Di banyak rumah sederhana di tanah Jawa, malam hari selalu memiliki irama yang lembut. Ketika pekerjaan rumah telah usai, lampu mulai diredupkan, dan suasana menjadi tenang, seorang ibu menggendong bayinya di dalam ayunan kain. Dengan tangan yang perlahan menggerakkan buaian, ia melantunkan tembang yang diwariskan turun-temurun:
Tak lelo, lelo, lelo ledhung
Cep menengo, ojo pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayuneTak gadhang biso urip mulyo
Dadiyo wanita utama
Ngluhurke asmane wong tuwo
Dadiyo pendhekaring bangsaWes menengo anakku sing ngganteng/ayu
Embokmu lagi nggolek panganan/menyang kali
Ngumbah popok nyangking ember
Bapakmu lagi nyambut gawe.(Sumber : Jurnal online Universitas Muhammadiyah)
Tembang ini dikenal dengan nama Tak Lelo-Lelo Ledhung, sebuah lagu pengantar tidur tradisional Jawa yang telah hidup dari generasi ke generasi. Di telinga seorang bayi, nyanyian ini mungkin hanya terdengar sebagai suara lembut yang menenangkan. Namun bagi orang dewasa, setiap baitnya mengandung doa, harapan, dan petuah yang sangat mendalam.
Bait pertama merupakan ungkapan kasih sayang dan bujukan ibu yang sederhana:
Tak lelo, lelo, lelo ledhung
Cep menengo, ojo pijer nangis
Anakku sing bagus rupane
Yen nangis ndak ilang ayune
Artinya:
Tidurlah, anakku sayang.
Diamlah, jangan terus menangis.
Anakku yang rupanya begitu elok.
Jika menangis, kecantikan dan ketampananmu akan memudar.
Kalimat ini bukan ancaman, melainkan bujukan yang lembut. Seorang ibu menenangkan anaknya dengan pujian dan kasih sayang. Ia tidak membentak, tetapi meredakan tangis dengan kata-kata yang menyejukkan hati.
Pada bait kedua, tembang ini berubah menjadi doa:
Tak gadhang biso urip mulyo
Dadiyo wanita utama
Ngluhurke asmane wong tuwo
Dadiyo pendhekaring bangsa
Artinya:
Aku berharap engkau kelak hidup mulia.
Jadilah perempuan yang utama (atau pribadi yang luhur).
Harumkan nama orang tua.
Jadilah pembela bangsa.
Di sinilah tampak betapa luasnya harapan seorang ibu. Ia tidak sekadar ingin anaknya tumbuh sehat, tetapi juga hidup bermartabat, berbudi luhur, berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi tanah air.
Jika dinyanyikan untuk anak laki-laki, maknanya tetap sama: menjadi manusia utama yang menjunjung kehormatan keluarga dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bait terakhir menghadirkan gambaran kehidupan keluarga yang sederhana:
Wes menengo anakku sing ngganteng/ayu
Embokmu lagi nggolek panganan
Ngumbah popok nyangking ember
Bapakmu lagi nyambut gawe
Artinya:
Sudahlah tenang, anakku yang tampan/cantik.
Ibumu sedang mencari makanan.
Mencuci popok sambil membawa ember.
Ayahmu sedang bekerja.
Dalam bait ini tersimpan kenyataan yang sangat menyentuh. Orang tua mungkin hidup dalam keterbatasan, tetapi mereka terus berjuang demi anaknya. Ibu bekerja tanpa lelah, ayah mencari nafkah, dan semua dilakukan dengan cinta.
Sebelum seorang anak mengenal huruf, ia telah terlebih dahulu dikenalkan pada nilai-nilai kehidupan melalui nyanyian ibunya. Dari tembang ini, anak menerima pesan bahwa:
- Ia dicintai sepenuh hati.
- Orang tuanya bekerja keras demi dirinya.
- Ia diharapkan hidup mulia.
- Ia harus berbakti kepada orang tua.
- Ia harus menjadi manusia yang berguna.
Dengan demikian, Tak Lelo-Lelo Ledhung bukan sekadar lagu pengantar tidur, tetapi juga bentuk pendidikan karakter yang paling awal dan paling lembut.
Budaya Jawa dikenal dengan cara menyampaikan nasihat secara halus. Nilai-nilai luhur tidak diajarkan dengan suara keras, tetapi ditanamkan melalui tembang, dongeng, dan ungkapan sederhana.
Tembang ini adalah contoh nyata dari kebijaksanaan tersebut. Dalam pelukan seorang ibu, seorang anak tidak hanya ditidurkan, tetapi juga diselimuti oleh doa-doa dan harapan.
Banyak orang dewasa masih merasa haru ketika mendengar tembang ini. Ia mengingatkan pada masa kecil, pada rumah sederhana, pada suara ibu yang menenangkan, dan pada cinta yang tidak pernah meminta balasan.
Suara itu mungkin kini telah lama menghilang, tetapi maknanya tetap hidup dalam hati.
