Sore ini, hujan baru saja berhenti. Langit masih abu, udara masih lembab, juga jalanan masih basah. Genangan air membuat langkahku sedikit terganggu, aku mencoba menghindar.
Jaket biru yang kukenakan kuyup, lebih terasa di bagian penutup kepala. Badanku seperti ditusuk-tusuk oleh sebongkah es batu tajam, dingin sekali sampai mau mati. Namun aku mencoba untuk acuh tak acuh, dalam pikiranku sekarang hanya satu,
Aku harus cepat pulang.
Sialnya, beberapa tetes hujan kembali turun. Lama kelamaan semakin deras, terpaksa harus ku berteduh. Syukur aku menemukan sebuah kedai kopi di ujung jalan. Secangkir kopi hangat di tengah hujan mungkin dapat membuat pikiranku sedikit tenang.
Aroma khas kopi menyeruak begitu aku membuka pintu kedai kopi itu. Seorang pria tua menyambutku dengan senyuman hangat dari balik meja kasir.
“Hari yang dingin, Nona.. Mungkin secangkir kopi hangat?” tawar pria itu tanpa memudarkan senyumannya.
Aku mengangguk, “Kopi susu panas satu, tolong. Dan…” aku memotong kalimatku, sang pria tua menunggu.
“Dan tolong dibuat dengan sepenuh hati,” aku sedikit tertawa, pun pria tua itu.
Aku melangkah ke arah kursi kosong di sebelah jendela. Duduk, lalu membuka ponsel. Hari ini hujan akan turun hingga malam, tentu aku tak bisa segera pulang. Aku menggerutu kesal.
Kusimpan ponselku, lalu mengedarkan pandanganku ke luar jendela. Sepi, hanya ada satu-dua kendaraan yang lewat. Ramai oleh tetes air hujan yang berlomba-lomba menyentuh tanah.
Juni-ku tahun ini, sungguh terasa berat. Bayangan kepergian seseorang yang sangat aku cintai enam tahun yang lalu itu kembali menghampiriku, seolah membuka luka lama yang selama ini susah payah kucoba untuk menutupnya.
Dia, cinta pertamaku yang pergi begitu saja, meninggalkanku sendiri, hanya berteman kenangan yang ia beri. Tak ada kata pamit, tak ada kata terima kasih, pun tak ada kata maaf.
Lamunanku buyar saat kudengar suara lonceng yang ada di atas pintu masuk berbunyi. Seorang pria muda bertubuh jangkung dengan rambut pendek tak sampai telinga. Rahang yang tegas terlihat jelas dari pinggir, membuat proporsi wajah pria itu terlihat menakjubkan.
Pandanganku tak bisa lepas darinya, seolah ia mempunyai magnet yang menarik bola mataku. Aku terus memandangnya, hingga netraku dan netranya beradu tatap.
Dunia terasa berhenti sejenak, jantungku berpacu lebih cepat, seakan ini adalah penampilan pertamaku di atas panggung. Badanku membeku, suara hujan pun seolah tak terdengar.
Pria itu menghampiriku, kakinya yang panjang membuat langkahnya lebih cepat. Tolong, aku sudah tidak bisa mengontrol diriku.
“Hai?”
Aku tak dapat membalasnya, sibuk mencerna apa yang sedang terjadi. Dia.. Cinta pertamaku yang baru saja aku pikirkan, ada di hadapanku. Sekarang.
Tanpa permisi, ia duduk di meja yang sama denganku. Bersamaan dengan pesananku yang diantarkan pelayan.
Aku menyesap kopiku, sedikit. Hanya untuk mengalihkan pandangan, menunduk menatap secangkir kopi di depanku, enggan untuk menatapnya lagi.
“How’s life?”
Sialan, baru bertemu setelah meninggalkan luka sebegitu besarnya, lalu bertanya kabar dengan mudah? Pikirkan sendiri!
“I’ve been thinking about you lately. I just go back to here and i saw a glimpse of you everywhere.. even in the corner of the city.”
Aku hanya mengangguk, masih tak berani membalas. Hatiku berkecamuk hebat. Perasaan senang, sedih, dan marah semuanya bercampur jadi satu. Dan aku tahu, semua perasaan itu dipimpin oleh satu yang tak bisa aku kalahkan, nostalgia.
“I’m sorry, i’m really sorry.. 6 years ago, this month, i’m leaving without any goodbye. I disappeared as if i never existed in the world, and today i sit infront of you. i think our path cross again.”
“My mom and my dad divorced that day.”
Aku akhirnya mengangkat kepalaku, menatapnya. Banyak yang berubah, aku seakan tak mengenali dirinya lagi. Tapi tatapan matanya itu.. masih sama seperti enam tahun yang lalu.
“Ibu membawaku pergi. Bahkan aku tak sempat untuk memeluk Ayahku sekali lagi. Aku tak sempat berpamitan pada teman-temanku, juga.. denganmu.”
“Ibu memutus semua kontak dengan orang-orang di kota ini. Aku tinggal di Singapura selama 5 tahun, dan 1 tahun di Kalimantan. Aku terus mencari akses untuk menghubungimu, tapi nihil. Aku benar-benar seakan terputus dari dunia.”
“Maafkan aku.”
Kini, ia yang menunduk. Aku berusaha untuk menjawab, walaupun aku masih memproses apa yang terjadi dalam kurun waktu setengah jam ini. Karena setengah jam yang lalu, aku masih sibuk menghindari genangan air di jalanan. Namun sekarang, jaket biruku yang berangsur-angsur kering dan hanya meninggalkan lembab tak ku pedulikan.
“I also thinking about you lately,” aku mencoba membuka suara.
“Aku.. marah padamu. Aku masih marah,” aku menyesap kembali kopiku. “Mungkin jika kita tidak bertemu hari ini, aku akan terus marah.”
“Aku berpikir bahwa kita sudah tak akan bertemu lagi. Kamu dengan takdirmu dan aku dengan takdirku. Tapi, disini kita sekarang. Saling berhadapan dan.. meminta maaf?”
Aku dan dia mengobrol banyak sore itu. Melepas kerinduan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di pikiran selama enam tahun terakhir.
Rasanya nyaman. Aku kembali bertemu dengan pria yang kutulis namanya di semua bagian belakang buku tulisku, dengan pria yang memberiku sebotol minuman dingin setelah aku menyelesaikan tes di pelajaran olahragaku, dan dengan pria yang selalu membawa sejuta kehangatan untukku.
Aku benar-benar melupakan niatku untuk segera pulang. Aku berterimakasih kepada hujan karena telah menghambat diriku untuk pulang. Jika tidak, aku tak akan berada disini.
Waktu seakan berjalan lebih cepat. Percakapan telah selesai, walaupun sebenarnya tak akan pernah selesai. Kali ini ia berpamitan sebelum meninggalkanku. Dan di saat ini aku sadar, ini bukan awal pertemuanku dengannya lagi, namun perpisahan kedua untuk menjadi dua orang asing yang mengetahui satu sama lain.
“Today, i met my first love. Not as a lovers nor friends, not as a stranger nor enemy,” ia menatapku sebelum benar-benar melangkah pergi.
“But as two people who know each other, but weren’t meant to be.”

Keren banget Raih 😍