ilustrasi keras kepala
“Sejak kapan kamu jadi keras kepala?”
satu kalimat pertanyaan menutup percakapan hari ini yang kudapatan dari seseorang yang katanya menjadi sebagai “pengganti bapak” di sebuah pesan Whatsapp.
Aku mendengus kesal.
Sedang sibuk begini merusak mood saja! Siapa juga yang keras kepala?
**
Aku, si mahasiswa yang nekat nikah diumur 21an dan sekarang anakku sudah masuk SD. Baru saja. Iya, hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah. Aku merasa sangat senang saat dia bisa memulai hari pertama pergi ke sekolah barunya dengan semangat. Walaupun tanah basah, becek dan lengket sisa diguyur hujan. Langit mendung, orang-orang berdesakan di jalanan yang macet.
Damn, hari pertama masuk sekolah di bulan Juli. Setelah liburan semester genap yang cukup panjang, akhirnya disambut dengan berkah hujan di hari pertama sekolah. Mendung yang sendu tidak lantas menyurutkan semangat anak semata wayangku untuk pergi ke sekolah sebagai siswa Sekolah Dasar.
Untuk sampai ke sekolah, kami mengambil jalan pintas, dengan menggunakan dua motor karena banyaknya barang bawaan. Suami yang baru tahu jalan pintas itu mengekor di belakang sambil membonceng jagoan. Sedangkan aku membawa barang-barang bawaan.
Di perempatan jalan kami bertemu dengan salah seorang tetangga kami. Anaknya sekolah di tempat yang sama dengan anakku.
“Mana anak?” tanyanya.
“Tuh sareng bapakna (tuh sama ayahnya),” jawabku.
Memasuki area parkir sekolah, kudapati mobil-mobil yang parkir berjejer. Area sekolah yang cukup luas untuk lebih dari 10 mobil. Namun tetap berdesakan karena aktivitas mobil yang keluar-masuk area. Tidak heran siswa baru diantar dengan mobil karena orang tua tidak ingin mereka kebasahan, dan tetap aman walaupun hujan mengguyur hebat pagi ini.
Gak aneh sih, kayanya ini bakal jadi pemandangan biasa setiap pagi nantinya.
Aku menjinjing tas kecil dan dua goody bag berisi peralatan sekolah anakku yang akan disimpan di loker dan satu goody bag lagi berisikan tanaman hias. Sekolah ini terkenal dengan adiwiyata school. Jadi tidak heran apabila seluruh siswa diminta untuk membawa tanaman ke sekolah.
“Tolong, Mak” suara kecil anakku memanggil. Ia meminta aku membukakan jas hujan yang dipakainya. Suamiku menyusul di belakangnya.
Pagi gerimis, aku dan anakku membuka jas hujan dan menyimpannya di atas spion motor.
“Aduh, deg-degan deh,” kata anakku dengan ekspresi menggemaskan. Tanpa berhenti, ia lantas berjalan menghampiri gedung kelas.
“Deg-degan ya? Gak apa-apa, itu hal yang wajar,” ucapku mencoba meyakinkan.
Sesampainya di depan kelas, anakku sudah disapa oleh temannya sewaktu di TK. Bocah gempal mirip salah satu karakter di film Jumbo. Dengan ramah dan ceria ia menghampiri anakku. Dengan riang ia menyapa dan bergegas mencium punggung tanganku. Rupanya dia sudah menunggu anakku sedari tadi.
“Gemes ya, sudah pada SD!” ucapku sambil menghampiri ibunya anak itu. Kami cipika-cipiki sebagai ritual ibu-ibu yang sudah akrab ketika bertemu.
Syukurlah, gugup anakku sudah mulai reda. Ia duduk di sebelah temannya yang sekarang sudah saling menemani dalam kelas.
Lega rasanya. Ada bangga bercampur haru dalam hati ketika melihat buah hati tumbuh dan berkembang dengan hebatnya. Masuk sekolah di hari pertama tanpa drama.
Terima kasih ya Allah. Engkau telah menganugrahkan obat terbaik untuk rasa lelah dan pilu di hati dan pikiranku dengan senyuman dan semangat dalam diri anakku.
**
Aku duduk di kursi kerjaku. Entah mengapa, mataku masih berkaca-kaca mengingat kejadian hari ini dari bangun pagi yang sangat heboh. Harus ke tempat kerja sebelum mengantar anak sekolah di hari pertama, lalu kembali lagi ke tempat kerja setelahnya.
Kayaknya ini adalah hari tersibuk seluruh ibu yang mempunyai anak sekolah deh.
Luar biasa, ternyata akhirnya hari ini tiba juga dalam hidupku dan aku benar-benar merasakannya.
Walaupun hari ini sangat terasa lelah, (nyaris sama dengan hari-hari sebelumnya) tetapi hari ini akan dikenang oleh anakku selamanya.
Belum juga rasa lelahku hilang, sebuah pesan muncul di ponsel pintarku.
“Mau jam berapa besok rapat? Besok Aa jemput jam 11.”
Aku membalas, “Kemana? kan tadi pak kurikulum dan kesiswaan saja yang akan pergi. Abi moal ngiring (saya ga akan ikut). Gimana wakasek saja.”
Tidak diduga, karena kukirim jawaban itu, pengirim pesan bertanya lagi, “sejak kapan kamu keras kepala? Dulu mah nurut2 aja sama Aa téh?”
Kubalas dengan tegas dan lugas,
“sejak aku menikah”
—————————————————-
Bersambung ….
