Saat menonton mahasiswa UI yang mendebat pemerintah, saya menyadari bahwa kompleksnya masalah di negeri ini. Fatimah, wakil ketua BEM UI menyuarakan banyak hal dari masyarakat mengupas permasalahan yang ingin dituntut oleh rakyat. Saya kagum dengan analisa dan vokalnya saat berjuang, ia sangat mengerti bahwa perempuan juga terdampak politik.
Saat seluruh masyarakat sekarang sedang bergemuruh membicarakan soal kebijakan yang timpang, kerusakan lingkungan dan mengulas regulasi yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Diantaranya ada suara yang tidak bisa dianggap kecil dan remeh. Mereka adalah pelaku UMKM, para perempuan, dan suara orang yang mulai merasakan ketidak berpihakan pemerintah terhadap mereka.
Salah satu pihak yang paling vokal dan teriak atas ketidak berpihakan hal ini terhadap masyarakat adalah ibu rumah tangga. Sebagian mungkin melihat perannya yang tidak seberapa, disepelekan dan bahkan orang menganggap bahwa ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan dianggap tidak berharga. Tanpa disadari, justru ibu rumah tangga adalah kontrol politik suatu negara.
Dimana setiap kebijakan yang mengatur masyarakat di Indonesia, akan berimbas pada struktur terkecil masyarakat yakni keluarga. Sedangkan di dalam keluarga, peran ibu dan perempuan sangatlah signifikan. Mereka adalah penentu kokohnya suatu keluarga dan indikator berpihak atau tidaknya suatu regulasi terhadap penduduknya.
Gejolak politik yang terjadi sangatlah kompleks, baik yang terjadi di dalam negeri atau di dunia internasional. Ekonomi secara otomatis terpengaruh oleh politik, kepentingan beberapa pihak bisa seketika mempengaruhi pasokan bahan pokok. Salah satu jeritan pelik datang dari pengelola keuangan terkecil, yakni perempuan di dalam keluarga.
Pengatur Anggaran Keluarga
BBM naik harga bahan pokok semakin sulit, hal ini dirasakan langsung oleh ibu rumah tangga. Mereka pergi ke pasar, ke warung dan toko untuk membeli bahan pokok dan kebutuhan primer keluarga. Saya mendengar bahan pokok menjadi lebih sulit ditemukan, jikapun ada harganya perlahan berubah.
Hal itu sempat menjadi perbincangan, karena kabarnya memang sejak ada program MBG, rantai pasok menjadi terganggu. Jika para Ayah tak tahu apa penyebabnya, mungkin jika dijelaskan sepele di mata mereka. Padahal harga bawang merah yang naik Rp2.000, daging Ayam yang setiap minggu berubah harga, atau cabai rawit yang seribu rupiah dapat 7 buah, sangat mempengaruhi pengelompokan anggaran keuangan rumah tangga selanjutnya.
Belum lagi pengaruhnya terhadap pemenuhan gizi keluarga. Isu pengentasan stunting terus dibahas, tapi penyokong pengadaan gizinya tak kunjung dioptimalkan. Sebab, jika masyarakat ingin sehat dengan gizi seimbang tentunya bukan asal kenyang, tapi seorang Ibu pasti memikirkan bagaimana nilai gizi terpenuhi dengan anggaran yang semakin tipis.
Kesehatan keluarga juga bergantung pada olahan makanan yang diberikan di rumah. Jadi, pemenuhan gizi dan persoalan ekonomi berkaitan erat. Bagaimana kebutuhan dasar terpenuhi, bisa berbanding lurus dengan gizi seimbang dan pangan berkualitas.
Pendidikan Anak
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Parenting di rumah yang sudah maksimal, segala jenis pendekatan dengan anak dilakukan untuk yang terbaik. Namun kenyataannya di Indonesia, biaya pendukung semasa sekolah, isu kesehatan mental akibat bullying, dan minat literasi menjadi masalah yang kompleks.
Hal itu juga merupakan bagian dari peran ibu yang hadir di rumah, hadir bersama anak, dan dekat di keseharian. Lagi-lagi soal politik yang mengatur kurikulum dan longgarnya sistem hukum membuat pola pendidikan kembali lagi difokuskan kepada ibu sebagai pengajar utama dan pembentuk karakter di rumah. Pemerintah mewajibkan wajib belajar untuk masyarakatnya, tapi ternyata biaya pendukung pendidikan semakin tidak murah.
Bagaimana alat tulis, pakaian seragam, buku, dan kebutuhan lain. Belum lagi sekarang, terkait dengan digitalisasi. Semua anak harus memiliki gawai untuk memperoleh materi yang dibagikan di kelas.
Hal itu mungkin sederhana dan sudah dianggal menjadi kebutuhan dasar. Tapi bagaimana jadinya jika kebutuhan dasar rumah tangga masa kini masih pontang-panting sedangkan kebutuhan primer semakin bertambah. Ongkos pendidikan akhirnya menjadi hal yang mahal.
Keterlibatan Perempuan dan Beban Kerja
Mari kita kesampingkan hal-hal berbau patriarki. Tetapi jika kita lihat dari sisi perempuan, bagaimana cara mereka mengorganisasikan diri dan memutuskan bekerja membantu mencari peruntungan di luar sana. Mencari uang dan melibatkan diri dalam pencarian nafkah.
Menafkahi keluarga adalah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh laki-laki. Namun di era modernisasi dan di krisis ekonomi semacam ini, tentunya tidak sedikit perempuan yang mengambil alih hal ini. Bukan hanya aktualisasi diri, namun keadaan terdesak membuat mereka ikut berjuang karena tak mungkin mengandalkan satu keran pendapatan.
Mereka tetap melakukan tugas mereka sebagai perempuan, sebagai ibu yang mendidik dan pengelola segala sesuatu di rumah. Mulai dari mencuci, memasak, membereskan rumah, menyiapkan pakaian kerja suami, menyiapkan anak sekolah dan sebagainya. Membagi-bagi anggaran untuk memenuhi kebutuhan pokok, menabung untuk darurat, kalau cukup tipis-tipis mempersiapkan jadwal berlibur, dan semua sistem manajer keuangan ada di ada di perempuan.

Jadi konten kreator, karyawan paruh waktu, menjual barang secara online, dan banyak hal yang mereka lakukan untuk ikut menopang kebutuhan ekonomi masa kini. Jadi jika banyak orang yang berkata bahwa kebijakan-kebijakan sekarang terlahir dari siapa? Saya sangat setuju bahwa salah satunya berasal dari teriakan ibu rumah tangga yang memang merekalah manusia yang pertama kali terdampak politik.
Keluarga adalah struktur masyarakat terkecil, maka perempuan lah yang akan tergoyah dan terusik pertama kali. Laki-laki mungkin bisa mengusahakan dan maksimal mencari uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ketika laki-laki sudah maksimal dan belum cukup, perempuan di rumah masih harus membagi anggaran harus menyesuaikan kebutuhan pokok dan mengikuti alur pasar.
Perempuan tidak bisa diremehkan, ibu rumah tangga bukan perempuan sembarangan. Mereka memegang peran penting dalam dunia perpolitikan, mereka harus memiliki kontrol, perempuan harus bijak dan harus cerdas sekalipun menjadi ibu rumah tangga. Peran merekalah yang menentukan tingkat kesejahteraan keluarga.
Setelah disadari, memang keluarga dengan status menengah yang sekarang tersiksa. Sejahtera belum sampai, tapi tidak terdata dalam warga penetima bantuan sosial dari program pemerintah. Para perempuan dan pasangan mereka mengorbankan banyak hal di rumah, menahan ego untuk melibatkan diri dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan bertahan di era krisis ini.
Perempuan adalah kaum yang terdampak politik di negara ini.
Mereka ikut berusaha menopang perekonomian dan andil besar di negeri ini. Berupaya dengan peran mereka masing-masing supaya keluarga terus hidup dan tak melemah meski negara tak hadir untuk itu. Mereka yang tertatih-tatih memulihkan perekonomian mereka, memulihkan keluarga mereka sendiri.
