Ada kalanya kita merasa baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak. Kita masih bisa tersenyum. Masih bisa bercanda. Masih menjalankan pekerjaan seperti biasa. Masih bertemu banyak orang dan berbicara seolah tidak ada apa-apa. Dari luar, semuanya terlihat normal. Tetapi di dalam hati, ada sesuatu yang perlahan-lahan menguras tenaga.
Barangkali kita sedang merasa tidak dihargai. Merasa keberadaan kita seperti tidak dianggap. Merasa dipandang dengan tatapan yang sinis. Mendengar percakapan yang sepertinya sedang membicarakan kita. Atau mungkin merasakan perubahan sikap seseorang yang membuat kita bertanya-tanya, “Apa sebenarnya yang terjadi?”
Yang lebih melelahkan, kadang kita sendiri tidak tahu apakah semua itu benar-benar terjadi atau hanya perasaan kita karena sedang terlalu sensitif. Lalu kita memilih diam. Kita mencoba berkata kepada diri sendiri, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.”
Kita mencoba memahami orang lain, memakluminya. Kita belajar menahan diri karena sadar bahwa tidak semua perkataan harus dijawab dan tidak semua perlakuan harus dibalas.
Tetapi ternyata menahan diri bukan berarti tidak terluka.
Ada luka yang tidak terlihat, tetapi tetap terasa.
Kita mungkin kemudian memilih jalan yang paling bisa kita lakukan untuk menenangkan diri: introspeksi. Kita bertanya kepada hati sendiri, jangan-jangan memang ada sesuatu dalam diri kita yang harus diperbaiki. Jangan-jangan ada sikap yang tidak kita sadari telah menyakiti orang lain. berarti ada bagian dari diri kita yang perlu dibenahi.
Kita mencoba jujur kepada diri sendiri dengan cara menulis. Menulis apa yang terasa dan yang tidak sanggup diucapkan dan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala. Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, tetapi untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri. Kadang setelah menulis, hati terasa sedikit lebih lega. Tetapi ada satu hal yang sering kita lupakan.
Hati mungkin bisa kita ajak berdamai, tetapi tubuh juga punya cara sendiri untuk berbicara. Ketika terlalu lama menahan sesuatu, tubuh bisa mulai menunjukkan tanda-tandanya. Kita merasa cepat lelah. Tidur tidak benar-benar membuat tubuh segar. Kepala terasa berat. Perut terasa tidak nyaman. Tubuh terasa pegal. Jantung berdebar atau tubuh terasa tegang. Semangat berkurang, padahal tidak sedang melakukan pekerjaan yang terlalu berat.
Kita mungkin bertanya, “Kenapa tubuh saya begini?” Padahal bisa jadi tubuh sedang mengatakan sesuatu yang selama ini tidak kita dengarkan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stres tidak hanya berkaitan dengan pikiran dan perasaan. Stres juga dapat memengaruhi tubuh. Ketika tekanan berlangsung terlalu berat atau terlalu lama, seseorang dapat mengalami berbagai keluhan, seperti sakit kepala, nyeri tubuh, gangguan tidur, serta masalah pada pencernaan. Artinya, apa yang terjadi di dalam pikiran tidak selalu berhenti di dalam pikiran.
Pikiran dan tubuh ternyata saling terhubung. Itulah sebabnya kita tidak boleh terlalu bangga ketika mengatakan, “Saya kuat. Saya bisa menanggung semuanya.” Sebab terkadang yang kita sebut kuat sebenarnya hanyalah kemampuan untuk terus bertahan, sementara tubuh sudah lama meminta istirahat.
Di sinilah kita perlu belajar membedakan antara menerima keadaan dan mengabaikan diri sendiri.Menerima bukan berarti membiarkan diri terus-menerus terluka. Memaafkan bukan berarti kita harus terus berada dalam situasi yang menyakiti. Berusaha berpikir positif juga bukan berarti kita harus memaksa diri mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja ketika sebenarnya hati sedang tidak baik-baik saja.
Agama mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah. Bukan karena manusia tidak boleh merasa sedih, tetapi karena hati manusia memang membutuhkan tempat untuk bersandar.
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Bukan berarti setelah berdzikir semua masalah akan langsung hilang. Bukan pula berarti orang yang dekat dengan Allah tidak akan pernah merasa sedih, kecewa, atau terluka. Justru ketenteraman itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: kita tetap mampu bernapas ketika keadaan terasa berat. Kita tetap mampu berpikir ketika hati sedang kacau. Kita tidak membiarkan keburukan orang lain mengubah kita menjadi orang yang juga suka menyakiti.
Kita mungkin belum bisa mengubah keadaan, tetapi kita belajar agar keadaan tidak sepenuhnya menguasai hati. Menjaga hati tidak cukup hanya dengan berdoa dan berdzikir. Tubuh juga mempunyai hak untuk dirawat.Kita perlu makan dengan baik. Perlu tidur. Perlu bergerak. Perlu memberi kesempatan kepada tubuh untuk beristirahat. Perlu mengambil jarak sejenak dari hal-hal yang terlalu menguras pikiran.
Dan jika keluhan fisik berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau terasa tidak biasa, jangan selalu menyimpulkannya sebagai akibat stres. Tubuh tetap perlu diperiksa secara medis. Mencari bantuan profesional ketika kita merasa tidak mampu mengelola beban bukan berarti iman kita lemah. Sama sekali bukan.
Sebagaimana kita pergi ke dokter ketika tubuh sakit, kita juga boleh mencari pertolongan ketika pikiran dan perasaan sudah terlalu berat untuk ditanggung sendiri.Menjaga diri bukan bentuk kelemahan. Menjaga diri adalah bentuk tanggung jawab.Dan dari semua yang kita alami, menulis adalah salah satu cara sederhana untuk kembali mengenali diri.
Tulislah apa yang membuat kita marah,apa yang membuat kita kecewa,mengapa kita merasa tidak dihargai dan ketakutan yang selama ini kita sembunyikan. Lalu tanyakan kepada diri sendiri dengan jujur: apakah yang paling menyakitkan adalah perkataan orang lain, perlakuan mereka, atau keinginan kita untuk dihargai oleh semua orang?
Pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab.Tetapi setidaknya, membuat kita berhenti sejenak. Kita tidak hanya bereaksi terhadap keadaan, tetapi mulai memahami diri sendiri.Kita belajar bahwa tidak semua pandangan mata harus kita tafsirkan. Tidak semua bisikan harus kita dengarkan. Tidak semua perkataan orang harus kita bawa pulang ke dalam hati.
Ada hal-hal yang memang harus kita lepaskan.Bukan karena tidak penting.Tetapi karena diri kita terlalu berharga untuk terus-menerus menjadi tempat sampah bagi perkataan dan perlakuan orang lain.
Meskipun barangkali kita masih berada di tengah keadaan yang membuat hati tidak nyaman. Masih berusaha memahami mengapa kita diperlakukan seperti itu. Masih belajar menerima sesuatu yang tidak bisa kita ubah.
Kita tidak harus selalu terlihat kuat. Ada waktunya kita mengakui bahwa kita lelah. Ada waktunya kita menangis. Ada waktunya kita berhenti menjelaskan diri kepada orang-orang yang memang tidak ingin memahami. Dan ada waktunya kita berkata kepada diri sendiri.
“Aku akan tetap menjadi baik, bukan karena semua orang memperlakukanku dengan baik, tetapi karena aku tidak ingin kehilangan diriku hanya karena perlakuan orang lain.”
Ketika hati terus terluka, tubuh bisa ikut lelah. Ketika pikiran terus dipaksa menanggung semuanya, tubuh mungkin akhirnya mengambil alih tugas kita untuk berkata, “Cukup. Aku juga lelah.”
Maka mulai hari ini kita perlu belajar mendengarkannya. Mendengarkan hati. Mendengarkan pikiran. Mendengarkan tubuh. Sebab sehat bukan hanya ketika tubuh tidak sakit. Sehat juga berarti kita memiliki ruang untuk bernapas, ruang untuk beristirahat, ruang untuk menangis, ruang untuk bercerita, dan ruang untuk kembali mendekat kepada Allah.
Kita tidak harus selalu kuat. Kita hanya perlu cukup jujur untuk mengakui ketika kita sedang tidak baik-baik saja, lalu perlahan belajar merawat diri dan menyerahkan bagian yang tidak mampu kita kendalikan kepada Allah.
