Persib berisi tentang Bandung, loyalitas, harmoni dan harga diri. Bagi warga Jawa Barat Persib adalah nyawa, selain itu Maung Bandung adalah panggilan jiwa. Persib bukan hanya milik warga Bandung, tetapi warga Jawa Barat dan seluruh penggemar sepak bola di penjuru tanah air.
Beberapa minggu terakhir, masyarakat Indonesia pecinta sepak bola di liga 1 tentunya mengetahui dan paham betul apa yang yang sedang terjadi. Banyak penggorengan informasi di media sosial soal rivalitas dua klub raksasa di Indonesia yakni Persib dan Persija. Banyak berita yang membahas soal statistika permainan, klasemen, hingga olok-olok antar supporter yang tidak ada habisnya.
Saya sebagai penulis, secara pribadi dan sebagai warga Jawa Barat, tentunya melihat Persib sebagai sesuatu yang layak dibanggakan dan disyukuri. Saya seorang ibu rumah tangga tidak begitu mengerti soal bola, tapi sedikit banyak saya memperhatikan gejolak di sosial media, pola pemain profesional di lapangan, dan banyak lagi hal personal lainnya. Tak ada pengaruh dan intimidasi dari mana-mana, saya memang mencintai Persib sebagaimana dicintai oleh warga di Jawa Barat.
Saya melihat banyak sisi yang sangat istimewa di dalam klub besar kebanggaan Jawa Barat ini. Dalam beberapa pengamatan riset internet yang saya lakukan, kemenangan sampai saat ini dinilai oleh netizen sebagai keberhasilan kepemimpinan kapten Klok, racikan taktik dari Bojan Hodak, dan keberhasilan manajemen atas lancarnya dukungan fasilitas finansial. Persib bagi warga Jawa Barat bukan hanya sekedar kegemaran menonton bola, tapi menjadi satu panggilan jiwa yang tidak bisa disederhanakan dan diterjemahkan oleh kata-kata.
Kita lihat ada fenomena yang sangat menggetarkan hati, yakni momen dipanggilnya seorang penjual awug yang merayakan kemenangan Persib. Bobotoh bernama Giri yang berprofesi sebagai penjual jajanan pasar membagikan secara cuma-cuma dagangannya untuk merayakan kemenangan atas pertandingan melawan Bhayangkara FC waktu itu. Giri menambahkan label pada barang dagangan yang ia jual dengan kalimat syukuran atas kemenangan Persib.

Pedagang ini tidak memikirkan untung rugi, yang penting nazar yang ia ucapkan benar-benar terealisasi demi klub yang ia cintai dan banggakan. Berkat fenomena itu, Giri berkesempatan untuk memboyong keluarganya berangkat ke GBLA atas undangan dari Persib sendiri. Hal itu benar-benar membuat saya merinding dan takjub mendengarnya, Persib hadir dengan menunjukan bahwa mereka dekat dengan masyarakat dan memang ada di hati masyarakat.
Kolaborasi antara pemain, jajaran manajemen dan Bobotoh adalah harmoni yang sangat luar biasa. Mungkin di klub lain pun berlaku demikian, mereka dekat dengan supporter dan mengapresiasi banyak hal dari penggemarnya. Tetapi saya melihat fenomena ini di Jawa Barat dan melihat sejauh mana efek dukungan, cinta dan loyalitas Bobotoh.
Sebagai seorang perempuan, saya tidak terlalu dalam memahami dunia sepak bola, taktik dan model-model serangan ataupun bertahan. Namun saya kerap mendengar bahwa Persib sendiri selalu mendengarkan banyak masukan mengenai apa yang diinginkan Bobotoh. Mengenai pengaturan manajemen komposisi pemain, dan hal-hal lain dalam klub yang perlu dibenahi.
Bobotoh adalah pendukung sepak bola yang terkenal dengan loyalitas penonton dan militansinya yang sangat luar biasa, hal ini pula berimbas pada kekuatan dan pembangunan sistem finansial klub. Kabarnya dalam sirkulasi bisnis, penjualan jersey menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh Bobotoh. Meski harganya jutaan dan dianggap berharga fantastis, namun penggemar tetap mengantre demi mendapatkannya.
Nama dan riwayat prestasi menjadi daya tarik untuk para penggemar sebab apapun dari Persib akan dianggap bernilai, bersejarah, ikonik, dan kebanggan tersendiri ketika memilikinya. Penjualan tiket dan merchandise menjadi perburuan besar-besaran bagi Bobotoh, mereka bisa bersaing untuk mendapatkannya. Aksi- aksi semacam ini bisa berkontribusi untuk kemajuan tim dalam hal finansial.
Persib semakin terstruktur, lebih baik dan semakin menonjol dengan pembelian pemain asing yang katanya semakin edan-edanan tentunya memuaskan harapan dan mimpi Bobotoh untuk klub kesayangan mereka. Loyalitas pendukung, dibayar oleh Persib untuk bobotoh dengan segala sesuatu yang nyaris sempurna. Komposisi pemain, latihan, dan interaksi dengan supporter menjadi hal yang mahal dalam ikatan yang intim semacam itu.
Betapa dekatnya pemain dengan penonton dan penggemar, dan bahkan di Jawa Barat sendiri mungkin pemain bola lebih populer daripada artis. Saat banyak laki-laki yang menggemari sepak bola dan menyukai taktik, kecerdasan dan kepiawaiannya dalam bermain, banyak pula perempuan muda dan ibu-ibu yang turut menggemari dan memperhatikan pemain. Boleh jadi hal ini juga yang membuat jumlah Bobotoh sebagai penggemar semakin menggila dan membludak jumlahnya. Jika orang-orang mengidolakan Tom Haye yang dijuluki sebagai Profesor atas taktiknya yang selalu cerdas saat mengamati lawan, maka bobotoh perempuan akan melihat Tom sebagai pria berwibawa dan kharismatik.
Lalu ada Ramon Tanque, yang diidolakan karena daya gedor yang cukup membuat pertahanan lawan terobrak-abrik. Maka boleh jadi di mata Bobotoh yang lain, Ramon ini memiliki paras rupawan, jual mahal, penuh pesona, dan selalu ikonik saat bermain di lapangan. Saya pun sebagai perempuan yang kurang mengerti sepak bola, tapi kalau Persib menang ataupun kalah, hati saya juga ikut terguncang.
Bobotoh menganggap bahwa Persib bukan hanya sekadar klub bola dan identitas daerah, Persib adalah warisan dan budaya turun temurun. Banyak yang menceritakan bahwa kehidupannya mengenal stadion adalah hal dekat dengan hatinya. Karena orang tuanya dulu sering mengajak anak-anak ke stadion, maka hari ini ia membawa istri dan anaknya masuk stadion untuk menyaksikan Pangeran Biru berlaga.
Suatu saat nanti anaknya akan membawa anak dan cucunya juga untuk menonton Persib. Saya bangga menjadi warga Jawa Barat, karena saya juga menjadi bagiannya. Perasaan aneh itu datang saat saya duduk di bangku sekolah dasar, tidak tahu apa-apa tapi tiba-tiba jatuh cinta pada Persib sampai seterusnya.
