Kebenaran itu nisbi. Jangan paksakan kebenaran versimu kepada orang lain. Kalimat ini belakangan cukup sering berputar-putar di kepala saya.
Bicara tentang kebenaran dari sudut pandang masing-masing memang selalu menggelitik. Rasanya ada banyak hal yang ingin dibahas, tetapi saya sendiri kadang bingung harus mulai dari mana.
Terkecuali kebenaran yang bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui wahyu dan dalil, juga tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, manusia memiliki keterbatasan dalam memahami sesuatu.
Apa yang kita anggap benar belum tentu dipandang sama oleh orang lain.
Sayangnya, kita sering sekali lupa pada hal sederhana ini. Kita begitu mudah menghujat, menyalahkan, bahkan menghakimi pilihan hidup orang lain dengan kalimat, “Seharusnya begini.”
“Kalau saya jadi dia, saya tidak akan melakukan itu.”
“Kenapa harus memilih seperti itu?”
“Kan masih banyak pilihan lain.”
Seolah-olah kita benar-benar mengetahui seluruh cerita hidup orang tersebut. Padahal, belum tentu.
Kebenaran Menurut Kita Belum Tentu Menjadi Kebenaran bagi Orang Lain
Belakangan, ramai pula pembicaraan mengenai pernikahan Amanda Rigby dan Andre Taulany yang menuai berbagai komentar dari netizen.
Saya tidak bermaksud membela siapa pun. Saya juga tidak merasa memiliki kapasitas untuk menilai benar atau salahnya pilihan hidup mereka. Namun justru dari kejadian seperti ini saya kembali berpikir, mengapa kita begitu mudah menghakimi kehidupan orang lain yang sebenarnya tidak kita jalani?
Kita tidak pernah tahu seluruh cerita yang ada di balik kehidupan seseorang.Kita hanya melihat apa yang muncul di media sosial, membaca berita, mendengar potongan cerita, kemudian menyusun kesimpulan sendiri.
Padahal, apa yang sebenarnya dipikirkan seseorang, apa yang dirasakannya, konflik apa yang pernah dialaminya, pertimbangan apa yang membuatnya mengambil keputusan, semuanya berada di luar pengetahuan kita.
Bukankah selama ini kita tidak hidup bersamanya. Tak selalu melihat kehidupannya secara pasti dari dekat. Bahkan tak pernah menyimak percakapan dan persoalan yang terjadi dalam kehidupannya.
Lalu mengapa kita merasa berhak memastikan bahwa keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang salah? Begitu pula ketika seseorang memilih pasangan hidup. Mengapa Amanda harus dipersalahkan hanya karena memilih lelaki yang usianya jauh lebih tua atau seorang duda?
Apa yang salah dengan pilihan tersebut?
Kita tidak pernah benar-benar tahu alasan terbesar seseorang ketika memilih pasangan. Bisa jadi karena cinta. Bisa karena merasa nyaman, karena menemukan sosok yang menurutnya tepat. Bisa juga karena ada pertimbangan lain yang sama sekali tidak kita ketahui.
Dan bukankah kata “bisa jadi” itu seharusnya membuat kita berhenti sejenak sebelum menghakimi?
Bisa jadi…., bisa jadi…., dan bisa jadi…. Ada begitu banyak kemungkinan yang tidak kita ketahui.

Berbeda Bukan Berarti Salah
Berbeda bukan berarti salah. Sudut pandang seseorang dengan sudut pandang kita kadang bahkan nyaris tidak pernah sama. Latar belakang yang berbeda. Pola pikir dan lingkungan yang membesarkan seseorang pun berbeda. Pengalaman hidup, cita-cita bahkan tujuan hidup pun kerap berbeda. Maka sangat wajar jika keputusan yang diambil pun berbeda.
Saya punya contoh sederhana. Ada seorang perempuan yang tidak ingin menerima uang dari lelaki yang tidak memiliki hubungan khusus dengannya. Bukan karena ia membenci pemberian. Bukan pula karena merasa lebih mampu atau ingin merendahkan orang yang memberikan.
Ia hanya memiliki prinsip. Baginya, menerima uang dari orang tertentu membuatnya tidak nyaman. Ia merasa tidak ingin dianggap membutuhkan. Mungkin juga karena ia tidak ingin memiliki perasaan berutang budi.
Bisa juga karena ia merasa harga dirinya terusik. Atau mungkin memang sejak awal ia memiliki prinsip untuk tidak menerima pemberian dalam bentuk seperti itu.
Lalu orang yang memberi berkata, “Padahal niat saya baik.”
Pertanyaannya, apakah niat baik otomatis membuat orang lain wajib menerima? Menurut saya, tidak. Niat baik tetap bisa dihargai meskipun pemberiannya ditolak.
Sebab, apa yang menurut kita baik belum tentu membuat orang lain merasa baik. Dan ketika seseorang menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsipnya, berbeda bukan berarti ia salah.
Memahami Sebelum Menghakimi
Contoh lain yang lebih berat adalah ketika seseorang melakukan tindakan yang memang salah, misalnya mencuri.
Mencuri tetap merupakan perbuatan yang salah. Tidak seharusnya kita mengubah kesalahan menjadi sesuatu yang benar hanya karena mengetahui latar belakang pelakunya.
Akan tetapi, apakah kita harus berhenti pada kata “pencuri” lalu merasa berhak menghakimi seluruh kehidupannya?
Coba melihatnya dari sisi lain. Bisa saja ada latar belakang yang tidak kita ketahui. Misalkan saja ia sedang berada dalam kondisi sangat terdesak, kehilangan pekerjaan, memiliki tanggungan keluarga, atau berada dalam situasi lain yang membuatnya mengambil keputusan buruk.
Bagi kita mencuri itu mutlak perbuatan buruk dan tercela. Namun bagi pelaku, mencuri adalah satu-satunya hal terbaik yang bisa dilakukan saat itu.
Memahami alasan bukan berarti membenarkan perbuatannya. Justru dengan memahami latar belakang, kita bisa melihat persoalan secara lebih utuh. Bukankah manusia memang lebih rumit daripada sekadar label? Seseorang bisa melakukan kesalahan tanpa berarti seluruh dirinya adalah manusia yang buruk.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Kadang kita hanya melihat satu tindakan seseorang, kemudian merasa sudah mengetahui seluruh kehidupannya. Padahal, kita hanya melihat satu potongan kecil dari cerita yang sangat panjang.

Jangan Mengukur Kehidupan Orang Lain dengan Penggaris Kita
Kembali pada kehidupan Amanda dan Andre. Mereka memiliki kehidupan yang sangat berbeda dengan kita.
Keduanya adalah figur publik dengan pengalaman, lingkungan pergaulan, kondisi ekonomi, keluarga, pekerjaan, serta perjalanan hidup yang tidak sama dengan kita. Maka pilihan yang terlihat aneh bagi kita belum tentu terasa aneh bagi mereka.
Kita mungkin bertanya, “Kenapa harus memilih lelaki yang lebih tua?” Padahal bisa saja bagi orang tersebut, usia bukan persoalan utama.
Atau kita bertanya-tanya, “Kenapa harus menikah dengan seorang duda?” padahal bisa saja bagi orang tersebut, status pernah menikah bukanlah ukuran utama dalam memilih pasangan.
Kita tidak harus menyetujui pilihan orang lain untuk menghormatinya. Menghormati pilihan orang lain tidak selalu berarti kita setuju dengan pilihannya. Â Kita hanya menyadari bahwa kehidupan setiap orang bukan milik kita.
Jangan Paksakan Kebenaran Versimu kepada Orang Lain
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua hal boleh dianggap benar. Tatap ada nilai, aturan, dan prinsip yang memiliki landasan yang jelas. Ada pula tindakan yang secara nyata memang salah dan harus dipertanggungjawabkan.
Namun, dalam banyak urusan kehidupan manusia yang penuh dengan pilihan dan pertimbangan, kita perlu menyadari bahwa tidak semua hal bisa diukur menggunakan satu standar yang sama.
Kebenaran yang kita yakini dalam urusan pilihan hidup belum tentu menjadi kebenaran yang dirasakan orang lain. Kini sudah waktunya kita berhenti merasa menjadi hakim bagi kehidupan orang lain.
Berhentilah mengurusi pilihan yang dilakukan dalam hidup orang lain. Sebab, berbeda bukan berarti salah.
Mari hidup berdampingan tanpa kepo berlebihan. Hidup berdampingan berarti belajar menerima bahwa orang lain boleh memiliki jalan yang berbeda.
