Kepada Kang Maman Suherman yang saya hormati,
Selamat pagi, Kang! Semoga hari ini membawa rahmat dan kebahagiaan untuk Kang Maman.
Pagi ini, saat menyelusuri Instagram, saya menjumpai video pendek yang sungguh menyentuh hati yang dibawakan oleh Kang Maman Suherman. Dalam video tersebut, Kang Maman membacakan “Alif Lam Mim”. Saya pun terhanyut dalam kata-kata itu, seolah-olah ada sinar hangat yang memasuki relung jiwa, memanggil untuk direnungkan.
Setelah menontonnya, saya merasa tergerak untuk merekam ulang dan menulis kembali apa yang saya rasakan. Kata-kata dari Gus Nadir, seorang Profesor Nadir Syah Hosen, terasa begitu memesona. Alif Lam Mim—tiga huruf yang berdiri sendiri. Hanya Allah yang mengetahui makna di baliknya. Namun, tahukah Kang? Di sinilah letak keindahannya! Tidak semua hal yang indah harus dipahami. Ada kalanya, kita perlu berdiam diri, menerima dengan hati penuh iman, dan mencintainya tanpa harus sepenuhnya mengerti.
Kala membaca Quran Surat Luqman ayat 1 dan 2, saya teringat akan kerumitan hidup. Betapa sering kita ingin memaksakan pemahaman akan takdir, mendesak kehidupan agar menjawab semua pertanyaan mendasar. Di sini, Allah mengajarkan kita untuk lebih dari sekadar mencari makna. Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami dengan iman dan kesabaran, serta perjalanan waktu yang harus kita lalui dengan tulus.
Alif bukan sekadar rangkaian huruf. Ia adalah pesan lembut dari langit. Kami, di kehidupan ini, harus berani berdiri, meski segala sesuatu terlihat tidak pasti. Ibu saya pernah berkata, “Tegakkan Alif dalam perjalanan hidupmu.” Sebuah nasihat yang mengajarkan akan pentingnya kelenturan. Hidup ini tak selalu lurus, dan setiap tikungan seakan memperlihatkan pesona tersembunyi dari ketidakpastian.
Hanya satu hal yang dapat kita yakini—Mim melingkar sempurna, membawa kita kembali ke titik asal. Seperti ombak yang berlari ke pantai, atau angin yang berhembus ke segala arah, akhirnya kita akan menemukan jalan kita kembali. Tak ada perjalanan yang sia-sia, tak ada kehilangan yang benar-benar hilang. Apa yang ditakdirkan untuk kita, akan kembali dalam bentuk yang lebih indah.
Alif Lam Mim, cinta yang tidak perlu dimengerti. ombak Alif mengajarkan kita untuk percaya, meski hidup ini penuh dengan misteri dan rahasia. Seperti doa yang tak selalu ditemukan jawabannya, namun selalu terdengar oleh-Nya. Hidup yang penuh warna membuat setiap perjalanan terasa indah, bahkan saat kita merasakannya dengan hati yang kosong.
Mari kita berjalan seperti Alif, berani memulai langkah demi langkah. Hanya dengan kesabaran, kita akan menerima setiap liku dan perubahan. Pada akhirnya, kita akan pulang dengan hati yang utuh, jiwa yang tenang, dan segudang pengalaman yang memperkuat iman kita kepada-Nya.
Kang Maman, terima kasih atas penyampaian yang luar biasa ini. Saya belajar banyak dari setiap lekuk kata yang Kang Maman sampaikan. Semoga kita selalu diberikan kekuatan untuk menjalani hidup ini dengan penuh makna dan keindahan.
Salam hangat.
Dengan penuh rasa hormat,
Didin Tulus
