Iluustrasi fto: David Fanuel/Unsplash
Ketika mendengar kata grooming, kebanyakan dari kita mungkin langsung membayangkan anak-anak yang menjadi sasaran orang dewasa. Padahal, grooming tidak selalu terjadi pada anak. Orang dewasa pun bisa mengalaminya.
Bedanya, pada orang dewasa, grooming sering kali tidak terlihat seperti ancaman. Tidak selalu ada paksaan sejak awal. Justru bisa dimulai dari sesuatu yang terasa menyenangkan: perhatian, pujian, bantuan, perlindungan, bahkan membuat seseorang merasa begitu istimewa.
Di sinilah kita perlu berhati-hati, karena kadang seseorang tidak sadar sedang dimanipulasi karena prosesnya berlangsung perlahan.
Ketika Pujian Membuat Kita Sulit Berkata Tidak
Pernahkah ada seseorang yang begitu sering memuji kita? Ia mengatakan kita hebat, pintar, cantik, pekerja keras, berbeda dari orang lain, atau bahkan satu-satunya orang yang benar-benar bisa memahami dirinya.
Awalnya memang menyenangkan. Lagi pula, siapa yang tidak senang dipuji? Lama-kelamaan, perhatian itu membuat kita merasa dekat. Kita merasa dihargai. Kita merasa dibutuhkan. Bahkan mungkin merasa hanya orang tersebut yang benar-benar memahami diri kita.
Kemudian datanglah permintaan-permintaan kecil. Awalnya mungkin tidak terasa mengganggu. Diminta meluangkan waktu, melakukan sesuatu, memberikan tenaga, pikiran, uang atau perhatian lebih dan kita mengiyakan itu semua.
Sayangnya, semua itu bukan karena kita benar-benar ingin melakukannya, tetapi karena ada perasaan tidak enak untuk menolak. Pertanyaan seperti, “Bukankah selama ini dia sudah begitu baik?” “Bukankah dia selalu memuji dan memperhatikan kita?” datang silih berganti.
Tanpa disadari, hubungan itu mulai berubah. Kita memberikan semakin banyak hal, sementara kemampuan untuk berkata “tidak” semakin hilang. Di titik inilah kita perlu mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah ini hubungan yang sehat atau saya sedang dimanipulasi?
Grooming pada Orang Dewasa Kerap Memanfaatkan Kerentanan
Grooming pada orang dewasa atau adult grooming pada dasarnya berkaitan dengan proses membangun kepercayaan dan kedekatan untuk kemudian memengaruhi, mengendalikan, atau mengeksploitasi seseorang.
Sasarannya bukan semata-mata orang yang lemah secara usia. Pelaku bisa mendekati orang dewasa yang sedang berada dalam kondisi rentan secara emosionaMisalnya seseorang yang sedang kesepian, baru mengalami perceraian, kehilangan pekerjaan, menghadapi masalah keluarga, mengalami tekanan hidup, terasing dari lingkungan sosial, atau sedang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Kerentanan seperti itu bisa dimanfaatkan. Pelaku datang sebagai orang yang memahami, menjadi pendengar yang baik, menawarkan bantuan, memberikan perhatian, bahkan tampil sebagai penyelamat. Pelan-pelan kepercayaan terbentuk. Setelah itu, pengaruh mulai ditanamkan.
Karena itulah grooming sering kali sulit dikenali oleh korbannya sendiri. Ketika seseorang sudah merasa nyaman dan percaya, ia tidak mudah melihat bahwa hubungan tersebut sebenarnya sedang bergerak ke arah yang tidak sehat.
Tidak Semua Perhatian Berarti Grooming
Tidak semua perhatian berarti grooming, tetapi kita juga perlu berhati-hati agar tidak salah memahami grooming. Tidak setiap orang yang memuji berarti sedang melakukan grooming, dan tidak pula berarti yang membantu berarti memiliki niat buruk.
Setiap hubungan yang intens tidak otomatis merupakan grooming. Meski begitu, ada yang perlu diperhatikan adalah pola dan tujuannya:
- Apakah perhatian tersebut kemudian digunakan untuk mendapatkan kendali atas diri kita?
- Apakah pujian membuat kita merasa berutang budi?
- Apakah bantuan kemudian dijadikan alat untuk menuntut sesuatu?
- Apakah orang tersebut mulai mengatur siapa yang boleh kita temui?
- Apakah kita dibuat merasa bersalah ketika mengatakan tidak?
- Apakah batasan pribadi perlahan-lahan diabaikan?
Jika semakin banyak pertanyaan yang jawabannya “iya”, kita patut berhenti sejenak dan melihat kembali hubungan tersebut.
Bagaimana Grooming pada Orang Dewasa Bisa Terjadi?
Grooming pada orang dewasa dapat muncul dalam berbagai hubungan. Dalam hubungan romantis atau rumah tangga, misalnya. Seseorang bisa menggunakan perhatian berlebihan, love bombing, hadiah, bantuan finansial, atau sikap sangat protektif untuk membangun ketergantungan.
Awalnya terasa seperti cinta. Namun, ketika kedekatan sudah terbentuk, perlahan muncul keinginan untuk mengendalikan. Pasangan mulai menentukan dengan siapa kita boleh berteman, mempertanyakan setiap aktivitas, menjauhkan kita dari keluarga, atau membuat kita merasa bersalah ketika tidak memenuhi keinginannya.
Di lingkungan kerja pun situasi serupa dapat terjadi. Hubungan antara atasan dan bawahan, mentor dan mentee, atau seseorang yang memiliki posisi lebih kuat dengan orang yang bergantung kepadanya dapat menciptakan celah untuk manipulasi.
Pelaku mungkin memberikan perhatian khusus, membuka peluang karier, memberikan bantuan, atau membuat korban merasa memiliki utang budi. Akhirnya, bantuan tersebut bisa berubah menjadi alat untuk meminta sesuatu sebagai imbalan.
Tujuan grooming juga tidak selalu berkaitan dengan seksual. Eksploitasi dapat berupa uang, tenaga, pekerjaan, akses, perhatian, hubungan seksual yang tidak diinginkan, maupun kendali emosional.
Waspadai Proses yang Berlangsung Perlahan
Grooming biasanya bukan sesuatu yang terjadi dalam satu malam. Ada proses di dalamnya. Pertama, pelaku bisa mencari tahu titik kerentanan seseorang. Kemudian datang dengan perhatian yang sangat intens. Pujian diberikan terus-menerus. Bantuan ditawarkan. Korban dibuat merasa istimewa.
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai menempatkan dirinya sebagai orang yang paling memahami korban.
“Yang lain tidak akan mengerti kamu.”
“Hanya aku yang benar-benar peduli.”
“Teman-temanmu sebenarnya tidak suka melihat kamu bahagia.”
Kalimat-kalimat semacam ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi jika terus diulang, perlahan bisa memengaruhi cara seseorang melihat lingkungan di sekitarnya. Kemudian terjadilah isolasi. Korban mulai menjauh dari keluarga dan teman. Bukan selalu karena diminta secara terang-terangan, tetapi karena sudah percaya bahwa orang-orang di luar hubungan tersebut tidak dapat dipercaya.
Setelah itu batasan pribadi mulai diuji. Sesuatu yang dulu dianggap tidak pantas perlahan dibuat seolah-olah biasa. Ketika korban menolak, muncul manipulasi. Bisa melalui rasa bersalah. Bisa dengan membuat korban meragukan dirinya sendiri.
Bisa pula dengan kalimat seperti, “Setelah semua yang aku lakukan untukmu, masa kamu tidak mau melakukan ini?” Pada tahap tertentu, korban mungkin sudah merasa sangat sulit untuk keluar. Bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena secara emosional ia sudah terlalu bergantung.
Hubungan Perselingkuhan Bisa Memiliki Pola Grooming
Ada satu hal yang mungkin membuat kita tidak nyaman untuk membicarakannya. Grooming juga dapat terjadi dalam relasi perselingkuhan atau hubungan di luar pernikahan. Misalnya seorang laki-laki yang mendekati perempuan lain dengan perhatian yang sangat intens. Memberikan waktu, memberikan hadiah atau uang, selalu hadir ketika perempuan tersebut membutuhkan bantuan. Mendengarkan semua keluhan dan membuatnya merasa sangat istimewa. Hal itu perlahan terbentuk ketergantungan emosional.
Perempuan tersebut kemudian merasa tidak enak jika tidak membalas perhatian itu. Ada rasa berutang karena selama ini sudah begitu banyak menerima.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa kebaikan yang diberikan seseorang tidak otomatis membuat kita berutang tubuh, perhatian, kesetiaan, atau apa pun yang sebenarnya tidak ingin kita berikan.
Begitu pula sebaliknya. Memberikan uang, hadiah, perhatian, atau bantuan kepada seseorang tidak pernah otomatis memberikan kita hak untuk menguasai dirinya.

Orang Dewasa pun Harus Belajar Berkata “Tidak”
Kadang kita terlalu percaya diri karena merasa sudah dewasa. Merasa sudah berpengalaman. Merasa bisa membaca karakter orang. Padahal manipulasi tidak selalu datang dalam bentuk yang kasar. Kadang ia datang dalam bentuk orang yang sangat baik. Sangat perhatian, sangat memahami, bahkan mungkin menjadi orang yang selama ini kita anggap paling berjasa.
Karena itu, menjadi dewasa bukan berarti kita tidak mungkin menjadi korban. Menjadi dewasa berarti kita harus semakin mampu mengenali batas diri.
Kita boleh menerima bantuan tanpa merasa harus membayar dengan sesuatu yang tidak kita inginkan. Kita boleh menerima pujian tanpa harus membalasnya dengan kepatuhan. Kita boleh menyayangi seseorang tanpa menyerahkan seluruh kendali atas hidup kita kepadanya, dan yang paling penting, kita boleh berkata tidak. Tanpa harus merasa bersalah.
Jangan Lepaskan Support System
Salah satu hal penting yang perlu dijaga ketika menjalin hubungan baru adalah tetap memiliki support system. Tetaplah berhubungan dengan keluarga dan memiliki teman. Upayakan untuk tetap punya ruang untuk bercerita kepada orang lain. Sebab ketika seseorang mulai mengatakan bahwa hanya dirinya yang memahami kita, sementara keluarga dan teman-teman kita dianggap buruk semua, kita perlu waspada.
Hubungan yang sehat tidak seharusnya membuat kita kehilangan seluruh dunia di luar hubungan tersebut. Justru orang yang benar-benar menyayangi kita semestinya tidak keberatan jika kita tetap memiliki kehidupan, pertemanan, keluarga, pekerjaan, dan ruang pribadi. Kalau mulai bingung, ceritakan kepada orang yang dipercaya
Manipulasi emosional bisa membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menilai situasi dengan jernih. Karena itu, ketika mulai merasa bingung, tidak yakin dengan penilaian sendiri, atau terus-menerus bertanya, “Jangan-jangan saya yang salah?”, cobalah bercerita kepada orang yang dipercaya. Pilih seseorang yang mampu melihat situasi secara objektif. Jika diperlukan, bicarakan pula dengan psikolog atau tenaga profesional yang kompeten.
Kita membutuhkan sudut pandang dari luar karena ketika sudah terlalu dekat dengan sebuah hubungan, kita sulit melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Jangan Menunggu Sampai Kehilangan Kendali
Grooming bukan hanya persoalan anak-anak. Orang dewasa pun bisa mengalaminya. Usia, pendidikan, pengalaman hidup, bahkan kecerdasan tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap manipulasi. Siapa pun bisa berada dalam kondisi rentan.
Karena itu, jangan hanya belajar melindungi anak dari grooming. Kita sendiri juga perlu belajar melindungi diri. Kenali pola perhatian yang terlalu intens.
- Waspadai love bombing.
- Pertahankan hubungan dengan keluarga dan teman.
- Jangan mudah merasa berutang hanya karena seseorang pernah membantu.
- Jangan biarkan batasan pribadi perlahan-lahan hilang hanya karena takut mengecewakan seseorang.
Kita boleh menerima kebaikan tanpa kehilangan kebebasan. Kita boleh dicintai tanpa harus dikendalikan. Dan kita boleh mengatakan tidak, bahkan kepada orang yang selama ini bersikap sangat baik kepada kita.
Menyelamatkan diri bukan tentang melawan orang lain. Melainkan tentang cukup berani menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak sehat, lalu memilih untuk berhenti sebelum semuanya terlambat.
