IV. Soekaesih dan Sorak Penonton
Lampu panggung menyala redup di awal malam pertunjukan. Tirai beludru merah menggantung diam, menyembunyikan dunia yang akan bangkit sebentar lagi. Di baliknya, Devi berdiri dalam diam, mengenakan kostum karakter Soekaesih: kebaya sutra lembut berwarna biru langit dengan selendang batik yang melilit di bahu. Tangan mungilnya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena menyadari bahwa malam ini bisa mengubah segalanya.
Willy Piedro menatapnya dari kejauhan, wajahnya serius namun menyimpan harapan. Di sampingnya, pemain-pemain lain bersiap, ada yang gugup, ada yang skeptis. Devi, gadis pengamen dari Besuki, akan menjadi pusat perhatian pada pentas utama. Tak ada jaminan. Hanya kepercayaan.
Suara bel panggung berbunyi tiga kali. Penonton yang memenuhi aula mulai tenang. Tirai perlahan terbuka. Di sanalah Devi berdiri, di tengah latar panggung yang menggambarkan ruang tamu rumah bangsawan, wajahnya ditundukkan sesuai naskah, dan tubuhnya tegak—siap menampilkan tokoh Soekaesih, gadis ningrat yang jatuh cinta pada seorang dokter muda dari golongan rakyat biasa.
Dialog pertama dilafalkan dengan lirih tapi jelas, dan seperti sihir, penonton tersentak. Kata-katanya mengalir seperti puisi: “Aku tidak memilihmu karena gelar atau jabatan, aku memilihmu karena getar jiwaku mengenalmu sebelum mulutku sempat menyebut namamu.”
Penonton larut dalam lakon. Mereka tidak melihat pengganti. Mereka melihat Soekaesih yang hidup. Gerakan tangan Devi luwes, tatapannya lembut namun menyimpan kekuatan. Ketika adegan menangis tiba, air matanya jatuh bukan karena latihan, tapi karena perasaan yang benar-benar tumbuh selama ia mendalami karakter. Tangis itu bukan sekadar akting—itu adalah luapan hati seorang gadis yang akhirnya didengarkan.
Selama satu jam pertunjukan, penonton tak berkedip. Ketika adegan terakhir selesai dan tirai ditutup, keheningan meliputi ruangan. Lalu, satu tepuk tangan. Disusul yang lain. Dan dalam hitungan detik, seluruh ruangan bergema oleh sorak dan tepuk tangan panjang yang tidak kunjung berhenti.
Willy melangkah ke panggung, berdiri di samping Devi, lalu mengangkat tangannya tinggi.
“Ini Devi Dja,” katanya tegas. “Bintang baru kita.”
Di belakang panggung, para pemain menatap dengan perasaan bercampur. Ada yang tertunduk, ada yang berseri. Yuli Mahasari, aktris senior yang sebelumnya meremehkannya, mendekat dan berkata pelan, “Ternyata, panggung memilihmu juga.”
Malam itu menjadi titik balik. Nama Devi Dja mulai diperbincangkan. Surat kabar lokal menulis, “Penampilan yang menggetarkan. Gadis muda itu bukan hanya tampil, ia merasuk.” Tiba-tiba panggilan untuk tampil di kota lain berdatangan. Surabaya, Medan, Padang, dan bahkan panggilan dari luar negeri. Panggung mulai bersinar. Tapi cahaya itu juga membawa bayangan.
Dalam hati Devi, sorak penonton tak hanya membesarkan jiwa, tapi juga membangkitkan pertanyaan: Siapa aku di balik karakter ini? Apakah aku masih Misri si anak jalanan, atau aku sudah menjadi Devi Dja yang dibentuk panggung?
Pertanyaan itu akan terus bergema dalam hidupnya, bahkan ketika panggung berganti negara dan sorakan berganti bahasa.
___
Bersambung ke bagian V. Jangan lupa baca juga bagian sebelumnya.
