Di atas sebuah piring makan, sering kali ada beberapa butir nasi yang tertinggal. Ada yang menempel di pinggir piring, ada yang jatuh ke meja, bahkan ada yang langsung dibuang bersama sisa makanan lainnya. Jumlahnya mungkin hanya sedikit. Hanya sebutir, dua butir, atau segenggam kecil nasi yang dianggap tak berarti.
Namun bagi saya, setiap kali melihat nasi yang terbuang sia-sia, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di kampung. Dulu, ketika waktu makan tiba, simbok selalu berpesan:
“Makane kudu dientekke. Yen ora dientekke, upone nangis.”
“Makannya harus dihabiskan. Kalau tidak dihabiskan, uponya nanti menangis.”
Sebagai anak kecil, saya sungguh mempercayai perkataan itu. Saya membayangkan butiran nasi yang tersisa di piring benar-benar bisa menangis karena tidak dimakan. Karena takut membuat upo menangis, saya berusaha menghabiskan makanan sampai butir terakhir.
Setelah dewasa, saya baru memahami bahwa simbok tidak sedang mengajarkan dongeng. Beliau sedang menanamkan nilai kehidupan yang sangat berharga: menghargai makanan dan hidup hemat.
Dalam bahasa Jawa, upo berarti butiran nasi yang tercecer atau tersisa. Kata yang sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang besar. Simbok ingin mengajarkan bahwa makanan tidak datang begitu saja ke atas piring.
Untuk menjadi sebutir nasi, perjalanan yang ditempuh sangat panjang. Ia berawal dari benih yang ditanam petani di sawah. Petani harus membajak tanah, menanam bibit, mengairi sawah, menyiangi rumput, menjaga tanaman dari hama, lalu menunggu berbulan-bulan hingga padi menguning. Setelah panen, padi harus dijemur, digiling menjadi beras, dijual ke pasar, dimasak dengan air dan api, lalu akhirnya tersaji di hadapan kita.

Gambar perjalanan padi menjadi nasi ( sumber : AI )
Betapa panjang perjalanan sebutir nasi. Karena itu, setiap kali melihat makanan terbuang, hati saya terasa miris.
Hari ini, pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak melalui berbagai program pemberian makanan bergizi. Tujuannya sangat mulia: agar anak-anak tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Namun di beberapa tempat, masih terlihat makanan yang tidak dihabiskan. Ada yang hanya dimakan sedikit, ada yang dibiarkan begitu saja, bahkan ada yang dibuang.
Padahal di luar sana masih banyak orang yang harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan sepiring nasi. Masih ada petani yang bercucuran keringat di bawah terik matahari. Masih ada keluarga yang harus menghitung uang sebelum membeli beras.
Maka sesungguhnya menghargai makanan bukan hanya soal etika makan. Ia adalah bentuk penghormatan kepada kerja keras banyak orang. Islam pun mengajarkan agar manusia tidak berlebihan dan tidak menyia-nyiakan nikmat yang diberikan Allah. Allah berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Membuang makanan yang masih layak dimakan merupakan salah satu bentuk pemborosan yang tidak disukai Allah. Dalam ayat lain Allah berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27)
Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan untuk menghargai makanan hingga butiran terakhir. Beliau bersabda:
إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ
“Apabila suapan salah seorang di antara kalian jatuh, hendaklah ia membersihkan kotoran yang menempel padanya lalu memakannya dan jangan membiarkannya untuk setan.” (HR. Muslim)
Betapa Islam mengajarkan penghormatan terhadap makanan. Bahkan sepotong makanan yang jatuh pun tidak boleh diremehkan.
Kini saya mengerti bahwa pesan simbok tentang “upo yang menangis” bukanlah cerita untuk menakut-nakuti anak kecil. Itu adalah cara sederhana orang tua kampung mengajarkan rasa syukur.
Mereka mungkin tidak mengenal istilah pendidikan karakter. Mereka tidak membaca buku-buku psikologi modern. Tetapi mereka memahami bahwa menghargai makanan berarti menghargai nikmat Allah.
Mungkin hari ini kita tidak lagi percaya bahwa upo benar-benar menangis. Namun barangkali yang sesungguhnya menangis adalah para petani yang hasil jerih payahnya terbuang sia-sia. Yang menangis adalah rasa syukur yang perlahan hilang dari hati manusia. Dan yang paling menyedihkan, yang menangis adalah nurani kita sendiri ketika tidak lagi mampu menghargai nikmat yang begitu mudah kita peroleh.
Karena itu, setiap kali melihat sebutir nasi tertinggal di piring, saya selalu teringat suara simbok dari masa kecil:
“Makane kudu dientekke. Yen ora dientekke, upone nangis.”
Sebuah nasihat sederhana dari kampung yang ternyata mengandung kebijaksanaan yang sangat dalam: menghormati rezeki, hidup secukupnya, dan mensyukuri setiap nikmat yang Allah titipkan kepada kita.
