Pagi kecilku tumbuh di antara jerami dan debu senja,
telapak kaki akrab dengan lumpur yang dingin dan sabar,
aku memungut bulir-bulir padi yang tercecer dari tangan musim,
tanpa pernah tahu bahwa kemiskinan juga bisa berwajah tabah,
dan bahwa diam adalah cara paling sunyi untuk bertahan.
Usai panen aku “ngasak” berlomba dengan para burung yang tak mau pulang,
mencari sisa-sisa rezeki di balik jerami yang hampir dilupakan,
setiap bulir adalah harapan kecil yang kugenggam erat,
seperti doa ibu yang tak pernah selesai di langit petang,
mengajarkanku bahwa hidup sering tumbuh dari yang tersisa.
Siangku datang bersama pengkhianatan dan luka yang tak terlihat,
beberapa hati singgah hanya untuk meninggalkan musim kering,
namun aku tetap menunduk memungut serpih-serpih kasih,
ngasak cinta dari reruntuhan janji yang tak sempat dituai,
berharap masih ada sebutir hangat untuk menyambung jiwa.
Kini aku mengerti, yang tersisa bukan selalu pertanda kalah,
kadang justru dari sisa itulah kehidupan menemukan maknanya,
sebutir padi dapat mengenyangkan, setitik cinta dapat menyelamatkan,
dan selama tangan ini masih sanggup memungut harapan,
aku akan tetap hidup, meski hanya dari yang nyaris terlupakan.