“Surat dari Zaman yang Retak : Kepada Kartini, Cahaya yang Tak Pernah Padam”
Bismillah.
Kepada Raden Ajeng Kartini, di ruang sunyi yang mungkin masih menyimpan gema doa-doamu, aku menulis surat ini dari zaman yang katanya telah terang, namun di sela-selanya masih terasa remang. Namamu tetap kami sebut dengan khidmat, hadir dalam buku, upacara, dan ingatan kolektif bangsa, tetapi izinkan aku berkata jujur—ada sesuatu yang perlahan retak di balik semua penghormatan itu.
Dulu, engkau berjuang melawan sunyi yang mengekang, melawan tembok adat yang membungkam perempuan, melawan gelapnya ketidaktahuan yang mengurung pikiran. Engkau menyalakan cahaya dari dalam dirimu sendiri, hingga dunia tak lagi bisa berpura-pura buta. Perjuanganmu adalah tentang membuka jendela, agar udara pengetahuan masuk dan menghidupkan jiwa-jiwa yang lama terpenjara.
Kini, Kartini, perempuan telah berjalan ke sekolah, menulis gagasan, menyuarakan pendapat, bahkan memimpin langkah banyak orang. Pintu-pintu yang dahulu terkunci kini telah terbuka lebar. Namun di balik kebebasan itu, muncul bayang-bayang baru yang tak kalah menyesakkan. Perempuan masa kini tidak lagi dipingit oleh tradisi, tetapi sering terkurung dalam penilaian yang kejam dan tak berkesudahan.
Kami berjuang, Kartini—bukan lagi untuk sekadar belajar, melainkan untuk tetap tegak di tengah ejekan yang meruntuhkan harga diri. Kami tidak lagi dibungkam oleh adat, tetapi dipatahkan oleh kata-kata yang dilontarkan tanpa empati. Di dunia yang mengaku maju ini, perundungan menjadi penjajah baru—tak terlihat, namun melukai; tak berdarah, namun meninggalkan luka yang dalam.

Anak-anak bangsa yang seharusnya tumbuh dalam kasih dan adab justru saling menjatuhkan dalam ucapan dan sikap. Seakan kecerdasan yang dahulu engkau perjuangkan belum sepenuhnya menjelma menjadi kebijaksanaan. Ilmu berkembang, tetapi hati kerap tertinggal.
Kartini, andai engkau melihat kami kini, mungkin engkau akan tersenyum karena perempuan telah melangkah jauh. Namun mungkin pula engkau akan menitikkan air mata, sebab perjuangan itu belum selesai. Kami tidak lagi sekadar meminta hak untuk belajar, tetapi memohon ruang untuk dihargai sebagai manusia.
Melalui surat ini, aku ingin bertanya padamu, wahai pelita zaman: bagaimana kami menjaga cahaya ini agar tidak redup oleh kerasnya dunia? Ajarkan kami kembali tentang keberanian yang berpadu dengan kelembutan, tentang kecerdasan yang disertai adab. Karena hari ini, perjuangan bukan hanya membuka pintu, melainkan menjaga agar manusia tetap manusia di tengah dunia yang perlahan kehilangan rasa.
Wassalam.
Dari generasi yang masih belajar memahami arti merdeka,
surat ini kutitipkan dengan rindu dan harap, semoga cahayamu tetap menuntun langkah kami,
meski zaman telah berubah arah.
