Iluastrasi: rauf Alvi/Unsplash
Bulan Ramadan sudah di depan mata. Euforianya mulai terasa, meski tak lagi seramai dulu ketika saya masih tinggal di desa. Saat itu, masyarakat menyambut bulan suci dengan berbagai kegiatan yang sederhana namun sarat makna: gotong royong membersihkan masjid, memperbaiki pengeras suara, mengecek beduk dan kentongan untuk sahur, hingga membersihkan jalan dan selokan bersama-sama.
Alasannya sederhana: mereka gembira menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah. Sarana ibadah dibersihkan agar lebih nyaman, akses jalan diperbaiki agar aktivitas lancar. Semua dilakukan agar ketika Ramadan tiba, tenaga dan pikiran bisa lebih difokuskan untuk beribadah, bukan tersita oleh urusan lain.
Kini, suasananya terasa berbeda, terutama di kota. Sebagian orang justru lebih sibuk dengan hal-hal yang tidak selalu berkaitan langsung dengan persiapan ibadah. Menjelang Ramadan, yang ramai dilakukan adalah memesan baju Lebaran, mengadakan acara makan-makan bersama teman dengan dalih “munggahan”, atau berburu kuliner dengan alasan, “mumpung belum puasa, nanti nggak bisa makan ini-itu.”
Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar mengisi perut dan lemari pakaian. Hal ini akan sangat membantumu mempersiapkan diri secara mental dan spiritual untuk memasuki bulan suci.
1. Melatih diri menahan hawa nafsu
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ibadah ini baru bernilai sempurna jika disertai dengan kemampuan menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi pahala: amarah, keluhan, keserakahan, dan ucapan yang sia-sia.
Maka sebelum Ramadan benar-benar datang, alangkah baiknya kita mulai berlatih sejak sekarang. Belajar menahan emosi, belajar bersabar, belajar tidak berlebihan dalam makan, dan belajar menerima ujian tanpa banyak mengeluh. Dengan latihan ini, kita tidak memulai Ramadan dalam keadaan kaget, tetapi sudah terbiasa mengendalikan diri sejak hari pertama.
2. Mempertinggi kualitas ibadah
Di bulan suci Ramadan pahala ibadah dilipat gandakan beratus kali lipat bahkan lebih. Sesuai dengan hadis Nabi Shalallahu alaihi wa sallam:
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya…'” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu memperbanyak ibadah dan mempertinggi kualitasnya dengan keshuyuan dna niat yang lurus hanya karena Allah semata, akan memberikan kita latihan agar nanti di bulan Ramadan sudah terbiasa melakukan amal ibadah dengan hati dan langkah yang ringan.
3. Memperbanyak puasa sunnah
Bulan Sya’ban adalah waktu yang baik untuk melatih diri dengan memperbanyak puasa. Dalam sebuah hadis, Aisyah RA berkata:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban. Bahkan terkadang beliau berpuasa hampir sebulan penuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa sunnah bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi juga melatih tubuh dan jiwa agar tidak kaget saat Ramadan tiba. Sebaliknya, kebiasaan makan berlebihan menjelang puasa justru bisa membuat tubuh mudah lelah dan cepat lapar ketika berpuasa.
Lebih dari itu, kebiasaan mengumbar nafsu makan dikhawatirkan membuat kita menjadi rakus saat berbuka. Semua makanan ingin dicoba, tanpa kendali. Akibatnya, tubuh terlalu kenyang dan ibadah malam seperti tarawih pun terasa berat dan kurang khusyuk.
4. Segera melunasi utang puasa
Hal ini sering dianggap sepele. Padahal, utang puasa Ramadan tahun lalu seharusnya sudah dilunasi karena kita memiliki banyak hari sepanjang tahun untuk menggantinya, kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa seperti Idulfitri, Iduladha, dan hari-hari tasyrik
Sebelum Ramadan tiba, sebaiknya kita segera menyelesaikan puasa qadha. Batas akhirnya adalah sebelum matahari terbenam di hari terakhir bulan Sya’ban. Artinya, jika masih ada utang puasa, kita masih memiliki kesempatan untuk menunaikannya sebelum memasuki Ramadan yang baru.
Simpulan
Ibadah bukan perkara ringan yang bisa diperlakukan seperti rutinitas biasa. Ramadan bukan sekadar perayaan tahunan yang identik dengan makanan dan pakaian baru, melainkan momen besar untuk memperbaiki diri.
Mari kita lebih serius menyiapkan hati dan jiwa, bukan hanya perut dan penampilan. Karena sejatinya, yang paling layak dipersiapkan untuk menyambut bulan suci Ramadan adalah diri kita sendiri: dengan kesadaran, pengendalian diri, dan niat untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
