Catatan Ramadan #16. Setiap kali Ramadan tiba, ada satu hal yang tak pernah luput dari ingatan: aroma kue lebaran (kue kering) yang menguar dari dapur. Aroma itu bukan sekadar seungit (wangi), tapi juga simbol dari kehangatan, kebersamaan, dan tradisi yang selalu dinanti. Bagi saya, kue kering bukan hanya camilan, tapi juga bagian dari cerita Lebaran yang selalu melekat di hati.
Sejak kecil, saya selalu menyaksikan ibu dan nenek sibuk di dapur, menyiapkan berbagai jenis kue kering. Nastar dengan selai nanas yang manis asam, kastengel dengan taburan keju yang gurih, dan putri salju yang lembut dengan taburan gula halus. Semua itu menjadi bagian dari ritual tahunan yang tak pernah membosankan.
Malam-malam terakhir Ramadan, dapur akan berubah menjadi “pabrik” kue kering. Suara mixer, aroma mentega dan telur, serta celoteh ibu dan nenek menciptakan suasana yang begitu meriah. Saya selalu senang ikut membantu, meski hanya sekadar mencetak adonan atau menaburkan gula halus. Bagi saya, setiap butir kue kering adalah simbol dari cinta dan perhatian yang diberikan dengan tulus.
Saat Lebaran tiba, toples-toples berisi kue kering akan tersusun rapi di meja tamu. Setiap tamu yang datang pasti akan mencicipi kue-kue itu, sambil bercerita dan tertawa. Kue kering menjadi pemersatu, penghangat suasana, dan pengikat tali silaturahmi.
Kue kering juga menjadi teman setia saat menikmati teh tarik atau kopi hangat di pagi hari Lebaran. Sambil menikmati kue kering, saya selalu merenungkan makna Ramadan dan Lebaran. Saya bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, atas keluarga yang selalu ada, dan atas tradisi yang selalu dijaga.
Kini, saat saya sudah memiliki keluarga sendiri, saya pun melanjutkan tradisi membuat kue kering. Saya ingin anak-anak saya merasakan kehangatan dan kebersamaan yang sama seperti yang saya rasakan dulu. Saya ingin mereka tahu bahwa kue kering bukan hanya camilan, tapi juga bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan.
Setiap kali mencium aroma kue kering di dapur, saya selalu teringat pada ibu dan nenek. Saya teringat pada masa kecil yang indah, pada kebersamaan keluarga, dan pada makna Lebaran yang sesungguhnya. Kue kering adalah bagian dari memori yang tak akan pernah pudar, bagian dari cerita Lebaran yang akan terus saya ceritakan kepada anak cucu.
