Belakangan, saya sedang ketagihan jalan kaki ke area persawahan. Melewati pematang sawah yang berukuran kecil, sungguh melatih konsentrasi. Fokus saya bertambah ketika mengulang datang kembali ke sawah. Semangat bertambah ketika kaki ini semakin terampil berjalan di pematang/galengan sawah yang lebarnya tidak lebih dari 20 cm.
Angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit pun terasa sejuk. Saat udara di sebagian daerah sudah dipenuhi polusi asap pembakaran, debu dan asap kendaraan bermotor, di sawah yang areanya luas, udara begitu segar. Hidung terasa nyaman, hati tenang dan pikiran terasa jernih.
Apalagi ketika datang ke sana selalu menemukan keajaiban yang sangat menakjubkan untuk dilihat hari ini.
Embun Pagi yang Menempel pada Rumput Sawah
Menakjubkan. Sudah sangat lama tidak melihat kedamaian ini. Embun pagi membentuk bulir-bulir bening menempel pada tumbuhan Fimbristylis squarrosa. Nama lokalnya, saya menyebutnya sebagai gang-gang sawah. Ayah dan orang-orang di kampung saya menyebutnya demikian. Meskipun saya tahu, ada tanaman ganggang lain yang sering ditanam di aquarium atau aquascape.
Air being suci itu merupakan sisa udara dingin semalam. Langsung saja saya mengabadikannya dengan kamera ponsel. Pemandangan ini sudah sangat jarang ditemukan terlebih kualitas udara sudah banyak tercemar di area perkotaan.

Menemukan Sarang Burung yang Jatuh
Menemukan sarang burung berarti memang ada burung yang membuatnya. Saya menemukannya di sawah, tepat di dekat pohon kapuk randu. Kemungkinan sarang burung ini jatuh tertiup angin yang cukup kencang. Saya memungut dan mengabadikannya dengan kamera.
Penemuan ini menyeret ingatan saya pada kenangan masa kecil yang sangat indah. Saya adalah anak desa yang tentu saja sangat senang main ke sawah. Menemukan sarang burung di pohon atau yang terjatuh seperti ini adalah hal yang biasa.
Bahkan dulu saya akan berusaha mengembalikannya ke atas pohon agar burung yang memiliki sarang tidak mencarinya. Sayangnya itu sudah sangat lama berlalu. Dan kali ini saya tidak mungkin memanjat pohon kapuk randu untuk menyimpan kembali sarang burung itu.
Soal sarang burung, saya selalu takjub dengan keahlian para burung penyusun daun dan ranting untuk membuat sarang. Sangat detail dan belum tentu manusia bisa melakukannya.
Pasukan Bangau Terbang di Depan Mata
Benar-benar seperti mimpi ketika saya berjalan di pematang sawah dari kejauhan melihat sepasukan burung berwarna putih yang terbang bersamaan. Awalmnya saya mengira bahwa itu adalah pasukan burung merpati yang kebetulan sedang berada di area pesawahan yang luas.
Namun ketika dilihat baik-baik, mereka berukuran besar, kaki dan leher panjang, kepak sayapnya pun cukup lebar. Mereka terbang tinggi, lalu merendah dan hinggap di area sawah yang sudah ditanami padi.
Di sana ada genangan air. Katak, kepiting dan hewan air lain pasti menjadi buruannya.
Sayangnya, karena terlalu takjub saya malah tidak berhasil mengabadikan pasukan burung terbang itu ketika berada lebih dekat. Saya hanya bisa mengamati dari jauh. Kamera ponsel yang yang terbatas hanya bisa menangkap gambar bagau berupa titik-titik putih di kejauhan.
 Menemukan burung bagau secara langsung ini adalah kali pertama setelah saya dewasa. Sedangkan ketika kecil, entah berapa kali saya menemukannya di sawah. Itu pun tidak bergerombol terlalu banyak seperti saat menemukannya kali ini. Sekali lagi, ini benar-benar serasa mimpi.
Karena termasuk burung migrasi, burung bagau itu entah datang dari mana. Penasaran juga sarangnya ada di mana. Semoga mereka tetap lestari dan tidak punah.

Aliran Air yang Jernih di Parit
Di perkotaan, sudah tak ada air jernih yang mengalir. Baik di parit, selokan maupun di sungai. Sampah dan pencemaran nyaris merata. Tak perlu jauh ke kota, di daerah pun kala warganya tidak disiplin maka setiap aliran air tak pernah benar-benar bersih. Bisa dipastikan selalu ada limbah yang mengotori.
Kali ini, saya menemukan aliran air yang benar-benar masih bersih dan jernih. Rasanya pikiran dan perasaan turut terasa lapang.
Air mengalir dari hulu ke hilir. Meski tak begitu deras karena sudah mulai musim kemarau, tetapi keberadaan air ini menunjukkan bahwa alam tak kalah begitu saja dengan pergantian musim.
Di sawah, masih ada mata air yang bisa diandalkan untuk mengairi sawah dan menghidupi padi-padi yang ditanami petani.
Saya berharap area persawahan tidak semakin menyempit. Agar keajaiban-keajaiban itu terus ada dan bisa dilihat dan dirasakan oleh anak cucu kita.
Apakah ada yang senang main ke area persawahan juga?
Â
Â
