnya nampak masygul. Saf pertama hanya terisi setengah. Saf kedua hanya dihuni tiga orang anak kecil yang lebih sibuk membandingkan sarung karakter mereka.
“Rapatkan saf, luruskan barisan,” ucap Ustaz Mansur dengan mikrofon yang suaranya memantul-mantul di tembok masjid yang kosong.
Pak Mulyono, yang berada tepat di belakang imam, menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia merasa kesepian. Biasanya, di sisi kanannya ada Pak RT yang badannya lebar, dan di kirinya ada Koh asun yang baru mualaf. Malam ini, keduanya raib.
“Sst, Dul! Maju!” bisik Pak Mulyono setengah berteriak pada Abdul yang duduk di saf ketiga.
“Lho, saya kan mau jaga pintu belakang, Pak Haji. Takut ada sandal yang ‘hijrah’ lagi,” balas Abdul berbisik.
“Maju! Saf depan kosong ini! Nanti malaikat bingung mau kasih pahala ke siapa kalau safnya bolong-bolong begini!”
Abdul akhirnya merangkak maju dengan ragu. “Waduh, saya belum pakai minyak wangi, Pak Haji. Malu sama malaikatnya.”
Shalat Tarawih dimulai. Namun, ujian sesungguhnya bukan pada bacaan imam yang panjang, melainkan pada struktur saf yang labil. Di rakaat keempat, tiga anak kecil di saf kedua mendadak ‘menguap’ alias kabur ke teras karena mendengar suara tukang bakso lewat.
Seketika, saf kedua kosong melompong. Pak Mulyono yang sedang sujud bisa merasakan hembusan angin dari pintu belakang langsung mengenai punggungnya tanpa penghalang.
Selesai salam, Pak Mulyono langsung berbalik. Wajahnya merah padam.
“Jamaah sekalian, tolong… yang di belakang maju! Jangan biarkan setan i’tikaf di celah saf kita!” seru Pak Mulyono.
Seorang bapak tua di saf paling belakang menjawab dengan suara serak, “Aduh Pak Haji, kaki saya asam urat. Kalau maju ke depan nanti susah bangunnya kalau habis sujud. Di sini saja dekat tembok buat sandaran.”
“Lha, kalau semua mau dekat tembok buat sandaran, masjid ini mending kita kasih tembok semua saja di tengah-tengah!” balas Pak Mulyono gemas.
Ujian kembali datang di rakaat kedelapan. Kali ini, gangguan datang dari luar. Suara petasan anak-anak di lapangan sebelah membuat konsentrasi jamaah goyah. Beberapa pemuda yang tadinya ada di saf belakang, perlahan-lahan ‘mundur teratur’ saat ruku’, lalu menghilang lewat pintu samping.
Abdul berbisik pada Pak Mulyono saat jeda istirahat, “Pak Haji, itu si Rian sama gengnya kabur. Katanya mau nyari takjil sisa di balai desa.”
Pak Mulyono memijat keningnya. “Dunia ini memang aneh, Dul. Saat pintu surga dibuka lebar-lebar di bulan Ramadan, orang malah lebih milih pintu keluar masjid.”
Ustaz Mansur kemudian naik ke mimbar sejenak untuk memberikan kultum singkat. Ia menatap sisa-sisa jamaah yang nampak lunglai.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu,” buka Ustaz Mansur tenang. “Tahukah kalian kenapa saf kita maju mundur? Itu karena hati kita belum menetap. Kita puasa perutnya, tapi kakinya masih ingin lari mengejar urusan yang tak akan dibawa mati. Saf yang bolong ini adalah cerminan niat kita yang juga sedang bolong.”
Suasana mendadak hening. Kata-kata Ustaz Mansur masuk ke sela-sela ubin masjid yang dingin.
“Kita sibuk menyiapkan baju baru untuk badan yang fana, tapi kita lupa menyiapkan saf yang rapat untuk jiwa yang abadi. Ingatlah, mungkin ini Ramadan terakhir kita bisa merapatkan kaki dengan saudara seiman. Jangan sampai nanti saat kita sudah di dalam kubur, kita baru menyesal kenapa dulu di masjid kita selalu ingin duduk paling belakang dan pulang paling cepat.”
Kata-kata itu rupanya membekas. Di rakaat-rakaat terakhir, jamaah yang tersisa nampak lebih sungguh-sungguh. Mereka yang tadinya bersandar di tembok, perlahan-lahan menyeret pantat mereka maju, mengisi celah-celah kosong.
Setelah witir selesai, Pak Mulyono mendekati Abdul.
“Dul, besok kita buat strategi baru.”
“Strategi apa, Pak Haji? Pakai pagar kawat di pintu keluar?”
“Bukan. Kita buat pengumuman: ‘Barang siapa yang bertahan di saf pertama hingga malam ke-30, akan mendapatkan paket sembako dan doa khusus dari imam’. Kita lawan diskon mall dengan diskon pahala plus bonus dunia.”
Abdul tertawa. “Wah, itu namanya diplomasi mi instan, Pak Haji.”
Pak Mulyono tersenyum sedih. “Ya mau bagaimana lagi, Dul. Kadang manusia memang harus dipancing dengan hal-hal kecil agar mau mendapatkan hal yang besar. Tapi intinya satu, saya tidak mau melihat saf ini mundur lagi. Saya ingin kita semua maju, bukan cuma kakinya, tapi juga hatinya.”
Malam itu, saat lampu masjid satu per satu dipadamkan, Pak Mulyono berdiri di depan pintu. Ia menatap deretan sajadah yang kini rapi, meski jamaahnya sudah pulang. Ia sadar, saf yang maju mundur adalah bagian dari drama kemanusiaan. Namun di balik itu semua, ia berharap Tuhan tetap menghitung setiap inci langkah mereka yang tetap bertahan, meskipun godaan dunia di luar sana sedang diskon besar-besaran.
“Besok safnya harus rapat ya, Dul,” gumam Pak Mulyono sebelum mengunci pintu.
“Siap, Pak Haji. Kalau perlu nanti saya paku sajadahnya biar nggak bisa mundur!” jawab Abdul disambut tawa kecil yang bergema di keheningan malam pertengahan Ramadan.
Saf shalat adalah cerminan kedisiplinan jiwa. Saat barisan di masjid mulai renggang sementara barisan di pusat perbelanjaan semakin rapat, itulah saatnya kita bertanya: Ke mana sebenarnya tujuan lari kita? Shalat berjamaah bukan sekadar urusan berdiri berdekatan, tapi urusan merapatkan hati agar tidak ada celah bagi dunia untuk merusak khusyuknya perjumpaan dengan Sang Pencipta.
(Cerita ini adalah fiktif belaka , adapun kesamaan nama tokoh dan tempat dalam cerita ini adalah merupakan unsur ketidaksengajaan)
