Khutbah Idul Fitri 1446 H: Manusia dalam Pergulatan Empat Kekuatan
Hamdallah…
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu!
Hadirin kaum Muslimin yang berbahagia,
Di pagi yang bercahaya ini, ketika fajar Ramadhan telah tenggelam dan Idul Fitri menyapa, marilah kita bersama-sama merendahkan hati, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Karena hanya dengan ridha dan kasih sayang-Nya, kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara kemenangan. Kita masih diberi waktu untuk melantunkan takbir, tahmid, dan tahlil, mengagungkan nama-Nya, mengenang sebulan penuh perjuangan.
Mari kita tanya hati kita: Apakah kita benar-benar telah menang? Ataukah kita hanya kembali menjadi budak hawa nafsu yang menyelinap dalam diri?
Ramadhan telah berlalu, Idul Fitri menjelang. Perut yang terbiasa menahan lapar kini kembali dimanjakan. Hati yang telah diasah dengan kesabaran, kini diuji dengan gemerlap dunia.
Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa lillahilhamdu!
Hadirin kaum Muslimin yang berbahagia,
Sekarang, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit marilah kita kosongkan pikiran kita sejenak.
Pejamkan matanya beberapa detik. Bayangkan. Ingat-ingat, Siapa kira-kira orang yang paling berjasa dalam hidup anda! Siapa yang selalu ada saat kita terpuruk? Siapa yang selama ini setia dan sabar merawat dan mencintai kita, meski mungkin kita sering kali lalai membalasnya? Lihat ke kiri dan ke kanan. Periksa orang-orang terdekat yang anda cintai:
Ibu, ayah, kakak-adik, istri, suami, sahabat, kekasih, tetangga dan handai taulan. Mungkin diantara mereka ada yang tidak bisa berkumpul lebaran bersama? Mungkin diantara mereka ada yang tidak ikut mempersiapkan lebaran bersama kita. Mereka tidak ikut menggemakan takbir, tahmid dan tahlil bersama kita. Mereka tidak ikut ke lapang bersama kita. Karena mereka telah mendahului kita. Mungkin beberapa tahun, beberapa bulan, beberapa pekan, bahkan beberapa hari yang lalu. Mereka lebih dulu “mudik” ke kampung halaman abadi, yaitu Kampung Akhirat.
Padahal tahun lalu mereka masih senda gurau dengan kita. Mereka masih kumpul, menyiapkan idul fitri dan saling bersalaman sambil berpelukan. Ya Allah hari ini kami yang mengenang mereka, tahun depan siapa tahu kamilah yang dikenang dan diingat. Hari ini kamilah yang mendoakan, tahun depan mungkin kita yang didoakan. Betapa cepat waktu berlalu, betapa singkat usia kita.
Semoga engkau ya Allah berkenan memasukan rasa kebahagiaannya di alam kubur serta berkenan mengampuni atas khilaf serta salahnya ketika di dunia. Dan jika esok atau lusa tiba giliran kami, jadikanlah kematian kami sebagai kematian yang husnul khatimah, dan Engkau-pun meridhainya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa lillahilhamdu!
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Idul Fitri tahun ini kita rayakan dalam suasana warga dunia masih berselimut duka, jerit pilu masih membahana dari negeri para syuhada, Palestina. Bahkan 1 hari jelang Lebaran masih terjadi serangan Israel yang menewaskan 17 orang warga. Palestina, masih bermandikan darah, dihujani bom, dipenuhi pekik anak-anak yang kehilangan orang tua mereka, istri yang menjanda, suami yang berkalang tanah. Hingga saat ini, genosida Zionis
Israel telah merenggut nyawa lebih dari 50.200 jiwa, dan 114.000 lainnya terluka. Darah mereka belum kering, jeritan mereka belum senyap, dan tangisan para ibu masih menggema di langit yang seharusnya teduh.
Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa lillahilhamdu!
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Suana dalam negeri, juga sedang tidak baik-baik saja. Para ilmuwan dan cendekiawan menyebutnya sebagai INDONESIA GELAP, sebuah kondisi di mana kebobrokan moral dan kehancuran nilai-nilai bangsa mencapai titik nadir. Negeri yang dahulu dikenal dengan semangat gotong royong kini terperangkap dalam penyakit WAHN, penyakit cinta dunia dan takut mati. Inilah yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali sebagai kehancuran manusia akibat tertular sifat binatang ternak dan binatang buas—hanya mengejar kepuasan duniawi tanpa moralitas dan akhlak.
Lihatlah, para pejabat negeri ini telah menjadi simbol kerakusan dan kebiadaban. Mereka mengoplos bensin Pertamina, merugikan negara hingga Rp 1.000 triliun. Mereka merampok sumber daya alam dengan korupsi PT Timah sebesar Rp300 triliun. Mereka mencuri dari rakyat dengan skandal BLBI senilai Rp138 triliun. Tak hanya itu, mereka memalsukan emas logam mulia, mengurangi timbangan minyak, dan memberi izin pembangunan proyek-proyek strategis nasional dengan merampas hak rakyat serta mengkapling lautan dengan sertifikasi rakus.
Sifat binatang buas pun telah menjangkiti bangsa ini. Kita saksikan pembunuhan terjadi di mana-mana—orang tua membunuh anaknya, anak membunuh orang tuanya, suami membunuh istri, istri membunuh suami, atasan membunuh bawahan, pacar membunuh calonnya. Saling membuli, menyerang, menerka, memfitnah, dan mencabut nyawa manusia seolah hanya angka statistik di layar berita.
Di sisi lain, mentalitas individualisme merajalela. Manusia lebih mencintai harta daripada sesama, menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi. Manipulasi, pengkhianatan, dan fragmentasi sosial semakin tajam. Masyarakat tercerai-berai, tak lagi percaya satu sama lain, karena setiap orang sibuk mempertahankan diri dari keserakahan yang mengelilinginya.
Inilah Indonesia Gelap, negeri yang tersandera oleh nafsu liar para pemimpinnya, sementara rakyat kecil dibiarkan menjadi korban. Jika ini terus dibiarkan, kehancuran bukanlah sekadar ancaman, melainkan kepastian. Bangkit atau tenggelam—itu pilihan kita!
Padahal rakyat selalu setia, selalu taat. Pajak PBB dibayar, pajak kendaraan diabayar, pajak penghasilan dipotong dari keringat, pajak belanja dipungut dari setiap rupiah yang dikeluarkan. Nyaris tak ada ruang gratis, semua sisi dipajak.
Makan di rumah makan, di cafe ada pajaknya, belanja pakaian ada pajak, ke pasar ada pajaknya, merokok ada pajaknya bahkan ke toilet pun tidak gratis! Rakyat menunaikan kewajiban dengan sepenuh hati, namun apa yang mereka dapatkan? Buruh makin Ripuh, Sopir angkutan umum makin sumpek, Petani semakin tertindas.
Sementara harga kebutuhan pokok melambung, bahan pangan sulit dijangkau, dan biaya pendidikan semakin menjulang.
Tidakkah ini ironi yang menyayat hati? Negeri yang kaya raya, tanahnya subur, lautnya luas, tambangnya melimpah, tetapi rakyatnya hidup dalam nestapa. Negeri yang merdeka, tetapi rakyatnya seperti budak di tanah sendiri.
Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa lillahilhamdu!
Hadirin yang berbahagia
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah yang mengajarkan keseimbangan. Keseimbangan antara jasmani dan ruhani, antara dunia dan akhirat, antara akal dan hati.
Sebab manusia sering kali terseret dalam ketimpangan, berat sebelah dalam hidup, hingga akhirnya tergelincir ke dalam kehancuran lahir dan batin.
Al-Ghazali dalam Kimiya As-Sa’adah menyingkap empat kekuatan yang bersemayam dalam diri manusia. Empat kekuatan inilah yang membentuk wajah bangsa, menentukan ke mana arah negeri ini akan melangkah.
Namun, di tengah zaman yang kian kusut, kita menyaksikan bagaimana para pemimpin dan pejabat bangsa ini lebih banyak tenggelam dalam sisi gelap kemanusiaan mereka.
1. Quwwatun Syaithaniyyah (Kecerdikan Setan yang Menyesatkan)
Kekuatan ini melahirkan manipulasi, kebohongan, dan pengkhianatan. Mereka yang dikuasai oleh sifat ini akan menggunakan akalnya bukan untuk menegakkan kebaikan, tetapi untuk memperkaya diri sendiri dengan segala cara: Mengoplos bensin, Korupsi,
Memalsukan emas logam mulia, mengurangi timbangan minyak, adalah bukti bahwa ada oknum pejabat lebih lihai mengakali hukum daripada melindungi kesejahteraan rakyat.
2. Quwwatun Sabu’iyyah (Kebuasan Binatang Buas: Kezaliman & Kekejaman)
Kekuatan ini melahirkan kekerasan, kezaliman, dan kerakusan atas hak orang lain: merampas tanah rakyat; Membuli, menerjang, menyerang, menerka, memfitnah, hingga membunuh, tanpa takut kepada hukum dan tanpa gentar pada dosa. Orang tua membunuh anaknya, anak membunuh orang tuanya, suami membunuh istri, istri membunuh suami, atasan membunuh anak buah, pacar membunuh calonnya.
Bukankah ini wajah masyarakat yang kehilangan ruhaniyahnya? Bukankah ini pertanda bahwa manusia telah lebih buas daripada serigala?
3. Quwwatun Bahimiyyah (Syahwat & Kerakusan yang Membabi Buta)
Kekuatan ini melahirkan kerakusan, individualisme, dan hidup tanpa batas moral: Para pejabat hidup dalam kemewahan yang tak masuk akal, sementara rakyatnya terhimpit beban ekonomi. Mereka mengagungkan harta, menumpuk kekayaan dengan cara apa pun, tanpa peduli dari mana asalnya. Mereka pamer/ Flexing. Mereka individualis, hanya peduli pada diri dan keluarganya, sementara negeri ini perlahan-lahan runtuh.
Mereka telah menjadikan dunia sebagai tujuan, menggadaikan akhirat mereka untuk selembar sertifikat kekayaan. Mereka lupa bahwa di dalam kubur, semua itu tak akan berarti apa pun.
4. Quwwatun Malakiyyah (Kebijaksanaan Malaikat: Jalan yang Terlupakan)
Di tengah kegelapan ini, masih ada sedikit cahaya. Masih ada orang-orang yang memilih jalan kebijaksanaan, menolak menjadi bagian dari kerakusan, kezaliman, dan tipu daya dunia: Para ulama lurus, para mahasiswa, rakyat yang masih bersuara menggunakan akal sehat dan pikiran warasnya menyuarakan kebenearan.
Jika kita ingin menyelamatkan bangsa ini, kita harus kembali kepada keseimbangan. Kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita ingin menjadi cerdik seperti setan? Buas seperti serigala? Rakus seperti hewan ternak? Ataukah kita ingin mengangkat diri kita menuju kebijaksanaan malaikat?
Ramadhan adalah cermin, tempat kita bercermin dan bertanya: Siapakah kita sebenarnya? Jika kita tak juga berubah, maka kehancuran bukan lagi ancaman—tetapi sebuah kepastian.
Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa lillahilhamdu!
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Dalam kacamata Islam orang yang disebut diatas, yang mempraktikkan kekuatan Syaithaniyah, Subu’iyyah, dan Bahiimiyyah, adalah terjangkit penyakit sangat bahaya.
Apa penyakit itu? Kata Baginda Nabiyallah Muhammad Saw ialah penyakit “Wahn”. Apa WAHN itu, Cinta Dunia & Takut terhadap Mati. Inilah penyakit manusia Mutakhir! Penyakit yang menjadi pangkal kelemahan, kekalahan dan kemunduran.
Penyakit ini telah menjadikan manusia buta terhadap hakikat kehidupan. Ia melahirkan kerakusan, keserakahan, dan kezaliman yang merajalela. Penyakit ini telah menjerumuskan banyak pejabat dan pemimpin negeri ke dalam kubangan korupsi, kejahatan, dan pengkhianatan terhadap rakyat.
Mari kita perhatikan ayat dibawah ini:
وابتغ فيما آتاك هللا الدار اآلخرة وال تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن هللا إليك وال تبغ الفساد في األرض إن هللا ال يحب
المفسدين
“Dengan harta yang telah Allah berikan kepadamu, carilah kebahagiaan abadi di kampung akhirat. Jangan lupakan bagian kamu di dunia. Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak suka pada orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qaşāş 77).
Sebenarnya, Cinta dunia tidak terkait langsung dengan mencari, memiliki, dan menggunakannya, tetapi Cinta Dunia terkait dengan cara menyimpannya. Mencari, memiliki, dan menggunakan dunia tidak dilarang, bahkan dianjurkan. Disebut Cinta dunia itu lebih terkait DENGAN CARA MENYIMPANNYA.
Ketika dunia disimpan di tangan, ia bisa dikendalikan. Tetapi ketika dunia sudah masuk ke dalam hati, maka dunia akan mengendalikan manusia!
Khalifah Umar bin Khattab pernah berdoa:
“Ya Allah, jadikanlah dunia dalam genggaman kami, jangan jadikan dunia di dalam hati kami.”
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Hari ini, saya ingin mengajak bapak/Ibu sekalian untuk bermuhasabah, mengintrospeksi diri dengan hati tulus, jujur dan terbuka.
Boleh jadi, tanpa kita sadari, kekuatan binatang ternak, binatang buas, dan kekuatan Syetan telah menguasai diri kita. Kita hidup hanya untuk makan, minum, bersenangsenang, dan menumpuk dunia seperti binatang ternak. Kita saling memangsa, menerkam, dan menyerang satu sama lain seperti binatang buas. Bahkan, kita berperilaku licik, curang, penuh tipu daya, memfitnah dan berakhlak keji seperti setan.
Lihat dan perhatikan diri kita: Kita menumpuk harta seolah-olah akan hidup selamanya. Kita menuhankan HP, uang, mobil, jabatan, dan kekuasaan. Kita terjebak dalam sikap licik, manipulatif, kasar, dan munafik. Sadarkah kita bahwa semua ini telah menjerumuskan kita ke dalam kesesatan yang dalam?
Mari Kita Hitung Dosa-dosa Kita!
Sekarang, mari kita tanya diri sendiri: Berapa banyak shalat yang telah kita tinggalkan dengan sengaja? Berapa banyak janji yang telah kita khianati? Berapa banyak kebohongan yang telah kita ucapkan? Berapa banyak hati yang telah kita sakiti? Berapa banyak kemaksiatan yang telah kita lakukan?
Kita menjadi serigala satu sama lain—saling menerkam, saling mendengki, saling menyakiti, saling menghina, saling menghancurkan. Kita merasa puas ketika melihat orang lain jatuh, seakan-akan kehancuran mereka adalah kemenangan bagi kita.
Inikah manusia yang kita inginkan? Inikah cara kita hidup?
Allah telah memberi kita waktu. Dengan kesabaran-Nya, Dia menangguhkan azab-Nya.
Dengan kasih-Nya, Dia menunggu kita untuk kembali kepada-Nya. Tetapi sampai kapan kita akan menunda taubat?
Allah telah memperingatkan dalam firmannya:
“Sekiranya Allah menurunkan siksa kepada manusia karena (dosa-dosa) yang mereka lakukan, maka di atas punggung bumi ini tidak akan tinggal satu pun makhluk bergerak yang bernyawa. Tetapi Allah tangguhkan (hukuman)nya sampai waktu yang ditentukan. Apabila sudah datang waktunya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui (keadaan) hambahambanya.” (Fathir: 45)
Allah masih memberi kesempatan. Allah masih menunda hukuman. Tetapi jangan pernah mengira bahwa Allah lupa.
Para ‘Aidin dan ‘Aidat, Faizin dan Faizat,
Saya hendak mengingatkan saja bahwa kita sering tergesa-gesa mengejar dunia dengan sifat binatang dan syaitan yang membara. Seakan-akan kita akan hidup selamanya.
Kita bertengkar dengan pasangan karena urusan sepele, bersitegang dengan anak karena gengsi, berselisih dengan orang tua karena ego, berseteru dengan tetangga karena harga diri yang semu.
Kita menjadi pengembara yang tersesat dalam fatamorgana, mengejar bayangan yang tak pernah bisa digenggam.
Mari kita kenang dan ingat-ingat. Siapakah yang pertama kali kita sakiti dengan lidah dan sikap kita? Orang tua kita kah? Berapa banyak air mata orang tua yang kita teteskan?
Kata-kata kasar kita pada ibu adalah pisau yang menggores kalbunya, sementara doanya untuk kita tak pernah putus.
Pernahkah kita menyadari bahwa ketika ibu menangis karena kata-kata kasar kita, langit pun turut bersedih? Bahwa ketika ayah menahan keluh demi menjaga harga dirinya, bumi pun turut bergetar?
Mereka yang sepanjang hidupnya mengajarkan kita makna cinta, kini justru menjadi korban dari lantangnya lidah dan kerasnya hati kita. Sekarang, eluk orang tuamu. Bersimpuhlah, cium tangan mereka, dan bisikkan:
“Maafkan anakmu yang durhaka!, Mah..”
Wahai para suami, kenanglah istrimu. Sepanjang perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga, mungkin para suami belum menyelami lubuk hati istri. Pernahkah kau sadari bahwa di sana tersimpan lelah yang tak terucap, luka yang tak terlihat. Malah mungkin kita sering membentak istri. Atau kita malah sering membandingkannya dengan wanita lain?
Ingatlah! Ia yang dulu meninggalkan rumah orang tuanya demi menemani hidupmu, kini justru sering kau sakiti. Ingatlah Ia yang merawat anakmu, walau sering diperlakukan seperti pelayan.
Ingatlah, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.”
Maka, sebelum hari itu datang—hari ketika kita menyesal tetapi waktu tak lagi berpihak—genggamlah tangannya, dan ucapkanlah dengan tulus, “Maafkan aku.”
Wahai para istri, renungkanlah. Suamimu adalah nakhoda kapal kehidupanmu, yang bertaruh nyawa melawan gelombang demi memastikan kapal ini tetap berlayar. Namun, pernahkah kau hargai jerih payahnya? Ataukah kau justru sering membandingkannya dengan lelaki lain? Padahal, Rasulullah SAW bersabda,
“Istri yang terbaik adalah yang menjaga perkataan dan kehormatannya.” Maka, sebelum luka itu semakin dalam, sebelum jarak semakin menjauh, rangkullah dia, dan katakan dengan penuh cinta, “Aku bersyukur atas kehadiranmu.”
Dan kita, para orang tua, sering kali menuntut anak-anak kita untuk menjadi baik, tetapi sudahkah kita sendiri menjadi baik bagi mereka?
Kita ingin mereka menjadi anak saleh, tetapi sudahkah kita menjadi orang tua yang saleh?
Jangan sampai mereka tumbuh dalam kesunyian hati, mencari kasih sayang di luar rumah, karena di dalam rumah, mereka hanya menemukan bentakan dan pengabaian. Hari ini, peluklah dengan erat, katakan: “Maafkan ayah/ibu yang egois!”
Lihatlah di sekeliling kita. Mungkin banyak tetangga yang kelaparan, sementara kulkas kita penuh, bahkan sering membuang makanan. Ada anak yatim yang menangis dalam gelap, sementara kita tertawa dalam gemerlap. Ada tangan-tangan yang menengadah, tetapi kita menyambutnya dengan ludah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman seseorang jika ia tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan.”
Maka, sebelum pintu taubat tertutup, sebelum waktu tak lagi berpihak, temui mereka.
Bawakan makanan, dan katakan: “Ini hakmu yang selama ini kuabaikan”.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walila Ilham
Pamungkas, Mari kita tundukkan hati, pejamkan mata, marik mengetuk pintu-Nya dengan segenap kerendahan.
Ya Allah, Kami datang kepada-Mu dalam keadaan hina, membawa beban dosa yang lebih berat dari gunung, membawa hati yang lebih kotor dari lumpur. Namun, Engkau Maha Pengampun. Jika Engkau menolak kami, kepada siapa lagi kami harus meminta?
Ya Allah, jika hari terdapat orang yang terbaring sakit, Sembuhkan mereka dengan kuasaMu, sebagaimana Kau menyembuhkan hati Nabi Ayyub yang sabar.
Ya Allah, Jika hari ini adalah lembaran baru, jadikan kami pena yang menulis kebaikan.
Jika ini akhir hayat, jadikan kami tamu yang Kau sambut dengan Marhaban ya Qalban Saliim — Selamat datang, wahai hati yang suci bersih.
Ya Allah, ampunilah kami, para ayah. Jika dosa-dosa dan kesemrawutan yang terjadi dalam rumah tangga adalah akibat dari perbuatan kami, ampunilah dosa-dosa para ayah, ya Allah.
Ya Allah, ampunilah kalangan ibu. Jika para ibu yang hadir di hari ini adalah penyebab dari dosa-dosa yang terjadi di rumah tangganya, ampunilah dosa-dosa mereka, ya Allah.
Ya Allah, Jika ada di antara kami yang hatinya gundah, tenangkanlah. Jika ada yang terluka, sembuhkanlah. Jika ada yang hatinya kering dari cahaya-Mu, hujanilah dengan kasih sayang-Mu.
Ya Allah, Jangan biarkan kami kembali ke rumah dengan hati yang sama. Jangan biarkan kami meninggalkan tempat ini tanpa membawa cahaya-Mu dalam jiwa kami. Jangan biarkan kami menghembuskan napas terakhir tanpa kalimat “Laa ilaaha illallaah” terucap di bibir kami.
Dan ketika hari itu tiba, hari di mana tubuh kami kembali menjadi tanah, izinkan kami pulang dengan wajah berseri, dengan hati yang damai, mendengar panggilan-Mu:
“Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irjii ilaa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah, fadkhulii fii ibaadii wadkhulii jannatii.”
(Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.)
Ya Allah, Ampunilah dosa ayah dan ibu kami, dosa suami dan istri kami, dosa anak-anak kami, dosa guru-guru kami, dosa pemimpin-pemimpin kami. Satukanlah kami dalam iman di dunia, dan satukanlah kami dalam rahmat-Mu di akhirat.
“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiina imaama.”
Rabbanaa aatina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqinaa adzaaban naar.
Taqobalallahu Minna wa Minkum!
*Khutbah idul Fitri 1446 H/ 2025 M di Jalan/Komplek Bojong Raya, Holis Bandung.
