Ilustrasi (Noah Siliman/Unsplash)
Rindu yang Tak Pernah Terucap
Oleh, Diantika IE
Meski ragamu tak lagi tersentuh,
jiwamu tak sepenuhnya utuh.
Sebab ruang yang pernah kutempati dulu,
nyatanya masih tetap menjadi milikku.
Kepingan kenangan kau simpan begitu rapi,
di dalam loker bergembok hati.
Diam-diam kau membukanya sesekali,
bahkan membawanya serta setiap kali pergi.
Jemarimu lincah menekan tombol panggil di telepon,
namun berkali-kali kau urungkan.
Bukankah kau selalu rindu ditemani suaraku?
Sayangnya, yang sampai ke telingamu
hanya desis sunyi yang tak mampu menjawabmu.
Di antara sunyi yang menari,
dalam gelap malam ketika matamu sukar terpejam,
kau kerap menyebut kata rindu—
Meski bisikan itu
tak pernah lagi sampai ke telingaku.
Ku tahu, kau masih menyimpan namaku
di sudut hati yang tak kau izinkan siapa pun tahu.
Setiap kali rindu datang,
kau hanya mampu memeluk kenangan
dan berpura-pura telah melupakan.
Sebab ada rindu
yang tak membutuhkan pertemuan.
Ada cinta
yang tak lagi meminta kepulangan.
Dan ada kita—
yang telah lama menjadi masa lalu,
tetapi entah mengapa
belum juga benar-benar selesai
di dalam hatimu.
Bandung, 19 Agustus 2026
