Kabut pagi menyelimuti Bandung, menyamarkan perkotaan serupa hutan berbatang pohon besi dan rumputan berbahan aspal dan paving blok. Di trotoar Jalan Braga yang basah oleh gerimis semalam, Rama duduk di depan kanvas kecilnya. Jari-jarinya yang berlumur arang bergerak lincah, menangkap bayangan seorang penjual kopi yang sedang mengayuh gerobaknya. “Sketsa kehidupan,” bisiknya, menggemakan puisi yang selalu ia bawa dalam buku catatan usangnya.
arwahku melayang dalam sketsa
berbingkai takdir-Mu
Sejak kematian ibunya setahun lalu, Bandung terasa seperti kota mati yang dihidupkan kembali dalam goresan-goresan hitam-putih. Dalam usianya yang menjelang 30 tahun, Rama, mantan desainer grafis yang kini menjadi seniman jalanan, percaya bahwa setiap garis yang ia gambar adalah doa. Ibunya adalah penari Jaipong yang selalu berkata: ”Hidup itu sketsa kasar sebelum Tuhan menyempurnakannya di alam sana.”
***
Di sudut lain kota, di antara gemuruh mesin tekstil di Dayeuhkolot, Laras menatap langit melalui jendela pabrik. Bajunya yang biru pucat bercucuran keringat, tapi pikirannya melayang ke puisi yang ditulisnya di secarik kertas pembungkus benang:
kapan aku bertemu
di jalan tak berujung itu?
Laras, masih 5 tahun lagi menuju usia 30, wajahnya kerap menyimpan rindu yang tak tersuarakan, seperti benang yang tersangkut di mesin. Hari ini, setelah giliran shift, ia akan naik angkot menuju Dago. Ada pertemuan komunitas puisi di sebuah kedai kopi tua. Mungkin di sana, di antara rintik hujan dan desir kertas, ia menemukan jawaban. Tapi ada desir lain yang menuntunnya untuk mampir dulu ke Jalan Braga.
***
Rama sedang menyelesaikan sketsa penjual kopi ketika langit tiba-tiba menggulung awan kelabu. Hujan turun dengan getir. Ia berlindung di pekarangan sebuah café tua yang halaman luasnya tertutup tenda hijau yang mewah, setelah menutupi lukisannya dengan plastik. Di mejan café yang dingin dan berkilau, buku catatan terbuka. Matanya menatap puisi yang ia tulis semalam:
aku masih berjalan
dalam sketsa kehidupan
yang Kau buat
“Mas, pesan apa?” tawar seorang pelayan.
“V60,” jawab Rama.
Saat menunggu, ia melihat seorang gadis berlari ke bawah tenda café. Rambutnya basah melekat di pelipis, matanya mencari tempat duduk. Tanpa pikir, Rama mengangguk ke kursi kosong di hadapannya.
“Laras,” ujar gadis itu sambil mengelap kacamata.
“Rama,” balasnya.
***
Laras bukan gadis yang mudah percaya pada pertemuan kebetulan. Tapi ketika matanya jatuh pada buku sketsa Rama yang terbuka, dadanya berdesir. Di halaman itu, ada gambar seorang penari Jaipong dengan bayangan memanjang seperti sayap. Di sudutnya, ada coretan tangan:
arwahku melayang dalam sketsa
berbingkai takdir-Mu
“Itu… ibumu?” Laras hampir tak bersuara.
Rama terbelalak. Penari dalam sketsa itu memang ibunya, Tari. Tapi tak ada yang mengenalinya kecuali keluarga dekat.
“Kau kenal Ibu Tari?”
“Aku murid terakhirnya,” bisik Laras, air mata menitik di meja kayu. “Aku menari di sanggarnya sampai pabrik tekstil itu memanggilku.”
Hujan di luar semakin deras. Braga berubah menjadi sungai cahaya dan bayangan.
***
Mereka bicara selama tiga jam. Tentang Ibu Tari yang mengajar menari di gudang pabrik tua. Tentang bagaimana Laras kehilangan sanggar ketika pabrik mengambil tanahnya. Tentang puisi yang ditulis Laras di kertas pembungkus benang. Tentang sketsa Rama yang selalu mencari wajah ibunya di kerumunan jalanan.
“Sejak Ibu pergi,” kata Rama, “Bandung bagai sketsa yang belum selesai. Kulihat ia di sudut Pasar Baru, di antara pedagang bunga di Wastukencana, bahkan di kerumunan anak punk di Saparua.”
“Dan aku,” Laras tersenyum getir, “selalu bertanya di jalan mana aku akan bertemu takdirku.”
kapan aku bertemu
di jalan tak berujung itu?
***
Malam itu, mereka berjalan ke utara. Ke Dago, tempat pohon-pohon asam tua membentuk terowongan bayangan. Di kedai kopi “Aksara”, komunitas puisi sedang berkumpul. Ketika Laras membacakan puisinya, Rama mengeluarkan buku sketsa. Tangannya menari, mengubah kata-kata menjadi garis.
Seseorang berbisik: “Lihat! Ia menggambar puisi!”
Saat Laras sampai pada baris:
aku masih berjalan
dalam sketsa kehidupan
yang Kau buat
Rama mengangkat sketsanya. Ada gambar Laras sedang membaca puisi, tapi bayangannya bukan bayangan manusia—melainkan sayap kupu-kupu raksasa yang terbentang ke langit-langit kedai.
***
Mereka mulai bertemu tiap minggu. Rama mengajak Laras ke tempat-tempat dimana ibunya dulu menginspirasi sketsanya: Teh Poci di Tegal Luyu, tempat Tari dulu menceritakan filosofi Jaipong: ”Gerakan itu doa, Rama. Tubuh kita kuas yang menulis di udara.”
Jembatan Pasupati, di mana mereka duduk sampai subuh, melihat lampu kota berkedip seperti bintang jatuh yang terperangkap bumi.
Gunung Puntang, di kaki gunung itu, Laras menari untuk pertama kalinya setelah dua tahun. Di bawah rembulan, gerakannya seperti puisi yang hidup.
Tapi selalu, di tengah keindahan, bayangan pabrik tekstil mengikuti. Laras harus kembali ke Dayeuhkolot. Pada Rama, keharusan itu seperti penghapus yang menggerus sketsa harinya.
***
Suatu sore di Saung Angklung Udjo, setelah mereka meresmikan kedekatannya setengah tahun ke belakang, dan sempat tidak bertemu selama tiga bulan, saat anak-anak memainkan “Es Lilin”, Laras mendekap Rama. “Aku hamil,” bisiknya.
Rahang Rama mengeras. Karena Ia sadar bahwa Ia tak pernah melakukan hal yang melanggar norma kepada Laras. Laras bercerita dengan air mata membasahi pipi. Ia melakukannya karena terpaksa di bawah ancaman. Dan selama tiga bulan ini Ia bimbang dan takut untuk menceritakan kebenarannya kepada Rama.
Cerita itu keluar seperti darah beku: Manajer pabrik itu, ancaman, ruang gudang yang gelap.
“Aku tak bisa kabur,” isak Laras. “Dia mengancam akan memecatku, dan menyebarkan foto-foto diriku di WC pabrik yang dia ambil diam-diam ketika aku ke WC”.
Rama menatap angklung bambu yang bergoyang. Ia teringat kata ibunya: ”Kadang Tuhan menggambar garis hitam tebal agar kita belajar membayangkan terang.”
“Kita akan temukan jalan,” katanya, menggenggam tangan Laras.
***
Jalan itu berliku. Mereka melapor ke LBH Bandung, tapi tanpa bukti kuat, dan kejadiannya sudah 3 bulan ke belakang, yang timbul hanya kata-kata melawan raksasa industri. Laras dipecat juga oleh pabrik karena dianggap menyebarkan berita bohong dan mencemarkan nama baik perusahaan. Laras diusir dari rumah kontrakannya karena sudah tidak sanggup membayar.
Rama menjual semua sketsanya di Pasar Seni Cikapundung. Uangnya untuk biaya dokter kandungan Laras.
Suatu malam, di emperan toko yang tutup di Jalan ABC, Laras menangis. “Mengapa jalan ini tak berujung, Rama? Mengapa kita terus berjalan dalam sketsa sedih?”
Rama membuka buku catatannya, menulis: kita berjalan bukan karena tahu ujungnya tapi karena percaya yang menggambar sketsa tahu cara menyempurnakannya.
***
Bayi itu lahir di bulan Mei, saat bunga kertas di Dago bermekaran. Mereka menamainya Bayu, artinya angin. Di ruang bersalin RS Hasan Sadikin, Rama menggambar sketsa pertama Bayu: tangan mungil menggenggam jari Laras.
Pada hari ketujuh Bayu dilahirkan, Rama menikahi Laras, walaupun hanya di kantor KUA, ditemani ibu Laras yang sedang sering sakit-sakitan setelah kejadian yang menimpa anaknya.
Tapi kegelapan datang kembali tiga hari setelah pernikahan itu terjadi. Manajer pabrik itu tiba-tiba muncul lagi. Rupa-rupanya tak henti-hentinya Ia ingin merusak Laras. Ia datang dengan polisi setelah melaporkan Rama karena kontennya yang terus-terusan menyerang manajer itu.
Laras menjerit. Rama, dengan tenaga yang tak disadarinya, mendorong lelaki itu hingga terjengkang.
***
Rama ditahan di Banceuy. Di sel sempit, ia menggambar di dinding dengan arang sembunyi-sembunyi: gambar telapak tangan kecil Bayu.
Laras datang menjenguk dengan mata bengkak. “Aku punya ide,” bisiknya.
Keesokan harinya, di halaman Gedung Sate, Laras menari. Tarian Jaipong yang dinamis, tapi di tengahnya, ia membuka kain sarung—memperlihatkan sketsa-sketsa Rama yang ia tempel di baju. Gambar janin dalam kandungan. Wajah manajer pabrik yang menyeringai. Telapak tangan Bayu.
Orang berkerumun.
Jurnalis datang.
Kisahnya viral: #PerempuanMenariMelawanKekerasan.
***
Tekanan publik membuat Rama bebas dalam satu bulan. Manajer itu dipecat dan balik menjadi pesakitan di balik jeruji besi. Pabrik tekstil itu menawarkan ganti rugi.
Di sebuah rumah kecil di Soreang yang dikelilingi kebun sayur, hasil pembelian dari uang ganti rugi pabrik, mereka duduk bersama Bayu di pangkuan Laras. Di luar, hujan memetik daun seperti angklung alam.
“Kau ingat puisimu?” tanya Rama suatu pagi.
“Yang mana?”
“Yang tentang rendezvous.”
Laras tersenyum. Ia mengambil buku catatan Rama, membalik halaman, lalu menulis: kini aku mengerti rendezvous itu bukan tempat melainkan kepercayaan bahwa setiap garis yang terasa salah adalah persiapan untuk pertemuan dengan versi diri yang lebih berani.
***
Tahun bergulir. Bayu tumbuh menjadi balita yang suka corat-coret dinding. Rama membuka galeri kecil di Braga, namanya “Sketsa Takdir”. Laras mengajar tari di sanggar yang dibangunnya di samping rumahnya.
Suatu senja, mereka naik ke Puncak Bintang. Di bawah, Bandung berpendar seperti lautan kembang api. Bayu tertidur di gendongan Rama.
“Lihat,” Laras berbisik. Dari sini, jalan-jalan kota terlihat seperti goresan arang raksasa—satu sketsa hidup yang terus berkembang.
arwahku tak lagi melayang
ia menari dalam bingkai ini
bersama garis-garis yang Kau izinkan
untuk kami sebut: hidup
Rama memegang tangan Laras. Bandung berdegup di bawah kaki mereka, kota yang pernah terasa seperti jalan tak berujung, kini menjadi kanvas tempat mereka menemukan arti rendezvous: bukan pertemuan dengan takdir yang pasif, tapi tarian aktif bersama garis-garis Ilahi.
Di kejauhan, azan Maghrib sayup-sayup terdengar berkumandang, menyatu dengan desir angin dan detak hati mereka—seperti titik akhir yang sesungguhnya adalah awal dari sketsa baru. ►
