Teman Separuh Langit.
Sebuah Cerpen Karya: Binti Wasunah
Pagi selalu datang dengan cara yang sama di Desa Watupring: embun menempel malu-malu pada ujung ilalang, matahari naik dari balik bukit yang bentuknya seperti punggung unta, dan suara ayam hutan memanggil hari. Tetapi bagi Ranu, anak lelaki berumur sebelas tahun dengan rambut acak dan langkah cepat, pagi selalu dimulai dengan sesuatu yang berbeda—langkahnya menuju hutan.
Ia membawa seutas tali tipis dari serat kulit pohon yang ia rajut sendiri. Tali itu bukan untuk menangkap apa pun, melainkan untuk menuntun seseorang. Atau lebih tepatnya, seekor rusa. Rusa itu bernama Arga.
Arga bukan rusa biasa. Ia tak lagi melihat dunia. Matanya tertutup warna putih kusam, bekas luka lama yang membuatnya hidup dalam gelap sejak beberapa musim lalu. Ketika Ranu pertama kali menemukannya, Arga terjebak dalam perangkap pemburu. Tubuhnya gemetar, kakinya berdarah, dan kepalanya berjuntai lemah di antara akar-akar pohon beringin.
Saat itu, Ranu tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya tahu satu hal: hewan itu tidak boleh mati. Dengan tangan kecil yang belum terbiasa pada hal-hal besar, Ranu melepaskan perangkap itu. Ia menenangkan Arga dengan bisikan patah-patah, seolah bicara pada bayi yang menangis. Ajaibnya, rusa yang biasanya liar itu diam saja—seakan tahu bahwa bocah ini datang dengan hati yang utuh.
Sejak hari itu, jadilah mereka dua makhluk yang tidak bisa dipisahkan.
“Arga… aku datang,” seru Ranu dengan lirih begitu ia memasuki kawasan lumut tempat rusa itu tinggal.
Langkah halus terdengar dari balik semak. Seekor rusa cokelat dengan tanduk pendek muncul, kepalanya mengarah ke suara Ranu meski mata itu tidak melihat apa pun.
“Ayo, kita berangkat sebelum matahari terlalu tinggi,” kata Ranu sambil mengikat tali itu perlahan ke leher Arga.
Sentuhan itu lembut. Arga mengendus tangan Ranu, lalu menggerakkan telinganya dengan cara yang hanya dimengerti mereka berdua. Anak itu tersenyum, lalu mulai berjalan.
Perjalanan menuju ladang selalu menjadi ritual yang sunyi namun penuh makna. Ranu bercerita tentang berbagai hal—tentang ikan di sungai yang bentuknya seperti pisau kecil, tentang neneknya yang selalu memarahi ayam betina, tentang mimpinya semalam yang ia lupa awalnya tapi ingat akhirnya. Arga hanya mendengarkan. Dan meski ia tak bisa menjawab, ada sesuatu dalam gerakan tubuhnya yang seolah berkata: ceritakan lagi, aku suka mendengar suaramu.
Setiap kali mereka sampai di ladang, Arga akan menunduk dan merasakan rumput segar dengan hidungnya. Ia makan perlahan, hati-hati, tapi dengan kegirangan yang membuat Ranu selalu ingin tertawa. Bagi orang lain, mungkin ini hanya seekor anak lelaki dan seekor rusa. Tetapi bagi Ranu, Arga adalah dunia separuhnya.
Suatu pagi, ketika angin terasa lebih dingin dari biasanya, Ranu melihat sesuatu yang membuat dadanya menegang. Di tanah, ada jejak kaki manusia yang dalam—jejak yang menujunya, jejak yang bukan miliknya.
Ia berjongkok, menyentuh tanah itu. Bekas sol sepatu. Ukurannya besar.
Pemburu.
Ranu memutar badan, menatap Arga yang sedang memakan rumput. “Kita harus hati-hati hari ini,” ucapnya.
Arga mengangkat kepala, seakan memahami nada itu meski tidak mengerti kata-katanya.
Hari itu, Ranu terus menengok ke belakang. Dan setiap kali angin berdesir, ia merasa ada mata lain yang mengikuti mereka dari balik pepohonan.
Tak salah firasatnya.
Sore itu, ketika Ranu hendak mengantar Arga kembali ke tempat persembunyiannya, sebuah suara mengejutkan mereka.
“Kau anak yang mengurus rusa itu, ya?” Ranu membalik badan cepat. Seorang laki-laki dengan pakaian lusuh dan wajah penuh brewok berdiri di sana. Di punggungnya tergantung busur besar. Matanya menatap Arga dengan cara yang membuat darah Ranu mendingin.
“Tidak,” jawab Ranu cepat, “aku hanya lewat.”Laki-laki itu tersenyum miring.
“Jangan bohong. Jejak kalian berdua mudah diikuti.” Ia melangkah lebih dekat. Arga mundur panik, mengendus udara, tak tahu arah bahaya.
“Rusa ini spesial,” kata laki-laki itu lagi. “Jinak. Dan rusa jinak bisa dijual mahal.” Ranu menggenggam tali di tangannya lebih erat, jantungnya berdegup sangat keras hingga telinganya berdenging.
“Pergi,” katanya pelan tapi tegas.
Lelaki itu tertawa kecil. “Kau pikir aku takut pada anak ingusan?”
Tanpa pikir panjang, Ranu menarik Arga dan berlari. Lari itu terasa panjang sekali—melompati akar pohon, melewati semak berduri, mendengar suara langkah berat pemburu mengejar dari belakang.
“Tolong… cepat, Arga,” bisik Ranu sambil menuntun rusa itu sebisa mungkin. Arga tersandung dua kali, tapi terus berusaha. Mereka berlari sampai cahaya sore berubah menjadi keemasan. Namun suara langkah pemburu itu tak pernah benar-benar hilang.
Akhirnya mereka sampai di sebuah celah batu besar yang jarang dilewati orang. Di sinilah Ranu biasa bersembunyi dulu saat bermain petak umpet bersama teman-temannya. Celah itu cukup besar untuk dua tubuh anak dan rusa. Mereka masuk dan menahan napas. Langkah pemburu terdengar semakin dekat… lalu berhenti.
“Baiklah,” suaranya terdengar pelan tapi mengancam, “Aku akan menemukannya. Besok. Lusa. Sampai dapat.”
Tau-tau suara itu menjauh, perlahan, lalu hilang. Ranu akhirnya melepaskan napas. Ia memeluk leher Arga. Rusa itu menggoyangkan telinganya, merasakan ketakutan Ranu dan membalas dengan keheningan yang menenangkan.
Malam itu, Ranu tidak pulang. Ia tidur dalam dinginnya celah batu, dengan Arga di sampingnya. Dan di malam itu pula ia berpikir: bagaimana kalau pemburu itu benar-benar kembali? Bagaimana kalau suatu hari ia berhasil menangkap Arga? Hatinya sakit hanya membayangkannya.
“Aku harus melindunginya,” gumam Ranu dalam gelap. “Apa pun caranya.”
Esoknya, Ranu datang ke rumah Kakek Sarman, satu-satunya orang yang ia percaya mengerti hutan lebih dari siapa pun.
Kakek Sarman mendengarkan cerita Ranu tanpa memotong. Tatapannya tajam, tetapi suaranya tenang. “Anak, hutan ini bukan tempat aman untuk hewan yang sudah jinak. Pemburu itu benar—rusa jinak adalah buruan yang menggiurkan.”
“Aku tak mau melepas Arga,” kata Ranu, suaranya pecah.
Kakek Sarman menghela napas. “Kadang, untuk menyelamatkan sesuatu, kita harus melepaskannya.” Kalimat itu menusuk jauh di hati Ranu.
“Tapi dia… dia teman saya,” ucap Ranu nyaris berbisik.
“Justru karena kau menganggapnya teman,” jawab kakek itu lembut, “kau harus memberi dia kesempatan hidup yang lebih luas daripada bayangan tali kecilmu. Ranu tidak menjawab, tapi air matanya perlahan jatuh.
Sore itu, Ranu membawa Arga ke bukit yang menghadap lembah. Dari sini, hutan terlihat sangat luas, seakan tak punya ujung. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah.
“Arga…” suara Ranu tremor, “aku ingin kau hidup. Bukan… bukan hanya bertahan karena aku menuntunmu.” Rusa itu mendekat, mengendus bahu Ranu.
“Aku tahu kau tak bisa melihat. Tapi di luar sana… ada dunia besar yang mungkin bisa menerima kamu lebih baik daripada tempat ini.” Tangan Ranu menggenggam tali itu. Tali yang selama ini menjadi jembatan antara dua kehidupan.
“Aku…” suaranya pecah, “…aku harus melepas kamu.” Perlahan, ia membuka simpulnya. Tali itu jatuh ke tanah.
Arga berdiri bingung, bergerak sedikit, kemudian menunduk menuju suara napas Ranu. Seolah berkata aku tidak pergi kecuali kau yang menuntun. Ranu menangis.
“Pergilah… sebelum pemburu itu kembali. Kamu harus pergi, Arga. Kamu harus selamat.”
Ia mendorong Arga perlahan ke arah lembah. Rusa itu maju beberapa langkah, lalu ragu, lalu maju lagi. Hingga jarak mereka mulai renggang. Ranu menatapnya sampai bentuk cokelat itu menyatu dengan warna hutan. Saat hilang sepenuhnya, barulah Ranu sadar: hatinya ikut hilang sebagian. Ia berlutut di tanah, menutup wajah dengan kedua tangan.
Musim berganti. Pemburu itu tidak pernah kembali. Desa kembali tenang. Tapi hutan terasa berbeda tanpa satu sosok yang biasa menunggu di bawah pohon lumut. Namun suatu pagi, ketika Ranu berjalan menuju ladang sambil membawa keranjang kecil, ia mendengar sesuatu suara langkah halus yang sangat ia kenal.
“Arga…?”
Dari balik ilalang tinggi, seekor rusa cokelat muncul. Tanduknya lebih besar kini. Matanya tetap tanpa cahaya, namun langkahnya lebih yakin. Dan di sampingnya, seekor anak rusa kecil berjalan—dengan mata yang jernih dan penuh rasa ingin tahu.
Senyum perlahan muncul di wajah Ranu. Air matanya jatuh tanpa ia tahan.
“Terima kasih… kau kembali,” bisiknya. Arga mendekat, mengendus tangan Ranu dengan cara yang dulu sering ia lakukan. Namun kini ia tidak lagi bergantung. Ia datang bukan karena butuh dituntun—melainkan karena ia mengingat.
Dan Ranu mengerti:
Teman sejati tidak hilang hanya karena dilepas.
Ia hanya menemukan langitnya sendiri—dan tetap pulang ke separuh yang lain.
Ranu menyentuh kepala Arga, hatinya penuh.
“Selamat datang kembali, Teman Separuh Langit.”
