“Aku bukan siapa-siapa yang menunggu siapa-siapa.
Tapi jika kau lewat dan duduk di sampingku,
kau akan tahu: hatiku tak pernah pergi dari bangku ini.”
— Arifin_
Senja itu merayap lambat di atas jalanan Kayutangan. Cahaya jingga menyembur dari balik gedung-gedung tua, menelusup di antara celah pohon Trembesi yang daun-daunnya menggigil pelan. Angin lembut membelai wajah-wajah yang berlalu-lalang, sebagian tak menoleh, sebagian menoleh namun tak menyapa.
Tapi dia—lelaki tua dengan jas abu-abu lusuh dan topi fedora yang sudah memudar—tetap di sana. Duduk di bangku besi tua yang catnya mengelupas, menghadap jalan, tak menoleh pada siapa pun. Dia diam, tapi dari diamnya, tampak jelas: dia sedang berbicara. Entah kepada siapa.
Orang-orang memanggilnya Pak Gombloh. Sebutan yang ganjil bagi sebagian, namun akrab bagi warga Malang yang sudah terbiasa melihatnya. Ia seperti bagian dari lanskap kota. Seperti jam tua yang tak lagi berdetak tapi tak bisa dibuang—karena keberadaannya mengikat waktu, diam-diam memberi makna pada keramaian yang acuh.
“Dia selalu di sana,” ujar Bu Yati, penjual kacang rebus yang biasa mangkal tak jauh dari taman. “Pagi, siang, bahkan kadang malam. Duduk. Mandangin jalan. Kadang nulis di kertas kecil. Kadang ngomong sendiri.”
Tak ada yang tahu pasti siapa dia. Tapi anak-anak muda yang gemar main kamera dan unggah-unggah di media sosial menjadikannya bahan foto favorit. Caption-nya selalu mirip: “Menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang.”
Lalu muncul komentar-komentar jenaka, kadang sinis, kadang iba:
“Cinta sejati? Ah lebay.”
“Kalau gue sih udah nyerah dari awal.”
“Kasian, kayak hidup nggak punya tujuan.”
Tapi Pak Gombloh—atau nama aslinya, Arifin—tak membaca komentar itu. Ia tak punya ponsel, bahkan rumahnya pun entah di mana. Ada yang bilang dia tinggal di rumah bedeng belakang pasar bunga, ada juga yang bilang dia tidur di masjid tua dekat rel kereta. Tapi pagi-pagi sekali, sebelum kota benar-benar membuka matanya, Arifin sudah duduk di sana. Bangku itu, Kayutangan, adalah rumah sejatinya.
Suatu kali, seorang pemuda menghampirinya. Membawa dua gelas kopi hitam di dalam kantong plastik. Ia menyodorkannya tanpa banyak bicara.
“Pak… saya sering lihat Bapak. Sebenarnya, nunggu siapa sih?” tanyanya, ragu-ragu.
Arifin menoleh. Senyumnya tipis, suaranya lembut seperti angin sebelum hujan.
“Aku nunggu Laras,” jawabnya pendek.
“Siapa itu, Pak? Anak Bapak?”
“Bukan. Dia kekasihku.”
“Wah… sekarang di mana dia?”
Arifin diam. Matanya menerawang ke arah langit yang mulai gelap.
“Sudah lama sekali… dia janji akan kembali ke sini. Di tempat ini. Saat semuanya sudah tenang.”
“Sejak kapan, Pak?”
“Sejak… tahun tujuh puluh.”
Pemuda itu tercekat. Tahun 1970? Hampir lima dekade lalu. Matanya menatap lelaki tua itu seperti menatap batu zaman, kokoh sekaligus lapuk.
“Tapi, Pak… kalau nggak datang-datang, kenapa masih nunggu?”
Arifin tersenyum, mengangkat satu kertas kecil dari saku jaketnya. Ada tulisan tangan rapi dengan tinta pudar:
“Jangan kemana-mana, Fin. Kalau semua ini reda, aku akan menemuimu. Di bangku tempat kita biasa duduk. Janji.”
— Laras
“Karena janji itu, Nak,” gumam Arifin. “Karena janji adalah satu-satunya hal yang tak bisa dikubur waktu, kalau kita mau menjaga.”
Mata pemuda itu berkaca-kaca. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Ia pamit pelan, dan sebelum pergi, ia berjanji dalam hati akan kembali membawa selembar roti dan secarik kertas kosong. Mungkin, Pak Gombloh bisa menulis lagi.
Langit mulai pekat. Lampu jalan menyala satu per satu. Angin malam datang membawa dingin. Arifin menggenggam topinya, memandang jalanan yang kosong. Lalu, pelan-pelan, ia menulis sesuatu di buku kecilnya:
“Hari ini Laras belum datang. Tapi aku tetap di sini.
Karena cinta tak ditentukan oleh kehadiran,
tapi oleh siapa yang berani menunggu sampai akhir cerita.”
Bangku itu tetap hangat oleh tubuhnya. Dan Kayutangan, diam-diam, mencatat setiap bait yang ditinggalkan cinta yang tak pernah pulang.
