Ada masa ketika saya begitu ingin menjadi seperti orang yang saya kagumi. Saya mempelajari bagaimana mereka bekerja, membaca perjalanan hidupnya, memperhatikan kebiasaannya, bahkan mencoba mengikuti cara mereka berpikir. Saya percaya, jika melakukan hal yang sama, suatu saat saya pun akan bisa mencapai kesuksesan seperti mereka. Padahal sejatinya kita sendiri mampu menemukan potensi terbaik.
Jujur saja, saya pernah mengira bahwa keberhasilan dapat diraih dengan cara meniru jejak orang lain. Nyatanya hidup memberi pelajaran yang berbeda.
Ketika Kritik Menjadi Titik Balik
Suatu hari saya menerima kritik yang sangat tajam dari seorang editor media tempat saya mengirimkan tulisan. Jelas saja rasanya tidak nyaman. Bahkan saya sempat menangis di pojokan kamar, memikirkan nasib diri.
Bukan karena marah kepada editornya, melainkan karena merasa belum mampu memberikan hasil terbaik. Saya lebih kecewa pada diri sendiri karena berani mengaku sebagai penulis tetapi sama sekali belum bisa menjadi versi terbaik.
“Satu-satunya cara menghadapi kritikan adalah memperbaiki diri.”
Kalimat itu diucapkan seseorang yang mencoba menghibur saya. Ia memberikan saran agar saya tidak terlalu memikirkan kritikannya. Justru saya harus lebih fokus pada bagaimana caranya agar bisa memperbaiki semuanya.
Lama kelamaan, saya berpikir untuk lebih tenang. Benar-benar memisahkan mana kritikan dan mana bentuk caci maki. Benar saja, yang saya dapat itu murni kritikan yang mengharuskan saya menjawabnya dengan perbaikan. Bukan malah nangis di pojokan.
Akhirnya munculah ambisi yang besar. Saya begitu ingin membuktikan bahwa saya mampu. Saya belajar lebih keras, membaca lebih banyak, mencoba memperbaiki setiap kekurangan yang ada.
Meski kini saya menyadari belum sepenuhnya sempurna, tetapi jika menoleh ke belakang saya bisa mengatakan bahwa ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tidak Semua Hal Harus Kita Kuasai
Semakin lama saya belajar, semakin saya menyadari bahwa ada hal-hal yang memang bisa kita kuasai dengan cepat. Namun, ada pula bidang yang meskipun sudah diusahakan mati-matian, hasilnya tetap biasa saja.
Sebelumnya, ketika saya tidak bisa melakukan sesuatu, saya menganggapnya sebagai sebuah kegagalan. Padahal setiap manusia memang diciptakan dengan kelebihan yang berbeda-beda. Ada yang piawai berbicara di depan banyak orang, tetapi kesulitan menulis.
Ada yang mampu menciptakan karya luar biasa, tetapi kurang percaya diri ketika harus memimpin sebuah tim. Ada pula yang terlihat biasa saja, tetapi memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan sangat baik. Kelebihan setiap orang tidak pernah sama.
Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan adalah mengukur kemampuan diri menggunakan standar orang lain. Saya sibuk mengejar apa yang mereka miliki, hingga lupa melihat apa yang sudah Allah titipkan kepada saya.
Padahal, semakin keras saya memaksakan diri menjadi orang lain, semakin lelah pula perjalanan yang saya jalani. Energi pun habis hanya untuk mengejar pembuktian.
Waktu terbuang untuk mengasah kemampuan yang mungkin bukan menjadi kekuatan utama saya. Sementara potensi yang sebenarnya saya miliki justru kurang mendapat perhatian.
Menerima Diri Sendiri Bukan Berarti Menyerah
Banyak orang menganggap menerima diri sendiri adalah bentuk kepasrahan. Padahal justru sebaliknya.
Menerima diri sendiri berarti mengenali siapa diri kita, memahami kelebihan dan kekurangan, lalu memaksimalkan apa yang memang menjadi potensi terbaik.
Kita tetap belajar dan berkembang sampai menunjukkan kemajuan. Bukan demi menjadi salinan orang lain. Melainkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Kini saya tidak lagi sibuk mengejar kehidupan orang lain. Saya lebih menikmati proses belajar sesuai kemampuan saya sendiri. Saya tidak harus menjadi sehebat siapa pun. Cukup menjadi diri sendiri yang terus bertumbuh dari waktu ke waktu.
Hebat Tidak Selalu Berarti Menjadi Seperti Orang Lain
Kini saya percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Tidak ada manusia yang mampu menguasai semua hal dengan sempurna. Sebaliknya, setiap orang pasti memiliki satu atau beberapa kemampuan yang bisa menjadi keunggulannya.
Karena itu, buat kamu yang masih bercita-cita ingin seperti orang lain, berhentilah melakukannya. Jangan menghabiskan waktu hanya untuk menjadi tiruan dari orang lain.
Gunakan waktu tersebut untuk mengenali diri sendiri, mengembangkan kemampuan yang telah Allah anugerahkan, dan terus belajar tanpa harus kehilangan jati diri.
Hebat adalah ketika kita mampu menemukan potensi terbaik dalam diri, mengembangkannya dengan sungguh-sungguh, lalu menghadirkan manfaat bagi banyak orang.
Mungkin suatu hari nanti, bukan kita yang sibuk meniru. Melainkan apa yang kita kerjakan mampu menjadi inspirasi bagi orang lain.
