“Mah, hoyong jajangkungan (Mah, ingin bermain egrang),” ucap Arista pada ibunya suatu hari. Kala itu Arista masih duduk di kelas 2 SD akhir.
Permintaan itu ternyata tidak serta merta diucapkan. Arista bercerita kalau sekolahnya sedang bersiap mengikuti lomba siaga antar sekolah tingkat kecamatan. Karena itu ia termotivasi untuk menjadi peserta lomba yang akan dilangsungkan pada awal tahun kelas 3 nanti. Arista membidik lomba permainan tradisional.
Mendengar alasan mengapa anaknya ingin bermain egrang, Herna Maryani sebagai ibu merasa senang. Selain karena alasan ingin mengikuti lomba, permainan egrang sudah lama tidak digunakan sebagai permainan sehari-hari anak masa kini.
Lomba main egrang, hanya hadir di momen-momen tertentu seperti lomba 17 Agustus. Itu pun sudah lama sekali tidak diadakan lagi.
Perasaan lain yang dirasakan oleh ibunya adalah perasaan khawatir karena bermain egrang tidak semudah yang dipikirkan perlu keterampilan dan keseimbangan kalau terjatuh rawan cedera dan luka.
Namun tekad Arista tetap bulat. Ia tetap ingin bisa bermain egrang. Akhirnya ayahnya mengambil inisiatif untuk membuatkannya dari batang bambu. Ia pun mengambil bambu dari ladang, lalu membuatkannya dua sekaligus untuk sang kakak yang kala itu duduk di bangku SMP.
Secara otodidak mereka belajar tanpa menyerah. Sepulang sekolah atau di hari libur Arista bermain egrang. Tak jarang dia terjatuh sampai kakinya penuh luka. Namun meskipun ia menangis terisak anak itu tidak menyerah.

Tekun Latihan, Arista jadi Mahir Bermain Egrang
Kini Arista sudah duduk di kelas 4 SD. Ia sudah begitu mahir bermain. Bahkan beberapa teman belajar padanya.
Ketika hari libur ia rutin bermain egrang bersama teman dan mengajarkan temannya sampai bisa. Kini ia sudah semakin terlatih bahkan siap jika ditantang untuk balapan egrang.
Bagi Arista, jika hanya berjalan di tempat yang datar, itu sudah jadi hal yang biasa saja. Ia bahkan sudah mahir berjalan di jalan berbatu yang cukup terjal. Dengan lincahnya ia mengangkat kaki bersamaan dengan bambu yang dipijaknya meskipun dalam titian tangga.
Ketika ditanya kepada sang ibu tentang perasaannya bawa anaknya bisa bermain egrang, “Tentunya saya merasa bahagia karena disaat yang lain main handphone dan tidak melakukan aktivitas fisik anak saya masih bisa main egrang anteng bahkan kadang lupa pulang,” katanya diakhiri dengan tawa.
Memperkuat Suasana Pedesaan yang Khas
Hadir dalam suasana pedesaan Desa Indragiri Kecamatan Panawangan yang masih asri dan jauh dari hingar-bingar kota. Sebagian besar wilayah desa dipenuhi atau didominasi oleh hamparan sawah dan ladang membuat kehidupan begitu sepi dan tenang. Membuat permainan egrang terlihat begitu ikonik. Dan Arista sendirilah yang menjadi ikon itu.
Anak perempuan kelas 4 SD yang mahir bermain egrang tetap riang gembira menjalani hari-hari tanpa harus terganggu dengan mainan yang ada di gadget seperti permainan anak masa sekarang pada umumnya. Menunjukkan bahwa sesungguhnya anak-anak zaman sekarang bisa tetap bermain dengan bahagia meskipun dengan permainan tradisional.
Bermain tidak selalu harus dengan alat yang dibeli dari toko mainan. Nyatanya alam pun selalu berhasil menyediakan arena dan alat permainan itu sendiri.
Meskipun senang bermain egrang Arista tidak melupakan aktivitasnya menjadi seorang siswa. Tetap fokus belajar pergi ke sekolah dan tetap menikmati permainannya sepulang sekolah atau setiap waktu senggangnya.
Saya rasa apa yang dilakukan Arista ini selayaknya dicontoh oleh anak-anak sekarang. Karena Arista pun baru kelas 4 SD seharusnya tidak lagi tidak ada lagi anak yang mengeluhkan tak punya mainan Tetapi bagaimana caranya membuat apa yang ada menjadi sebuah alat permainan.

Mengenal Permainan Tradisional Egrang
Egrang merupakan salah satu permainan tradisional Indonesia yang menggunakan dua batang bambu sebagai pijakan untuk berjalan di atas ketinggian tertentu. Permainan ini dikenal di berbagai daerah Nusantara dengan nama yang berbeda-beda.
Di Jawa Barat, masyarakat Sunda mengenalnya dengan sebutan jajangkungan atau junjungkungan. Di daerah lain ada yang menyebutnya ingkau, batungkau, atau nama-nama lokal lainnya.
Karena telah lama dimainkan di berbagai wilayah Indonesia, egrang tidak berasal dari satu daerah tertentu, melainkan menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang diwariskan turun-temurun.
Selain melatih keseimbangan tubuh, permainan ini juga mengajarkan keberanian, konsentrasi, koordinasi gerak, serta membentuk mental pantang menyerah. Tidak heran jika dahulu egrang sering dijadikan permainan sekaligus perlombaan dalam berbagai acara rakyat.
Semoga bermanfaat.
