Pertikaian terjadi di antara keluarga karena tidak adanya komunikasi, dialog & kebersamaan.
Menurut informasi yang tersebar bahwa kehancuran jepang oleh Amerika Serikat karena bom atom disebabkan diskomunikasi. Gedung, rumah dan semuanya rata tanpa tersisa sedikitpun kehidupan di sana. Dalam kasus Indonesia dengan malaysia yamg pernah ramai kesalaham mengartikan kata “diperakui”. Keteganganpun terjadi, tetapi Malaysia memvertifikasi bahwa arti kata itu bukan mengklaim namun disahkan.
Jika kita berfikir dalam 2 kasus itu harusnya bisa belajar bahwa ketegangan dan konflik tajam bisa terjadi jika ada kesalahan pemahaman dalam berkomunikasi. Sisi lain, perkembangan dunia anak ada alat khusus untuk bayi yang nangis agar mampu memahami bahasanya apakan ingin ASI atau ngantuk.
Jadi, mengapa manusia dewasa saat ini masih saja tidak bisa berdialog padahal sudah sama-sama bisa komunikasi?
Interpersonal communication merupakan prilaku yang biasa ditemukan di sekeliling kita terutama di ranah terkecil yaitu keluarga. Kegiatan ini sangat penting mengingat kualias waktu berdialog akan melahirkan kedekatan, keramahan dan saling memahami satu sama lain. Karena, target hidup setiap penduduk keluarga itu berbeda sehingga rentan sekali adanya ketimpangan kepentingan yang mengganggu satu sama lain maka dari itu untuk mengantisipasinya diperlukan adanya komunikasi.
Berdialog akan melahirkan keseimbangan antarpribadi dalam keluarga, karena kita menyadari bahwa kita adalah manusia biasa bukan malaikat yang memiliki pemahaman satu sama lain tanpa ada komunikasi. Namun, yang paling penting adalah peran orangtua dalam mengolah dialog agar tidak terkesan lebih dominan salah satu anaknya. Sebab, jika hal tersebut tidak efektif akan melahirkan kejengahan dalam bertukan pikiran karena kita sudah tahu bahwa keputusan orangtua sebagai pengendali keputusan akan memilih anak yang menurutnya dominan tanpa memperhatikan argumentasi anak lain.
Jika sudah tertanam budaya tersebut akan melahirkan keretakan dan konflik berkelanjutan karena setiap permasalahan selalu diakhiri dengan itu dan akhirnya menunggu bom waktu untuk meledak. Hubungan saudara sedarah yang harusnya saling mengasihi menjadi seperti orang asing sedangkan orang lain yang mengasihi seperti saudara sedarah.
Inilah fakta yang sering terjadi di sekeliling kita. Jika peran kita sebagai orang tua harus bisa menampung semua aspirasi anak-anaknya dan ambil keputusan seadil-adilnya. Sedangkan jika peran sebagai anak selayaknya harus tetap beradab dalam menyampaikan argumentasi kepada orang tua. Tetap berdialog dengan saudara sedarah akan tercipta kebersamaan hingga tidak memberikan warisan konflik kepada generasi selanjutnya.
