Ilustrasi (sumber: Madrosah Sunnah/Unsplash)
Malam pertama tarawih selalu punya rasa yang berbeda. Ada semangat, ada harap, ada juga sedikit deg-degan. Tahun ini terasa lebih istimewa karena untuk pertama kalinya saya memutuskan ikut tarawih di masjid lingkungan rumah.
Selama ini saya lebih sering melaksanakannya di rumah. Sejak dulu saya memegang keyakinan bahwa bagi perempuan, salat di rumah adalah pilihan yang sangat baik. Tapi Ramadan kali ini, setelah hampir dua tahun tinggal di lingkungan baru dan mulai mengenal beberapa tetangga, saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Ingin merasakan kebersamaan, ingin belajar berbaur lebih jauh.
Sore harinya saya sudah janjian dengan saudara yang rumahnya berseberangan. “Nanti panggil ya kalau sudah mau berangkat,” pesan saya. Rasanya lebih tenang kalau ada teman.
Meski begitu, ada sedikit ganjalan di hati. Mungkin karena ini pertama kalinya saya benar-benar ikut beribadah di masjid sini. Setiap tempat tentu punya kebiasaan dan warna yang berbeda, dan saya sadar saya masih dalam proses menyesuaikan diri.
Menjelang azan Isya kami berangkat. Masjid sudah ramai sekali. Saya sampai berdecak kagum melihat antusiasme warga. Tempat akhwat di lantai dua pun hampir penuh, bahkan jamaah sampai meluber. Rasanya hangat melihat semangat seperti itu.
Ketika masuk lebih ke dalam, ternyata masih ada ruang yang cukup longgar. Beberapa jamaah duduk dengan sajadah yang cukup lebar, sehingga jarak antarorang masih berjarak. Dalam hati saya berharap nanti saat salat dimulai, barisan bisa lebih dirapatkan, karena merapatkan saf adalah bagian dari kesempurnaan salat yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Azan berkumandang. Sebagian besar berdiri untuk salat qabliyah. Di samping saya ada seorang remaja putri yang manis, mungkin seusia anak SMP. Ia tetap duduk. Saya tersenyum kecil saja.
Saat iqamah dikumandangkan, kami bersiap untuk salat Isya. Saya menunggu instruksi untuk merapatkan saf, tapi barisan tetap seperti semula. Saya sempat ingin menyesuaikan posisi agar lebih rapat, namun ruangnya tidak mudah. Akhirnya saya merapat ke saudara di sebelah kiri semampu saya.
Salat Isya berjalan lancar, walaupun suasananya cukup ramai. Ada suara anak kecil yang merengek—sesuatu yang sebenarnya lumrah dan sering terjadi di banyak masjid. Selesai salat, imam memimpin doa yang cukup panjang, lalu dilanjutkan tausiah. Saya mencoba menikmati semuanya sebagai bagian dari tradisi yang mungkin sudah lama hidup di sini.
Ketika masuk ke tarawih, ada beberapa bacaan dan doa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Jamaah menjawab dengan suara yang lantang dan penuh semangat. Anak-anak pun ikut bersahut-sahutan. Saya sempat terkejut, tapi lalu mencoba mengingatkan diri sendiri: setiap tempat punya kebiasaan masing-masing.
Di sela-sela itu, saya menyadari remaja di sebelah saya kembali dengan jajanan. Suara kriuk kecil terdengar di tengah doa yang panjang. Aroma makanan sempat tercium. Dalam hati saya tersenyum lagi—barangkali ini juga bagian dari dinamika Ramadan di sini.
Namun terus terang, di tengah semua itu, saya merasa sulit menemukan kekhusyukan yang biasanya saya rasakan ketika salat di rumah. Saya teringat satu hal sederhana: ibadah yang paling utama adalah yang paling sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ dan yang paling menghadirkan hati kita di dalamnya.
Bagi perempuan, salat di rumah adalah kemuliaan dan keringanan yang Allah berikan. Sementara bagi laki-laki, masjid adalah tempat utama mereka. Di masjid pun, kita semua punya tanggung jawab yang sama: menjaga kenyamanan bersama. Merapatkan saf, menjaga ketenangan, menahan diri dari hal-hal yang bisa mengganggu jamaah lain—semua itu bagian dari adab beribadah.
Malam itu saya pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan marah, bukan kecewa. Lebih kepada menyadari bahwa setiap orang punya jalan dan kenyamanannya masing-masing dalam beribadah.
Sampai di gerbang rumah, suami sudah menunggu. Kami tiba sekitar pukul 21.10—padahal jarak masjid hanya dua menit berjalan kaki.
Saya tersenyum kecil dan berkata pelan,
“Yah, besok sepertinya Nda tarawih di rumah saja.”
Suami hanya mengangguk. Ia paham.
Dan saya pun paham, bahwa inti dari semua ini bukan tentang di mana kita berdiri, tetapi bagaimana hati kita berdiri di hadapan Allah. Jika di rumah hati lebih tenang dan ibadah terasa lebih dekat dengan tuntunan Nabi, maka itu pun sudah lebih dari cukup.
