Lahir dan besar di pedesaan menbuat tinggal di Cikawao Pacet Kabupetan Bandung menjadi keberuntungan tersendiri. Karena ketika rindu ke kampung halaman, saya tinggal melipir ke belakang rumah, berjalan sekitar 10 menitan sampailah di area pesawahan yang masih asri. Seperti hari ini saya mendapatkan kesempatan menikmati keindahan matahari terbit di pematang sawah.
dari Jumat sore ibu mertua mengirimkan deretan foto matahari terbit ke WA. “Teh, kemarin Nenek ke sawah, pemandangannya bagus,” katanya.
“Ih, kenapa gak ngajak, Nek?”
“Kirain Teteh sibuk. Tapi besok Nenek ka sawah lagi.”
“Besok Teteh ikut,” jawabku antusias.
Tadi pagi, pukul 05:30 ibu sudah menelepon meminta saya segera bersiap. “Bisi keburu naik mataharina,” katanya.
Seneng juga punya ibu mertua yang begitu bersemangat jalan kaki. Ia selalu riang ketika berada di alam bebas. “Udaranya segar, ada suara burung pula. Damai rasanya,” begitulah kira-kira perkataan ibu mertua ketika berada di alam terbuka yang sunyi.
Pukul 05:50 saya sudah keluar rumah, dan ibu sudah bersiap di depan rumahnya lengkap dengan topinya.

Hamparan Sawah Cikawao Menyambut Ramah
Kami bergegas menuju area pesawahan yang berjarak sekitar 10 menit di belakang rumah. Kami menuruni bukit dan tak lama kemudian sejauh mata memandang sawah yang berbentuk terasering terlihat begitu indah.
Sbagian petani baru selesai tandur, benih padi baru ditancapkan mungkin sekitar dua atau tiga hari yang lalu. Wangi tanah sawah tercium. Namun sebagian lagi baru sekesai panen, sawah belum dicangkul.
Mata nyaman dengan pemandangan pesawahan, udara terhirup begitu segar suasana pesawahan. Telinga pun dimanjakan oleh suara air mengalir dan cicit burung di pohon.
“Di sini masih banyak air ya, Nek,” kataku pada ibu.
“Alhamdulillah. Tapi sawah bapa di atas sudah tak dapat air, malah mau ditanami ubi musim ini,” jawab ibu.
“Ayo bergegas,” katanya lagi.
Kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri pematang sawah. Perlahan tapi pasti kami melangkah.
Saya yang sudah agak lama gak main ke pesawahan agak ragu melangkah, sebab pematang sawah yang berukuran kecil. Khawatir malah jatuh terjerembab ke sawah yang baru saja ditanami padi.

Menunggu Matahari Muncul dari Balik Bukit
Terlihat dari jauh, sebuah pohon kapuk randu berdiri indah di tengah sawah. Pohon itu yang sering terlihat dari kejauhan dan berharap suatu hari bisa datang ke sana. Kini sudah di depan mata.
Kami berdiri di dekatnya, burung-burung hinggap di dahan dan berkicau riang. Saya begitu menikmatinya, takjub.
Sambil menunggu matahari menyembul muncul dari balik bukit yang berlapis, kami mengambil banyak foto. Namun tak lama kemudian mentari yang kami tunggu akhirnya muncul juga. Tidak mau menyia-nyiakannya, saya pun mengambil beberapa foto di sana.
Rasanya senang sekali dan ingin tinggal berlama-lama di sana. Walau begitu kami, harus bergegas menuju sawah bapa di bukit yang berbeda. Kami harus kembali ke jalan persimpangan dan kembali mendaki menuju sawah yang ada di bukit lain.
Angin sepoi menemani sepanjang perjalanan. Anugerah yang tak terkira.

Keberuntungan Menjadi Orang Desa
Jalan kaki ke pematang sawah seperti ini ternyata bukan hanya membuat tubuh bergerak. Ada banyak hal kecil yang ikut terasa menyehatkan. Menghirup udara pagi, melihat hijaunya sawah, mendengar suara burung dan air mengalir, sekaligus menikmati sinar matahari pagi membuat pikiran terasa lebih ringan.
Berjalan di alam terbuka juga memberi kesempatan bagi tubuh untuk berolahraga dengan cara yang sederhana, tanpa harus merasa sedang berolahraga.
Menurut saya, inilah salah satu keberuntungan menjadi orang desa. Untuk menikmati semua itu, kami tidak perlu pergi jauh, tidak perlu membayar tiket masuk, apalagi harus mengatur waktu khusus untuk pergi ke tempat wisata. Cukup keluar rumah, berjalan kaki beberapa menit, lalu hamparan sawah sudah menunggu.
Sementara orang-orang di kota mungkin harus mencari taman, pergi ke tempat wisata alam, atau menyisihkan waktu khusus untuk sekadar mendapatkan udara yang lebih segar, kami yang tinggal di pedesaan bisa mendapatkannya hampir setiap hari.
Kesegaran udara, angin sepoi dan lingkungan yang masih relatif tenang adalah anugerah yang kadang baru terasa berharga ketika kita melihat bagaimana orang lain harus mencarinya.
Saya jadi berpikir, mungkin selama ini kami yang tinggal di desa justru terlalu sering menganggap pemandangan seperti ini sebagai sesuatu yang biasa. Padahal bagi sebagian orang, sawah hijau, suara burung, jalan setapak, udara pagi dan matahari terbit di balik bukit adalah kemewahan yang harus dicari jauh-jauh.
Kapan-kapan pasti kembali untuk melihat matahari muncul lagi di sawah belakang rumah.
