Berada di pemukiman yang cukup padat, rumah kami ada di dalam gang. Tepatnya di belakang rumah bapak mertua. Ruang hijau yang tersisa hanyalah lahan kosong berukuran 10 tumbak di samping rumah milik kakak ipar yang katanya akan segera dibangun rumah. Semoga bisa kami beli lunas agar nanti rumah kami tidak semakin dikepung oleh bangunan.
Untuk sampai ke rumah dengan cepat, kami harus numpang lewat ke ruang tengah rumah bapak, kalau mau bersabar, harus memutar melewati tiga rumah. Padahal gangnya tepat di belakang tembok kamar kami. Selanjutnya, rumah-rumah tetangga berderet dengan gang yang semakin kecil masuk ke dalam.
Meski di sebelah rumah masih ada ruang hijau yang tersisa, itu tidak membuat udara terasa sejuk. Karena yang tumbuh hanya rerumputan dan semak belukar. Sesekali malah ada yang membuang sampah ke sana. Orang jail yang entah siapa.
Pepohonan sudah jarang tumbuh, kecuali di lahan-lahan terbuka yang jaraknya ratusan meter dari rumah. Rasanya, udara pun semakin berkurang kesegarannya.

Jarang Serangga Terlihat di Ruang Hijau yang Tersisa
Kali pertama pindah ke rumah yang sekarang sekitar tiga tahun lalu, rasanya sudah sangat jarang melihat kupu-kupu cantik dan lebah yang terbang berkeliaran. Suara tonggeret yang sering didengar di kampung halaman pun sama sekali tidak terdengar. Padahal, bagi saya yang lahir dan tumbuh di pedesaan serangga-serangga itulah yang senantiasa memunculkan ketenangan.
Kerinduan untuk melihat dan mendengarkan suara satwa di sekitar rumah itu hanya akan terobati dengan mudik ke kampung halaman di Panawangan Ciamis selama dua atau tiga hari.
Solusi yang Diciptakan Sendiri
Sering merasa gerah, merindukan udara segar, dan suara-suara alam kami berpikir untuk mencari solusi yang membuat lingkungan rumah semakin nyaman dan betah tinggal. Bersyukur, Allah memberikan kami rezeki lebih untuk memperbaiki dapur.
Ada kelebihan tanah selebar 4×2,5 meter yang kemudian kami jadikan halaman belakang sekaligus tempat jemuran yang dipasangi benteng tinggi tetapi tetap terbuka tanpa atap.
Kami ingin memiliki ruang hijau yang membuat napas lebih lega karena ketersediaan oksigen yang lebih banyak. Ruang kecil itu kami ubah menjadi ruang hijau yang rimbun. Meskipun semuanya tidak instan dan menempuh prosen yang cukup panjang dan lama.
Kami membuat vertical garden yang ditanami pakis boston dan kadaka sarang burung yang menciptakan sensasi sejuk. Tanaman itu kami bawa langsung dari hutan Panawangan ketika kami pulang kampung.
Agar lebih rimbun, kami menambahkan tanaman rambat thunbergia ungu sebagai tanaman kanopi. Tidak lupa menambahkan puluhan pot tanaman di teras depan.

Serangga Mulai Berdatangan
Kami rawat dan menyiramnya secara rutin. Perlahan halaman depan dan belakang mulai hijau dan rimbun. Udara pun terasa lebih sejuk. Bunga-bunga bermekaran, cantik dan menyejukkan mata.
Tanpa disadari, beberapa serangga mulai muncul. Kumbang yang menghisap bunga tumbergia. Belalang yang sengaja berganti kulit di daun bunga marigold, kupu-kupu kuning dan yang bersayap corak perlahan hinggap di daun dan bunga berayun.
Bukan hanya itu, ketika membersihkan rumput di antara tanaman, ulat duri (Caterpillar) pun pertama kalinya muncul setelah sekian lama tidak melihatnya. Sesekali kami mendapati bunglon dan katak pohon yang diam-diam melompat di antara rambatan thunbergia.
Sayangnya tidak semua berhasil terdokumentasikan. Lagi pula, saat semua itu ada, saya langsung larut dalam rasa bahagia, menikmati itu semua. Setelah mereka lewat, baru sadar dan bergumam, “mengapa tidak saya foto dengan kamera ponsel?”

Menciptakan Ruang Hijau Sebagai Warisan
Ruang hijau yang tersisa nampaknya semakin menipis. Kalaupun ada, tidak semua orang peduli dengan serangga atau fauna apapun yang ada di dalamnya.
Saat menemani anak menyiram tanaman, saya berkata, “Kalau sudah rimbun, nanti ada binatang datang, biarkan mereka mendekat.”
Benar saja, ketika ia melihat binatang yang jarang ditemukan bahkan baru dilihatnya, ia akan berseru, “Wah, ada binatang aneh! Unda, ini apa, kok lucu…?” teriaknya dengan antusias.
Saya berharap, ruang hijau yang kami ciptakan ini bisa kami wariskan kepada anak dan cucu. Melibatkan anak dalam proses menanam dan memelihara, diharapkan bisa menumbuhkan kecintaannya pada lingkungan.
Agar mereka bisa menjaganya dan memahami bahwa ruang hijau adalah cikal bakal terciptanya habitat dan ekosistem flora dan fauna agar tidak hanya mereka lihat di buku cerita bahlan di mesin pencarian.
____
Terima kasih sudah membaca. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Ruang Pena.
