Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Di Jawa Barat, salah satu tradisi yang begitu lekat di hati masyarakat adalah munggahan. Kata “munggahan” berasal dari bahasa Sunda, dari kata munggah yang berarti “naik”. Makna ini tidak sekadar harfiah, tetapi simbolik: naik derajat, naik kesadaran spiritual, dan naik kesiapan diri dalam menyambut bulan yang penuh ampunan dan keberkahan.
Tradisi munggahan bukan sekadar pertemuan atau makan bersama. Ia adalah momentum refleksi, rasa syukur, dan penguatan kebersamaan. Semangat inilah yang terasa begitu hangat dalam kegiatan munggahan yang diselenggarakan oleh Sekolah Yayasan Ibnu Sina Ibnu Aqil (IAIS) Soreang. Dengan melibatkan seluruh jenjang pendidikan—mulai dari RA (TK), MI, MTs, hingga MA—acara ini menjadi peristiwa besar yang menyatukan keluarga besar IAIS dalam satu niat yang sama: menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang siap.

Para Ibu-ibu / Orang tua murid khusyu mengikuti pengajian ( Sumber : Humas IAIS)
Tradisi yang Mengakar, Nilai yang Dihidupkan
Di tengah kesibukan dunia pendidikan dan perkembangan zaman yang begitu cepat, menjaga tradisi adalah bentuk penghormatan terhadap akar budaya dan nilai-nilai luhur. Munggahan di IAIS bukan sekadar mengikuti kebiasaan masyarakat Jawa Barat, tetapi menjadi sarana menghidupkan nilai-nilai Islam dalam praktik nyata.
Munggahan mengajarkan rasa syukur atas kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan. Tidak semua orang diberi umur panjang untuk sampai pada bulan yang agung ini. Karena itu, kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk mensyukuri nikmat usia, kesehatan, dan kesempatan beribadah.
Sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman, IAIS menjadikan munggahan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Anak-anak belajar bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang mempersiapkan hati, memperbaiki diri, dan mempererat ukhuwah.
Sejak hari kemarin , suasana sekolah sudah terasa berbeda. Halaman sekolah dipenuhi warna-warni semangat. Anak-anak RA datang dengan wajah ceria. Siswa MI tampak antusias. Sementara siswa MTs dan MA menunjukkan kesiapan dan kedewasaan mereka.
Berbagai lomba digelar sebagai bagian dari rangkaian acara munggahan. Lomba-lomba tersebut dirancang tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai Islam.
Untuk jenjang RA, kegiatan seperti lomba mewarnai bertema Ramadhan dan menyebutkan doa-doa harian menjadi sarana memperkenalkan bulan suci dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak MI mengikuti lomba Tahfidzul -Quran ,Kaligrafi dan adzan, melatih keberanian sekaligus memperkuat hafalan mereka.
Sementara itu, siswa MTs dan MA mengikuti lomba pidato islami dan tahfidzul-Qur,an . Mereka diuji bukan hanya dari segi pengetahuan, tetapi juga kepercayaan diri dan kemampuan menyampaikan gagasan.
Sorak sorai dan tepuk tangan mewarnai setiap penampilan. Dalam suasana seperti ini, kemenangan bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah proses belajar, keberanian mencoba, dan kegembiraan berbagi momen bersama.
Kebersamaan Tanpa Sekat
Salah satu hal yang paling terasa dalam munggahan di IAIS adalah kebersamaan. Tidak ada sekat antar jenjang. Siswa RA hingga MA, guru, dan panitia melebur dalam satu suasana kekeluargaan.
Siswa yang lebih besar membantu adik-adiknya. Guru-guru dengan sabar membimbing dan memberi semangat. Tawa anak-anak berpadu dengan nasihat dan doa dari para pendidik. Suasana ini menghadirkan kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Munggahan menjadi ruang belajar sosial yang nyata. Anak-anak belajar tentang gotong royong, empati, dan rasa saling menghargai. Nilai-nilai ini jauh lebih dalam daripada sekadar teori di buku pelajaran.
Siraman Rohani Bersama Ustadz Nana Gerhana
Kegiatan munggahan semakin lengkap dengan hadirnya Ustadz Nana Gerhana, seorang ustadz yang dikenal luas di Jawa Barat. Kehadiran beliau menjadi momen yang ditunggu-tunggu.

Ustadz Nana Gerhana Sedang berceramah ( Sumber: Humas IAIS)
Ketika pengajian dimulai, suasana yang sebelumnya riuh perlahan berubah menjadi khidmat. Seluruh siswa duduk dengan tertib. Guru-guru menyimak dengan penuh perhatian.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Nana menyampaikan bahwa Ramadhan adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan jiwa. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan amarah, menjaga lisan, dan memperbaiki akhlak.
Beliau mengingatkan bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk membersihkan hati. Siapa yang menyambut Ramadhan dengan kesungguhan, insya Allah akan keluar dari bulan tersebut dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya.
Pesan-pesan beliau disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, sehingga dapat diterima oleh siswa dari berbagai jenjang. Ada kisah inspiratif, ada humor ringan, dan ada nasihat yang menyentuh hati. Tausiyah ini menjadi siraman rohani yang menyejukkan dan menguatkan niat seluruh peserta.
Setelah seluruh rangkaian lomba dan pengajian selesai, kegiatan munggahan ditutup dengan momen yang sangat bermakna: makan bersama dan bersalam-salaman untuk saling memaafkan.
Suasana berubah menjadi penuh kehangatan dan haru. Siswa, guru, dan seluruh warga sekolah berkumpul dalam kebersamaan. Makanan yang disajikan bukan sekadar santapan, tetapi simbol syukur dan persaudaraan.
Setelah makan bersama, seluruh peserta berdiri dan saling bersalam-salaman. Anak-anak dengan polos dan tulus mengucapkan, “Mohon maaf lahir dan batin.” Guru-guru menyambut dengan senyum dan doa.
Momen ini menjadi inti dari munggahan. Karena sebelum memasuki Ramadhan, hati harus dibersihkan dari rasa dendam, iri, dan kesalahpahaman. Saling memaafkan adalah langkah awal menuju kesucian diri.
Dalam Islam, memaafkan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Dengan saling memaafkan, diharapkan seluruh keluarga besar IAIS dapat memasuki Ramadhan dalam keadaan hati yang lapang, terbebas dari beban dosa sesama manusia, dan siap menjalankan ibadah puasa dengan kesucian yang lebih sempurna.
Tangis haru mungkin tidak terdengar keras, tetapi terasa di dalam dada. Ada kesadaran bahwa setiap manusia tidak luput dari salah. Dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulai kembali dengan hati yang lebih bersih.
Kegiatan munggahan ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik. Pendidikan sejati adalah yang menyentuh jiwa. Melalui lomba, anak-anak belajar percaya diri. Melalui pengajian, mereka belajar memahami makna ibadah.
Melalui makan bersama, mereka belajar berbagi. Melalui saling memaafkan, mereka belajar merendahkan hati. Inilah pendidikan yang utuh—yang membentuk akal sekaligus akhlak.
Dengan terselenggaranya munggahan ini, besar harapan bahwa siswa-siswi IAIS akan menjalani Ramadhan dengan penuh ketakwaan. Ketakwaan tidak lahir secara instan, tetapi tumbuh dari pembiasaan dan kesadaran. Semoga mereka menjadi generasi yang lebih rajin beribadah,lebih santun dalam berbicara,lebih sabar dalam bersikap,lebih peduli terhadap sesama dan lebih cinta kepada Al-Qur’an
Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Dan munggahan adalah gerbangnya. Munggahan di Sekolah Yayasan Ibnu Sina Ibnu Aqil (IAIS) Soreang bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah perwujudan rasa syukur, kebersamaan, dan kesungguhan dalam mempersiapkan diri menyambut bulan suci. Dari semarak lomba, khidmatnya pengajian bersama Ustadz Nana Gerhana, hingga hangatnya makan bersama dan saling bersalam-salaman, semua menyatu dalam satu tujuan: membersihkan hati dan menguatkan niat.

Makan bersama sebagai simbol kebersamaan para siswa-siswi ( Sumber : Humas IAIS)
Semoga siraman rohani yang diterima benar-benar meresap dalam jiwa para siswa. Semoga kebersamaan yang terjalin semakin erat. Dan semoga Ramadhan yang akan datang menjadi Ramadhan yang penuh makna, dijalani dengan hati yang bersih, dan ditutup dengan derajat ketakwaan yang meningkat. Karena sejatinya, menyambut Ramadhan bukan hanya tentang menunggu datangnya bulan suci, tetapi tentang memastikan hati kita siap untuk menerimanya.
