Pernahkah kamu merasakan ini? Berada di dekat seseorang, dan tiba-tiba dunia terasa lebih tenang. Obrolan mengalir tanpa dipaksa. Diam pun tidak terasa canggung. Dan entah mengapa, hati seperti berbisik, “aku kenal kamu… meski baru saja bertemu.”Aneh, ya? Apakah ini sebuah kebetulan? Atau ….
Saya baru saja mengalaminya. Beberapa waktu lalu, Allah takdirkan saya bertemu dengan seseorang yang sudah lama saya tahu namanya. Beberapa tulisannya saya baca, bahkan ada yang bikin saya benar-benar penasaran: Novel karyanya yang berjudul Handaru.
Namanya Diantika IE, seorang penulis yang saya tahu dari unggahan mahasiswa yang mengundangnya untuk menjadi pembicara. Saya pun berinisiatif untuk mengikutinya di media sosial, sekadar mengintip karya dan poatingannya sesekali.
Meski sedikit malu mengakuinya, Diantika IE bisa dibilang beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu idola saya karena tulisan-tulisannya menurut saya sangat keren.
Saya sadar, saya masih sangat harus banyak belajar di dunia kepenulisan, terutama menulis fiksi. Karena itu, saya menyukai Diantika IE sebagai penyemangat untuk saya terus belajar berkarya.
Jujur, tidak pernah terbersit sedikitpun akan berkenalan bahkan bertemu dengannya. Dalam pikiran saya “ia asing, jauh dan kami tidak saling mengenal” rasanya hanya angan-angan dapat berjumpa. Namun takdir membawa kami pada satu perjumpaan “Bimtek Kepenulisan Kabupaten Bandung 2026.”
Wow, Ma sya Allah ternyata Diantika IE masih mau mengikuti Bimtek. Padahal saya tahu, ia biasa beliau mengisi sebagai pemateri di seminar kepenulisan. Nyatanya nama dia ada di daftar nama peserta berderet di antara 75 nama lainnya, termasuk saya.
Tentu saja bagi saya, ini adalah rezeki yang sangat besar. Terbayang sudah, saya yang pemula ini bisa bertemu dan dibimbing langsung oleh beliau.
Singkat cerita, saya dan Diantika IE bisa terhubung. Bahkan duduk di kursi yang bersebelahan. Kami bicara, mengobrol, akrab, seperti sudah belasan tahun bersahabat dekat.
Diantika yang dulu asing, tiba-tiba lebur menjadi seseorang yang amat dekat. Selama tiga hari kami mengikuti bimtek rasaya saya lupa bahwa kami adalah orang asing sebelumnya.
Kejadian yang saya alami ini menyadarkan saya, bahwa di dunia yang penuh wajah asing, justru ada satu dua orang yang terasa begitu dekat, bukan karena waktu yang lama, tapi karena rasa yang dalam. Dan kita sering menenangkan diri dengan satu kata sederhana: “Sebuah kebetulan.” Padahal, mungkin itu bukan kebetulan sama sekali.
Dalam sebuah Hadits Riwayat Bukhari Muslim disebutkan, “Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang terhimpun dalam kesatuan. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu, dan yang saling merasa asing di antara mereka akan menjauh.”
Yang saling mengenal akan bersatu, dan yang berbeda, akan menjauh.
Kalimat ini terdengar sederhana. Akan tetapi jika direnungkan, ia seperti membuka rahasia besar tentang pertemuan manusia.
Bahwa jauh sebelum kita bertatap muka, sebelum nama kita saling disebut, bahkan sebelum kita hidup di dunia—ruh kita mungkin sudah pernah “berkenalan.”
Itulah alasan mengapa ada orang yang baru kita kenal satu hari, tapi terasa seperti sudah puluhan tahun. Ada pula yang sudah lama bersama, tetapi hatinya tetap terasa jauh, dingin, dan asing.
Bukan karena salah siapa-siapa. Akan tetapi karena tidak semua ruh diciptakan untuk saling mengenali.
Kita ini, diam-diam, sedang berjalan membawa “frekuensi jiwa” dari apa yang kita cintai, apa yang kita pikirkan, apa yang kita biasakan, dan apa yang diam-diam kita perjuangkan dalam hati. Lalu tanpa kita sadari, kita saling menemukan.
Orang yang mencintai kebaikan, akan merasa teduh di dekat orang-orang yang juga mencintai kebaikan. Orang yang hatinya penuh luka, akan mencari jiwa lain yang mampu memahami tanpa banyak kata. Dan orang yang tenggelam dalam kegelapan, seringkali justru merasa “pulang” di tempat yang sama gelapnya. Sejatinya, jiwa tidak pernah salah memilih tempat pulangnya.
Di titik ini, kita mungkin mulai tersentak, berarti orang-orang yang saat ini ada di sekitar kita, bukan hanya “teman” atau “kenalan biasa.” Mereka adalah cerminan dari siapa kita, cerminan dari apa yang kita cintai dan cerminan dari arah hidup yang sedang kita tempuh.
Satu hal yang seharusnya kita sadari adalah, jika kita merasa nyaman di lingkungan yang menjauhkan dari kebaikan, maka mungkin ada sesuatu dalam diri kita yang sedang ikut menjauh. Namun jika hati kita terasa hidup saat bersama orang-orang saleh, mungkin itu tanda bahwa ruh kita sedang berusaha pulang.
Lalu datanglah satu hadits yang membuat hati semakin bergetar: “Seseorang akan bersama dengan siapa yang ia cintai.”
Bukan hanya hari ini, bukan hanya di dunia. Akan tetapi nanti di tempat yang tidak ada lagi perpisahan.
Bayangka, andai hari ini kita mencintai kebaikan—kita akan bersama kebaikan. Jika hari ini kita mencintai kegelapan—kita pun akan dikumpulkan di sana.
Pertemanan, pergaulan, bahkan rasa nyaman bukan lagi hal sepele. Ia menjadi arah.
Hm, soal pertemuan, mungkin benar, tidak ada yang benar-benar acak. Kareja setiap perjumpaan adalah jawaban—dari doa yang pernah kita panjatkan. Atau bisa saja ia adalah ujian yang tidak kita sadari sedang kita butuhkan.
Bahkan sering terjadi bukan? Ada seseorang datang untuk menguatkan. Ada yang datang untuk menyadarkan. Ada pula yang hadir hanya untuk mengajarkan, lalu pergi. Namun semua itu idak pernah sia-sia.
Suatu ketika mungkin tanpa sadar, kamu berkata: “kenapa ya aku cocok sekali dengan dia?” “kenapa ngobrol dengannya selalu nyambung?” atau, “kenapa bersamanya aku bisa jadi diri sendiri?”
Mungkin jawabannya bukan sekadar cocok, melainkan karena ruh kalian sedang saling mengenali. Lantas, ketika kamu merasa,
“ini bukan kebetulan,” percayalah—mungkin itu memang takdir yang sedang bekerja diam-diam.
Jadi, jika hari ini kamu dipertemukan dengan orang-orang baik yang membuatmu ingin berubah, ingin tumbuh, ingin lebih dekat kepada Allah—jangan anggap itu biasa. Itu adalah tanda bahwa ruhmu sedang diarahkan.
Sebaliknya, jika kamu merasa belum menemukan “orang-orang sefrekuensi” jangan buru-buru menyalahkan dunia. Kafena bisa jadi yang perlu kamu temukan terlebih dahulu adalah dirimu sendiri.
Dsri sekarang, mulailah memperbaiki hati, membenahi niat, menguatkan dan mendekatkan langkah pada kebaikan. Ruh yang baik tidak akan tersesat. Ia hanya sedang berjalan, menuju mereka yang telah ditakdirkan untuk saling mengenali.
Ketika hari itu tiba—kamu tidak akan lagi bertanya, “ini kebetulan atau bukan?” Karena hatimu sudah lebih dulu tahu jawabannya.
____
Terima kasih sudah membaca. Temukan artikel lainnya di Ruang Pena.
